
Rihana berpikir dengan keras, sebab setahunya acara berkelas malam itu hanya dihadiri para kalangan atas. “Enggak mungkin Velyn mendapat undangan ekslusif itu ‘kan? Perusahaan Narendra ‘kan lagi gonjang ganjing. Aiih! Apa sih ini sebenernya!” keluhnya berdecak kesal karena tidak menemukan jawabannya.
“Maaf, Nona! Bisa tolong tunjukkan undangannya?” tanya salah satu bodyguard yang mencegah langkah wanita itu.
“Ck! Kamu emang nggak tahu siapa saya? Wajah saya itu terpampang dicover majalah seantero negeri ini!” decak Rihana dengan pongah, mengibaskan rambut panjangnya.
“Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas sesuai prosedur,” tutur pria itu ramah, meski postur tubuhnya cukup membuat wanita itu bergidik.
Bibir merah Rihana menggerutu tak jelas. Akan tetapi, segera meraih sesuatu dari tasnya. Mendadak wajahnya pias dan pucat, karena tak menemukan ponselnya.
Gerakannya terhenti, ia menggerakkan manik matanya dengan panik. “Duh, ponselku di mana ya?” gumamnya memaksa senyum pada pria bertubuh kekar di hadapannya.
“Anda tidak bisa masuk! Silakan menyingkir dan beri jalan untuk tamu lainnya!” tegas pria itu menjulurkan lengan ke arah lain.
Rihana bergeming, ia mencari celah ketika perhatian tidak tertuju padanya. Gadis itu segera berlari sembari menaikkan gaunnya yang cukup mengganggu. Tidak mau tahu, ia harus tetap masuk mengingat rasa penasaran yang masih membelenggu mengenai kehadiran Velyn dan Richard.
“Tangkap wanita bergaun merah yang berlari masuk!” suara salah satu bodyguard melalui earpeace di telinganya.
“Aaaa! Tolong! Siapa pun tolong aku!” teriak Rihana. Di belakangnya beberapa bodyguard segera mengejar nya.
Semua mata tertuju pada Rihana. Tak terkecuali Richard bersama sang istri. Keduanya berhenti serentak, memutar tubuhnya. Apalagi kini Rihana bersembunyi di balik punggung Richard.
“Richard, tolong. Tolong aku!” ucap wanita itu mengintip dari celah lengan Richard.
Velyn menganga lebar melihatnya. Ia memicingkan mata dan hendak melepaskan rangkulan lengan suaminya. Akan tetapi, buru-buru Richard segera menahannya.
“Ada apa?” tanya Richard menoleh ke belakang.
Tak berapa lama, beberapa bodyguard mencekal Rihana dan hendak menyeretnya keluar.
“Nona ini memaksa masuk. Padahal tidak membawa undangan,” ucap salah satu bodyguard mencekal lengan Rihanna.
Richard mengembuskan napas kasar, “Dia rekanku. Scan saja undanganku,” ujarnya menyodorkan scan barcode dari ponselnya.
Velyn memutar bola matanya malas. Ia mengeratkan pelukan di lengan sembari menatap tajam perempuan lain yang terlihat cari perhatian suaminya.
Akhirnya, Rihana selamat dari kejaran para bodyguard. Wanita itu pun menghela napas lega dan beralih ke hadapan Richard.
“Makasih banyak, Cad. Nggak tahu apa yang akan terjadi kalau nggak ada kamu,” tutur Rihanna mendekat.
Akan tetapi langkahnya terhenti karena Richard menjulurkan lengan ke depan. Sebagai pertanda agar perempuan itu tidak mendekat.
Begitu pun dengan Velyn yang menatap Rihana dengan sinis.
__ADS_1
“Silakan, Tuan!” ucap bodyguard menyerahkan benda pipih ke tangannya. Usai selesai dengan tugasnya.
“Emm!” Richard kembali mengantongi ponselnya, kemudian merengkuh pinggang sang istri, mengabaikan wanita yang selalu mengejarnya sejak dulu itu. Rihana berdecak kesal melihatnya.
Pasangan itu kembali melanjutkan langkah, Richard menarik sebuah kursi untuk lalu mendudukkan istrinya. Tak lupa mengambil segelas minuman, potongan buah dan cake yang terhidang di meja, mendekatkan pada sang istri.
“Tunggu di sini sebentar ya.”
“Mau ke mana? Jangan jauh-jauh,” rengek Velyn menggigit bibir bawahnya. Ia merasa tak nyaman karena semua mata kini tertuju padanya. Bahkan ada beberapa dari mereka yang saling berbisik sambil menatap remeh Velyn.
Richard menyentuh puncak kepala Velyn. Wanita itu mendongak dengan mata berkaca-kaca. Ia takut berada jauh dari sang suami.
“Sebentar aja. Mau ketemu Delon.”
“Kenapa dia nggak disuruh datang ke sini aja sih? Gabung sama kita? Kenapa kamu yang harus nyamperin dia? Kalau ditinggal gini, mendingan tadi aku di rumah aja!” Velyn tampak merajuk. Jika bukan karena Perusahaan Narendra yang tengah terjadi huru hara, Velyn tidak akan setakut itu.
“Mana Velynku yang tangguh, kuat dan pantang menyerah? Kenapa sekarang selemah ini? Tegakkan kepalamu. Jangan pernah dengarkan apa pun orang,” Richard membungkuk saat menyampaikannya, lalu menjatuhkan sebuah ciuman di kening wanita itu.
Tak terasa bulir bening berjatuhan di sudut mata Velyn. Ia terenyuh akan sikap hangat Richard. Yang mana, tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya. Velyn semakin jatuh hati berkali-kali pada sang suami.
