
Richad mengerutkan kening kala melirik istrinya yang terpancing emosi. Padahal biasanya hal yang tidak penting seperti itu biasanya hanya dianggap angin lalu saja.
Namun, kali ini berbeda. Velyn tampak mencengkeram kuat garpu di tangannya. Deru napas wanita itu pun berembus tak beraturan. Apalagi lirikan matanya seperti anak panah yang siap melesak jauh menghunus lawan bicaranya.
Richad membelai punggung wanitanya, berharap bisa memberikan sedikit kesabaran. “Jangan dengerin,” bisiknya.
Kilat tajam dari maniknya, beralih pada Richard. Melihat hal itu, Richad menelan salivanya gugup.
“Eee... iya, kali ini bakal aku sapu bersih semuanya. Makanlah lagi.” Richad segera merevisi kalimatnya.
Tanpa berucap apa pun, Velyn kembali melahap cake yang ada di hadapannya. Kemudian kembali fokus ke depan, di mana MC sudah mulai membuka harga pada salah satu perhiasan yang telah dilelang.
“Baik, kami buka untuk accesoris rambut yang didatangkan dari negara Inggris. Pernah dikenakan oleh Ratu Lizbeth, sang penguasa monarki. Kita mulai dari harga satu juta dollar. Silakan!” ucap pembawa acara setelah beberapa saat yang lalu telah berbasa basi.
“Dua juta dollar!”
“Tiga juta dollar!”
“3,5 juta dollar!”
Satu per satu para tamu mulai mengangkat tangan sembari menyerukan setiap harga yang akan mereka bayar.
“Kamu mau?” tanya Richard.
“Enggak! Buat apa mahkota kayak gitu? Cosplay jadi Ratu Lizbeth gitu?” ucap Velyn dengan nada ketus.
Tidak tahu saja Richard, bahwa Velyn begitu kesal karena suaminya itu menolong Rihana agar bisa masuk ke acara tersebut. Andai saja tidak dibantu masuk, pasti ia tidak akan mendengar hal-hal yang menyinggungnya.
“Hmm... baiklah, tidak untuk yang ini,” tutur Richad menyandarkan punggungnya sembari menghela napas panjang.
Barang berikutnya adalah jam tangan mewah, karya dari seorang desainer ternama dari Jerman.
Richad kembali menawarkan pada istrinya. Akan tetapi, jawabannya masih sama, menolak dengan ketusnya.
Rihana dan teman-temannya menatap pasangan itu dengan remah. Mereka juga sesekali menyindir, kalau Richard dan Velyn hanya omong kosong saja.
__ADS_1
Sampai beberapa barang mewah itu sudah jatuh ke tangan pemiliknya yang baru. Tibalah satu set perhiasan yang diidamkan oleh Velyn mulai dibuka.
“Yang ini harus dapat! Aku nggak mau tahu!” cetus Velyn menoleh pada suaminya.
“Oke.” Richad memperhatikan dengan seksama. Ia diam, melipat kedua lengannya di dada.
“Cih! Perasaan tadi denger ada yang ngomong mau borong semua perhiasannya. Gaya doang elit, tapi isi dompet sulit!” cetus Rihana diiringi gelak tawa bersama rekan-rekannya.
Richard bergeming, jari jemarinya mengetuk meja dengan perlahan. Perhatiannya terus mengarah ke depan. Kemudian menegakkan duduknya.
Sedangkan Velyn duduk dalam gelisah. Ia kesal dengan suaminya yang terlihat santai. Salah satu kakinya bergerak menendang-nendang betis sang suami. “Iih Richard!” kesal Velyn merasa kupingnya panas, mendengar cemooh Rihana sedari tadi.
“Baiklah, satu set perhiasan limited edition ini akan segera jatuh ke tangan tuannya. 25 juta dollar penawaran tertinggi dari Tuan Theo. Kita hitung mundur sama-sama. Lima, empat, tiga, dua....”
“50 juta dollar!” teriak Richard berdiri tegap sembari mengibaskan jas mewahnya.
Semua perhatian langsung tertuju pada Richard. Mereka tercengang, lalu saling berbisik satu sama lain. Lebih tepatnya tak percaya. Banyak juga yang menertawakannya.
