SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 49 : MELABRAK


__ADS_3

Rendra dan istrinya tiba di Villa Richard tengah malam. Sempat ragu saat melihat sekeliling yang begitu asing, suasana yang sepi dari penduduk dan lalu lalang kendaraan. Namun, dipenuhi derik jangkrik dan desau angin yang dingin.


“Ini bener tempatnya, Pa?” tanya Sabrina menatap bangunan yang tidak begitu mewah, tapi sangat asri.


“Iya, bener kok. Nih sesuai sama yang dikasih Richard.” Rendra menunjukkan alamat yang diberikan Richard.


Mereka tersentak saat seorang pria paruh baya keluar dan tersenyum dengan ramah. Kedatangannya memang sudah ditunggu sedari tadi.


“Selamat malam, Tuan, Nyonya. Mari silakan masuk,” sapa Paman Dana, penjaga Villa tersebut.


Rendra menatap waspada, begitu pun dengan istrinya. Mereka saling menatap dan tidak menjawab sapaan pria tersebut.


“Oh, maaf. Perkenalkan saya Dana, penjaga Villa di sini. Richard mengatakan bahwa ayah dan ibu mertuanya akan menginap di sini. Mari silakan,” ajak Paman Dana lagi, melebarkan pintu gerbang.


Mereka segera masuk, Bi Conie yang masih terjaga segera menunjukkan kamar tamu untuk mereka berdua. “Silakan, Tuan, Nyonya. Jika membutuhkan sesuatu, bisa panggil saya. Selamat beristirahat dengan tenang,” tutur Bi Conie pamit undur diri.


Rendra mengedarkan pandangan, kamar yang memang tidak seluas miliknya. Tapi sangat bersih dan tertata rapi. “Ayo, tidur, Ma. Lelah sekali. Mungkin ini rumah Richard,” ujar Rendra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Bisa jadi, Pa. Ya, kecil sih. Tapi sepertinya memang nyaman. Jauh dari keramaian,” balas Sabrina yang menyusul suaminya di atas ranjang.


Lelah yang menerpa usai perjalanan jauh, membuat mereka langsung masuk ke alam mimpi. Apalagi sejak kemarin tidak bisa tidur lelap.


\=\=\=000\=\=\=

__ADS_1


Matahari mulai menyembul dari peraduan, menyinari permukaan bumi, mengganti dinginnya malam dengan hangatnya mentari.


Pagi-pagi sekali Richard bangun dan segera membersihkan diri. Delon juga sudah tiba di kediaman Stevy dengan membawakan setelan jas mewah milik sang bos.


Velyn masih terlelap, semalaman berada di pelukan suaminya membuat tidurnya begitu nyenyak.


Stevy terkejut saat Richard sudah rapi keluar dari kamarnya. Ia memang tidak tahu kedatangan Delon, karena Richard yang membukakan pintu lalu segera pergi karena masih banyak pekerjaannya.


Buru-buru wanita itu menunduk hormat dan menyapanya, “Selamat pagi, Tuan.”


“Saya buru-buru. Nanti ingatkan Velyn untuk sarapan. Kalau cari saya, katakan sedang ada urusan. Jangan bolehkan dia keluar dulu. Dan, saya mau pinjam mobil kamu,” ucap Richard menodongkan tangan.


“Baik, Tuan!” Stevy mengangguk, tidak berani menatap suami bosnya itu. Meraih kunci mobil yang ada di meja dan menyerahkannya pada Richard.


“Terima kasih!” ucap pria itu melenggang dengan langkah tegapnya.


“Apa Tuan Virgoun ada di ruangannya?” tanya Richard pada wanita di balik meja.


“Ada, Tuan. Tapi beliau sedang tidak bisa diganggu. Ada pesan? Silakan tinggalkan kartu nama, nanti akan saya sampaikan,” tutur wanita tersebut.


Richard enggan membalas, ia melenggang ke ruangan CEO perusahaan tersebut. Mengabaikan teriakan resepsionis yang berlari mengejarnya. Langkah Richard yang panjang, membuat wanita itu kesulitan mengejarnya. Richard sudah masuk ke dalam lift.


Deru napas yang memburu disertai entak kaki yang kuat dan cepat, membuat sekretaris pribadi Virgoun beranjak dari duduknya. “Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita cantik itu.

__ADS_1


“Buka pintu ruangan bosmu!” titah Richard mengedikkan kepala ke ruangan tersebut.


“Maaf, Tuan. Silakan menunggu sebentar. Beliau sedang tidak bisa diganggu gugat,” balas sekretaris itu dengan sopan.


Richard menghela napas panjang,  berkacak pinggang di depan ruang presdir VH Group. Dari sana, bukan perbincangan yang tertangkap di telinganya. Melainkan ... suara ******* yang saling bersahut-sahutan.


Lelaki itu mendecih, tidak ingin pendengarannya semakin tercemar, Richard menendang pintu tersebut sembari berteriak, “Keluar!”


Sekretaris Virgoun tergopoh-gopoh menghampiri, mencekal lengan Richard yang membuat keributan, “Tuan, tolong jangan buat keributan di sini!” pinta wanita itu.


Merasa risih Richard segera menepis tangan itu dengan kasar. “Jangan pernah menyentuhku!” sentak Richard mengacungkan telunjuk ke hadapan sekretaris Virgoun.


Wajahnya berubah muram penuh amarah. Mata elang lelaki itu kian tajam, terdengar jelas gigi yang saling bergemeletuk hebat. Wanita itu mengerut ketakutan.


“Tuan Virgoun keluar atau aku dobrak pintunya!” pekik Richard lagi.


Terdengar decak kesal dari dalam ruangan,  juga langkah kaki yang buru-buru. Richard yang sudah di ambang batas kesabaran, mulai mendobrak pintu tersebut.


“Kurang ajar sekali, apa maksudmu?” berang Virgoun yang sudah membuka pintu. Penampilannya acak-acakan.


Richard melepas kaca matanya, tatapan jijik dilayangkan pada pria tua itu. Dadanya naik turun dengan cepat.


“Anda ‘kan yang sudah menyebarkan berita mengenai Evelyn Narendra?” tanya Richard pelan namun penuh penekanan.

__ADS_1


Virgoun mendelik, “Tu ... Tuan Dirgantara, Anda? Ah silakan masuk, silakan masuk,” ucap pria itu panik ketika melihat pria di hadapannya adalah penanam saham terbesar di perusahaannya.


Bersambung~


__ADS_2