SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 61 : TIDAK INGIN BEREKSPEKTASI


__ADS_3

“Sudah ya ngomelnya.” Richard menarik diri setelah beberapa saat. Ia tersenyum sembari menyeka bibir Velyn yang basah dan sedikit membengkak.


Velyn mendorong dada suaminya, matanya melirik sekeliling. Takut jika ada yang melihatnya, “Nggak tahu tempat!” cetusnya menutup bibir lalu memasang sabuk pengaman.


“Tapi kamu suka ‘kan?” sahut Richard terkekeh.


Tidak menjawab apa pun, Velyn hanya menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangan dari sang suami. Bohong jika dia mengatakan tidak menikmatinya. Ia hanya malu sekaligus gengsi mengatakannya.


Richard terkekeh, mengacak rambut Velyn sebelum akhirnya bergegas menuju balik kemudi. Sesuai keinginan Velyn, ia bertolak menuju rumah sakit lain demi memastikan keyakinannya benar adanya.


Hati lelaki itu berbunga sedari tadi. Ia bahkan menyetir sambil bersiul sepanjang jalan.


Berbeda dengan Velyn yang was was, mencengkeram tas yang ia kenakan sedari tadi. Pandangannya pun beralih keluar. Ia tidak ingin terlalu berekspektasi berlebihan. Takut kecewa jika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya. Meski begitu, dadanya berdetak kencang. Pikirannya berkecamuk, menerka-nerka apakah tebakan sang suami benar atau tidak.


“Sayang, kamu masih marah?” tanya Richard, salah satu tangannya meraih jemari lentik Velyn. Digenggamnya erat-erat dan dibawa ke atas paha.


Menyadari istrinya diam sedari tadi, membuat Richard langsung tanggap. Velyn akan diam seribu bahasa, jika tengah marah ataupun kecewa.

__ADS_1


“Velyn?” panggil Richard lagi karena tak mendengar balasan.


“Enggak,” sahut Velyn mendesah kasar.


“Lalu kenapa diam?”


Pandangan Velyn kini beralih ke samping, menatap sang suami yang tampak begitu antusias. “Bagaimana jika tebakanmu salah, Cad? Apa kamu akan kecewa?”


“Tidak! Ya berarti harus usaha lebih keras lagi!” cetus Richard menanggapi dengan santai.


“Jangan dijadikan beban.”


Raut wajah Velyn mendadak sendu. Banyak hal yang ia pikirkan sepulang dari negara sang suami. Selain wanita masa lalu Richard, keluarga lelaki itu juga turut memenuhi pikiran Velyn. Ia takut kehadirannya justru akan mempersulit keadaan.


“Astaga! Kenapa Kakek mengatakannya?” gumam Richard fokus ke depan.


“Memang kenapa? Aku ‘kan istrimu. Wajar dong kalau Kakek mengatakannya padaku. Aku justru senang, itu berarti Kakek menghargaiku!” Sedikit nyolot dan ketus saat Velyn menjawabnya.

__ADS_1


‘Selain moodnya mendadak gampang berubah, telinganya juga semakin tajam!’ batin Richard tidak ingin membuat Velyn kembali marah.


Jemari lelaki itu bergerak lembut meremas tangan Velyn, lalu menciumnya bolak balik. “Jangan salah paham, aku memang belum mengatakannya karena masalahku dengan Kakek waktu itu belum selesai. Kalau Kakek tidak drop, mungkin sampai sekarang aku tidak kembali ke sana,” tutur lelaki itu dengan serius.


Usai mengatakan hal itu, Richard tidak bersuara lagi. Perjalanan mereka terasa lebih lama karena begitu sunyi. Hanya deru mesin mobil yang terdengar.


“Masalah orang kaya lebih rumit ya. Musuh terbesar kalian adalah orang dalam. Keluarga kalian sendiri,” ucap Velyn setelah beberapa saat menikmati keheningan mereka.


“Dan aku paling benci itu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan kerja keras Papa jatuh ke tangan yang salah, yang tidak mengerti dengan perusahaan. Ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidup di sana, aku tidak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu dengan perusahaan.”


Mendengar untaian kalimat Richard, sungguh membuat Velyn bangga, kagum sekaligus begitu beruntung karena memiliki suami pekerja keras dan berjiwa sosial tinggi. Ia tersenyum bangga menatap sosok gagah dan bijaksana di sampingnya.


CUP!


Sebuah kecupan mendarat di pipi Richard, usai Velyn melepas seatbeltnya. Mobil seketika berhenti hingga dentuman dari belakang mobil terdengar cukup keras dan mengguncang mobil yang ditumpangi mereka.


“Richard!”

__ADS_1


Buru-buru Richard melepas sabuk pengaman lalu memeluk istrinya dengan erat.


Bersambung~


__ADS_2