“Owh! Amazing. 50 juta dollar, atas nama siapa, Tuan?” tanya pembawa acara.
“Wow, romantis sekali. Baiklah, penawaran tertinggi saat ini jatuh pada Nyonya Evelyn Narendra. Satu set perhiasan limited edition sebesar 50 juta dollar. Kita hitung mundur sekali lagi. Lima, empat, tiga, dua, satu! Deal!”
“Dicek dulu, dibayar apa nggak? Jangan-jangan ditipu lagi. Atau ngutang dulu!” pekik salah seorang tamu yang menjadi bahan tertawa semua orang.
Velyn mendengkus sebal, wajahnya memerah karena menjadi pusat perhatian. Meski ia yakin suaminya bahkan bisa membeli seluruh perhiasan maupun accessoris dalam lelang tersebut.
Richard segera menelepon Delon, “Berikan cek 50 juta dollar sekarang juga. Pastikan juga surat jual belinya! Lalu bawa ke mejaku!” titah lelaki itu.
“Baik, Tuan!”
\=\=°\=\=
Acara kembali dilanjutkan dengan hiburan dari band-band ternama. Disambung dengan fashion show. Velyn sama sekali tak peduli. Ia fokus mencicipi berbagai makanan yang terhidang. Richard setia membuntuti dan membawakan beberapa piring di tangannya.
“Haha! Yakin bisa bayar, Vel?” sindir salah satu temannya sembari tertawa.
__ADS_1
“Lihat saja!” ucap Velyn menoleh ke arah layar yang ah transaksi jual beli perhiasan. Lengkap beserta cek yang dikeluarkan Richard sebagai bukti pembayaran yang sah.
“Dirgantara Corp? What?!” pekik para wanita yang sedari tadi terus mengejek Velyn maupun Richard. Termasuk Rihana, juga sama terkejutnya.
“Tunggu tunggu! Ini mata gue yang siwer apa gimana ya?” Rihana mengucek kedua matanya yang ditanam bulu mata palsu. Sampai terasa pedih, kembali menyipitkan mata untuk melihat layar besar di hadapan mereka.
Velyn sengaja menabrak bahu Rihana dengan keras, menoleh pada wanita itu dengan tatapan sinis. “Mata kamu nggak salah. Pikiran dan hati kamu tuh yang kurang se ons!” ketusnya lalu melenggang pergi.
Richard tersenyum, mengangguk pada deretan wanita di sampingnya lalu bergegas mengikuti sang istri. Namun, keningnya mengernyit ketika wanita itu meletakkan makanan di meja dan meninggalkannya begitu saja.
“Lho, Sayang. Mau ke mana?” panggil Richard mempercepat langkah, karena Velyn berlari dengan sepatu hak tingginya.
Rihana buru-buru menarik kesadarannya, “Dirgantara? Richard Dirgantara? Oh yaampun! Dia idolaku selama ini!” gumamnya berlari mengejar Richard.
“Cad, tunggu!” panggilnya berhasil menyentuh lengan Richard, hingga menghentikan langkahnya.
Velyn yang juga mendengar kini berhenti, ia membalik badan dan melihat wanita lain menyentuh lengan suaminya.
“Lepas!” titah Richard tegas.
“Enggak, tunggu sebentar, Cad. Eh, Tuan Dirgantara. Ee saya ingin eee....”
Richard berusaha melepas cengkeraman tangan Rihana, hingga Velyn menghampiri lalu memukul keras lengan wanita itu. “Genit banget sih jadi cewek! Enggak inget apa yang kamu katakan tadi? Kamu hina dina suami aku loh beberapa menit yang lalu loh. Kamu jilat ludah sendiri dan.... Hmmmp!” Velyn mendelik sembari menutup mulutnya.
“Sayang?” panggil Richard khawatir.
Tak lama kemudian, Velyn memuntahkan isi perutnya, tepat di hadapan Rihana. Mengenai sedikit gaun dan sepatunya.
“Velyn! Ini menjijikkan!” pekik Rihana.
“Jangan bentak istri saya!” sentak Richard balik pada Rihana.
__ADS_1
Bersambung~