
“Dia nggak pantas meng a- judge mama seperti itu!” geram Richard, kedua bahunya naik turun dengan cepat, seiring dengan deru napas kasarnya. “Cepat jalan dan berhenti di pos satpam!” titahnya segera dijalankan oleh Delon.
Mobil mereka berhenti di pos satpam, Richard segera turun dan menemui salah satu penjaga. “Paman, seret wanita itu sekarang juga. Jangan pernah biarkan masuk. Pasti gara-gara dia kondisi kakek sempat drop kemarin,” ujar Richard penuh emosi menatap tajam pada tamu tak diundangnya.
“Diusir, Tuan?” tanya satpam itu memastikan.
“Ya! Jangan pernah bukakan gerbang untuk wanita itu lagi jika aku tidak di rumah!” tegasnya lagi kembali masuk ke mobil.
Sepeninggalnya Richard, dua satpam rumah segera berlari mengejar wanita yang tengah berjalan dengan angkuh.
“Maaf, Nona Claudya. Atas perintah Tuan Richard, Anda harus meninggalkan rumah ini,” ucap satpam yang kini mencekal tangan di kedua sisinya.
“Heh, Babu! Aku juga berhak masuk rumah ini. Kenapa anak haram itu sok mengaturnya. Aku juga mau menjenguk kakek!” teriak Claudya menepis tangan mereka. Tetapi, tenaganya tentu tidak seberapa. Ia tidak akan bisa melawan dua pria kekar penjaga rumah itu. “Lepaskan aku!” pekiknya sekali lagi.
Apa daya, langkah Claudya terseok karena diseret oleh kedua satpam itu lalu benar-benar menguncinya di luar gerbang. Bahkan mobil yang ia kendarai, masih terparkir gagah di pelataran rumah. Mereka tak peduli dengan Claudya yang mengamuk, berteriak histeris di luar sana.
__ADS_1
\=\=\=ooo\=\=\=
Detik demi detik terus berjalan, jarum jam terus berputar, hingga kini menunjukkan pukul 10.30 waktu setempat. Velyn mulai mengerjapkan mata sembari menekan kepala yang masih terasa berat.
Ia terperanjat karena tersadar berada di kamar yang asing baginya. Rasa takut menyergapnya apalagi teringat ia berpijak di negara orang. “Ah Richard!” panggilnya saat Velyn berhasil menarik seluruh kesadarannya. Wanita itu menurunkan kedua kakinya, tak sengaja menatap nampan makanan dan minuman serta beberapa butir obat.
Velyn meraih sepucuk surat yang terselip di antaranya. Dibuka lembaran itu, membacanya dengan perlahan.
“Velyn, aku kerja dulu. Tolong kalau sudah bangun segera makan dan minum obatnya. Aku akan segera pulang.” ~Richard
Pias di wajahnya sedikit memudar, ia beranjak dari ranjang, berjalan menyisir setiap bingkai foto di atas nakas. Ada foto-foto masa kecil Richard, masa muda bersama teman-temannya. Velyn meraih salah satunya, di mana ada ayah, ibu, serta kakek Richard yang sedang memperlihatkan senyum merekah.
DEG!
“Bukankah ini Tuan Alex Dirgantara? Jadi apa benar dugaanku, kalau Richard....” Velyn menutup mulutnya yang menganga. Ia sempat bertemu dengan Kakek Alex beberapa tahun silam saat menjalin kerja sama. Bibirnya bergetar, tubuhnya terduduk di tepi ranjang sambil menggenggam bingkai foto itu erat-erat.
__ADS_1
Wanita itu bergegas keluar kamar, ingin lebih memastikan lagi. Velyn kebingungan, karena sama sekali belum pernah berpijak di rumah besar nan mewah itu. Kakinya melangkah dengan sangat pelan, ingin mencari seseorang yang bisa ia interogasi. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah suara terdengar di balik punggungnya.
“Hei! Siapa kamu?” pekik seseorang dengan suara seraknya.
Velyn menelan salivanya gugup. Ia yakin itu adalah suara Kakek Alex. Jantungnya semakin bertalu begitu kuat. Ingin rasanya ia tenggelam di perut bumi saja. Apalagi, saat ini tidak ada Richard. “Aku harus gimana?” gumamnya diserang panik. Sampai-sampai tidak berani berbalik.
“Kau tuli apa? Tidak sopan sekali mengabaikan orang tua berbicara!” teriaknya lagi.
Suara dentuman tongkat pada marmer semakin mendekat. Tubuh Velyn semakin tegang, ia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya mampu mematung, sembari meremas ujung-ujung gaunnya.
Bersambung~
__ADS_1
Nah lho. Velyn ... hayoloh 😝