“Cengeng banget sih sekarang!” celetuk Richard menyeka air mata sang istri.
Velyn langsung memalingkan muka. Malu karena tanpa sadar menjatuhkan air mata. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini sering terbawa perasaan.
“Yaudah sana. Jangan lama-lama. Kalau lama, aku pulang!” sahut Velyn mengaduk-aduk minumannya.
Di sudut ruangan, ternyata Delon sudah berbincang dengan Stevy untuk merancang strategi jitu menggaet investor baru dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih besar dari sebelumnya.
“Bagaimana?” Richard langsung duduk dan bergabung dengan mereka bertiga.
“Sebagian proposal sudah disetujui, Tuan. Tinggal eksekusi,” sahut Delon memutar laptopnya, menunjukkan daftar perusahaan yang tertarik dengan penawaran mereka.
“Kalian bisa menanganinya? Sepertinya Papa tidak bisa hadir. Tadi sore aku lihat dia cukup kelelahan. Tinggal aku pancing sedikit saja untuk meyakinkan mereka,” papar Richard.
“Siap, Tuan. Kami akan menanganinya.”
\=\=\=OooO\=\=\=\=
Sementara di meja Velyn, terdengar suara tak mengenakkan telinga yang seketika menghilangkan nafssu makannya.
“Suaminya Velyn memang tampan sih. Tapi dia Cuma pelayan bar loh. Kalian pasti pada tahu ‘kan?” Rihana mulai membuka suara pada perkumpulan sosialita wanita. Meja mereka saling bersisian. Semua mata pun tertuju padanya.
“Pantas saja waktu itu Gerald membatalkan pernikahannya. Lebih cocok sama pelayan sih memang. Hahaha!” sahut wanita lainnya sembari tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Aduh, seleranya Velyn benar-benar rendah! Pantas saja perusahaannya nggak maju-maju!” cetus mereka bersahut-sahutan diiringi gelak tawa yang menggema.
“Hahaha! Bahkan nyaris bangkrut. Terus ngapain ya mereka ke sini? Mereka juga nggak akan mampu memenangkan lelang perhiasan dan berlian di sini!” Mulut Rihana terus saja mengoceh demi menyulut amarah Velyn.
Velyn mencengkeram garpu dengan kuat. Dadanya naik turun dengan kasar. Kepalanya menoleh, melirik tajam pada para wanita itu. 'Dasar tidak tahu diri!' kesal Velyn pada Rihana.
Jika saja acara tidak dimulai, mungkin Velyn akan melabrak mereka. Pandangannya mengedar mencari-cari suaminya, sesekali melirik jam di lengannya.
“Lama ya?” Richard menarik kursi dan merapatkannya pada sang istri.
“Nggak usah balik aja sekalian! Baru aja aku mau pulang,” cetus Velyn tanpa menatapnya.
Richard mengabaikannya, ia semakin merapatkan kursi dan menggenggam jemari lentik Velyn.
“Kok tangan kamu dingin?” bisik Richard.
“Di sini tuh tempatnya para kalangan atas. Kenapa gembel bisa pada masuk sih? Aku yakin pasti mereka bakal ngiler doang lihat berbagai perhiasan yang dilelang. Apalagi limited edition, bahkan ada yang cuma diproduksi satu aja di dunia ini.” Suara seorang wanita terdengar jelas di telinga Velyn dan Richard.
Richard menoleh, tidak ada yang duduk di dekat para wanita itu selain mereka berdua. Apalagi pandangan remeh memang tertuju pada Vely dan Richard.
“Aku bisa saja membeli semua perhiasan lelang yang dipajang di depan sana, kalau memang Velyn mau!” seru Richard.
Para wanita itu saling berpandangan, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Ambilkan aku kalung berlian satu set yang hanya ada satu aja ya, Sayang.” Velyn menimpali.
“Tentu saja! Semua yang kamu inginkan, pasti aku dapatkan!” tegas Richard tersenyum smirk.
Tawa para wanita itu pun semakin meledak. Mereka menertawakan pasangan suami istri yang dianggap hanya berimajinasi saja.
Bersambung~
Banyak pertanyaan yg gak bisa aku balas satu persatu. aku tulis di sini ya best...
Jadi, ke mana aku selama ini? kenapa update nyaris setahun sekali 🤣🤣
Dulu aku cuma rebahan, scroll2 medsos, banyak gabutnya, makanya rajin up. Per bulan Juni, aku kerja di PT. Mungkin beberapa di antara kalian ada kaum introvert. Pasti tahu yg aku rasain selama beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kaum introvert itu, kalau seharian haha hihi, ketawa ketiwi berinteraksi dengan banyak orang, pulangnya tepar dan benar-benar kehabisan tenaga. Apalagi masih ngurus rumah, keluarga, dan berbagai kegiatan dunia nyata. Butuh adaptasi yang cukup lama.
Tubuhku mgkn masih kaget. Bertahun2 sepi, sunyi, di rumah, tetiba berada di keramaian. Sempet drop juga beberapa hari kemarin. Apalagi minggu selalu lembur karena order yang sangat banyak.
__ADS_1
Dan jujurly, nulis di sini pure ngeluangin waktu untuk nyalurin hobi dan imajinasi. Karena sekarang, peluang dapet cuan sekarang kecil sekali. Jadi, aku harus jalanin prioritas dulu.
Semoga bisa dimaklumi, sekian dan terima gaji 🥰 terima kasih banyak untuk yang setia nungguin dengan kesabaran yang luar biasa. kalau lupa alurnya, naik lagi ke atas. Gratis kok, gak perlu buka gembok 😊