SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 34 : KITA HADAPI BERSAMA


__ADS_3

Velyn meregangkan pelukannya, mendongak demi bisa menatap suaminya lekat-lekat, “Wanita tadi siapa, Cad? Kenapa kamu semarah itu?” tanyanya dengan suara lembut.


“Tidak usah dipikirkan. Mereka memang selalu cari masalah sejak dulu. Ayo, aku kenalkan ke Kakek. Besok kita harus kembali ke negaramu,” ajak Richard membelai puncak kepala istrinya.


Gerakan Richard terhenti, karena Velyn menahannya. Langkahnya terpaku, dua tangan kurus itu mencengkeram tepian jas sang suami. Sorot matanya seolah mengatakan untuk menolak.


“Kenapa?” tanya Richard dengan kening berkerut tipis.


Tanpa menjawab, Velyn menundukkan kepala lalu menabrakkannya ke dada bidang sang suami. Jika mengingat keluarganya, Velyn merasa lemah.


“Aku enggak ingin pulang, aku takut. Sudah satu minggu aku meninggalkan rumah.” Tubuhnya menegang, getarannya sampai terasa di dada Richard. Tidak bisa membayangkan sumpah serapah apa yang akan terlontar untuknya nanti.


Pria itu mendorong bahu Velyn, netranya menyelam begitu dalam dan penuh kehangatan pada kedua manik sendu istrinya. “Ada aku, jangan takut. Kita hadapi bersama.” Suara Richard mengalun indah menyelusup telinganya. Menggetarkan rongga dadanya.


Richard tentu tahu apa yang dirasakan Velyn, meski mereka tinggal bersama belum terlalu lama, tapi Richard tahu bagaimana Velyn selama ini hidup dalam tekanan yang tinggi. “Tapi, kamu tidak perlu kasih tahu siapa aku sebenarnya. Kita lihat beberapa waktu ke depan. Jika mereka tidak bisa mengubah sikap, aku harus bertindak, memberi mereka sedikit pelajaran,” tutur lelaki itu menyelipkan anak rambut Velyn yang berantakan.


“Aku mengerti. Terima kasih banyak, Cad. Sekali lagi maafin aku ya,” ucap Velyn dengan nada manja, memeluk pria itu dengan sangat erat. Pelajaran yang sangat berharga dalam hidup ia peroleh dari suaminya sendiri. Sadar, setiap permasalahan harus diselesaikan dengan kepala dingin, tanpa menghakimi, serta jeli dalam mencari bukti. Sebelum sesal membelenggu hati.

__ADS_1


Richard menyugar rambut sang istri yang terurai panjang. Meraba-raba kening dan merasakannya. “Masih anget, mau mandi? Aku siapkan air hangatnya,” tawar Rchard.


Terenyuh, bahkan setelah Richard kembali pada status yang sebenarnya, ia masih menawarkan diri untuk melayaninya. “Enggak usah, aku bisa siapin sendiri.”


“Yakin?”


“Heem.”


“Pengen makan apa? Biar aku bilang sama Bibi,” tawar Richard melepas jasnya, menggulung lengan panjangnya hingga ke siku.


"Apa aja aku makan,” sahut Velyn dengan senyum terurai dari bibirnya.


Usai meminta pelayan menghidangkan berbagai manakan yang bergizi, Richard beranjak ke kamar sang kakek. Dua pelayan tengah memijit kaki dan tangan kakek.


“Keluarlah,” titah Kakek Alex pada dua pelayannya saat melihat kedatangan Richard.


Keduanya membungkuk, pamit undur diri. Pintu kamar Kakek Alex tertutup rapat, Richard melirik dengan ekor matanya lalu mendekati sang kakek.

__ADS_1


“Ada keluhan, Kek?” tanya Richard menekan denyut nadi pria tua itu, sembari menatap jam tangannya.


“Tidak! Aku sudah merasa lebih baik. Apalagi setelah kedatangan cucu menantu. Ah, aku semakin ingin hidup lebih lama lagi, Richard! Aku tidak sabar rumah ini ramai dengan keturunan Dirgantara yang berlarian. Hahaha, kenapa tidak dari dulu kamu membawanya! Dasar Cucu Nakal!” papar Kakek Alex tertawa. kebahagiaan dari raut wajahnya tak dapat disembunyikan lagi, cahaya dan semangat hidup yang sempat meredup, nyatanya mulai menyala lagi.


Richard seolah tersedak udara, ia terpaku. Padahal, ia baru akan mengenalkannya nanti malam. Rupanya kakek sudah mengenalnya lebih dulu.


“Kakek sudah bertemu dengannya?” tanya Richard dengan suara pelan.


“Tentu saja sudah! Kau ingin menyembunyikannya sampai kapan hah? Takut sekali Kakek bertemu dengannya. Kamu pikir kakek ini pedofil apa?! Tapi, dia memang cantik. Pintar sekali kamu memilih pengganti Catty, haha,” papar Kakek kembali tertawa.


Richard mendengus sebal. Ternyata, rahasianya sudah terkuak. “Padahal mau bikin kakek kejut jantung tadinya,” gerutunya hingga mendapat pukulan tongkat ajaib kakek di kepala.


“Kurang ajar!”


“Ssshh! Harusnya tongkat sakti itu aku sembunyikan dulu, sialan!” gumam Richard mengelus kepalanya yang berdenyut nyeri.


“Oiya, Kek. Apa sebelumnya Claudya pernah datang ke sini? Atau Laura mungkin?” Richard kembali ke mode seriusnya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2