
“Delon, bagaimana dengan Perusahaan Narendra?” tanya Richard setelah teleponnya tersambung dalam perjalanan yang tidak tahu arah dan tujuan. Ia hanya meminta sang sopir untuk melaju saja.
“Sama ramainya, Tuan. Di sana juga dikerumuni para wartawan,” sahut Delon yang telah terjun ke lokasi.
Richard terdiam sejenak, jika kondisinya memang sama, otomatis Velyn tidak ada di sana. “Ah, kirimkan alamat sekretarisnya Velyn sekarang juga. Siapa itu namanya, aku lupa!” cetus lelaki itu.
“Stevy, Tuan?”
“Ya, itu.” Richard membenarkan. Ia hanya mengikuti feelingnya saja.
“Baik, Tuan! Segera saya kirimkan!"
Sambungan telepon terputus, tak berapa lama, pesan masuk ke ponselnya. Ia meminta sopir taksi agar mendatangi alamat yang dikirim oleh asistennya.
Beberapa waktu berlalu, Richard telah sampai di perumahan yang tidak begitu mewah. Setelah mencocokkan nomor dan alamat, Richard menekan bel yang ada di pagar berulang-ulang.
“Velyn di sini?” Baru saja bibir Stevy terbuka, Richard sudah bertanya lebih dulu.
“I ... iya, Tuan. Silakan masuk,” balas Stevy memberi jalan. Ia melongokkan kepala keluar, khawatir ada wartawan yang mengikuti. Mengembuskan napas lega, ketika tidak ada siapa pun di belakang Richard. Segera ia kembali menutup pintu.
Stevy menunjukkan kamar yang ditempati oleh Velyn. Tanpa suara, Stevy membukakan pintu tersebut. Mempersilakan Richard masuk.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Richard dibalas anggukan oleh Stevy sembari menutup pintu. Memberikan waktu bagi pasangan suami istri itu.
Richard melenggang masuk dengan langkah pelan, istrinya terdengar sedang menangis terisak di balik selimut yang menutup hingga ujung kepala. Hatinya tersayat mendengar isak tangis sang istri. Ia duduk di tepi ranjang, menyentuh bahu Velyn yang bergetar hebat.
“Pergilah, Stev. Biarkan aku sendiri dulu,” ucap Velyn yang mengira itu adalah sekretarisnya.
“Vel.”
Suara bariton itu membuat Velyn menyibak selimut dengan kasar. Ia langsung beranjak duduk, wajahnya basah karena air mata. Rambutnya acak-acakan.
“Richard,” panggil Velyn menghambur ke pelukan suaminya. Menumpahkan segala kesedihan di dada bidang lelaki itu.
Velyn tak mengucap sepatah kata pun. Tetapi kuatnya pelukan wanita itu menandakan bahwa ia sangat membutuhkan Richard saat ini. Ia tidak berani mendatangi rumah sakit, karena sudah pasti ada wartawan yang membuntuti. Sehingga melarikan diri ke tempat Stevy adalah pilihan yang tepat.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Tenanglah, nanti kamu sakit lagi,” ucap Richard membelai punggung wanitanya dengan lembut.
“Gimana enggak kepikiran, semua orang sudah ... melihatnya, Cad. Bukan hanya reputasiku saja yang buruk. Imbasnya banyak investor menarik saham dari perusahaan,” protes Velyn.
Mentalnya sudah terlanjur down duluan, Velyn tidak bisa berpikir jernih. Jangankan berpikir untuk menyelesaikan masalah, membuka ponselnya saja tidak berani. Banyak hujatan dan cacian yang masuk pada ponselnya. Harga dirinya hancur berkeping-keping karena tubuhnya terekspose secara frontal.
Richard meregangkan pelukannya, menangkup kedua pipi Velyn dan mencium kedua kelopak mata wanita itu, “Beri aku waktu, Vel. Kamu tinggal duduk manis, makan, tidur saja di sini. Percaya padaku, okay?” ujarnya meyakinkan. Velyn membalasnya dengan sebuah anggukan. Meski hati kecilnya tidak begitu yakin. “Tidurlah, supaya kamu bisa lebih tenang,” saran lelaki itu.
__ADS_1
Velyn langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, disusul oleh Richard. Hendak memijit sang istri agar lebih rileks, tapi Velyn menolak. Ia mencekal tangan suaminya, sembari menggeleng.
“Kenapa? Biar kamu sedikit rileks,” ucap Richard.
“Enggak usah, peluk aja!” tolak wanita itu menggeser tubuhnya hingga tak berjarak dengan suaminya. Menyembunyikan tubuh mungilnya dalam dekapan hangat sang suami.
Richard menghela napas panjang, bibirnya menyunggingkan senyum tipis, “Baiklah,” ucapnya menciumi kening Velyn, membelai punggung wanita itu naik turun. Hingga lama kelamaan, Velyn tertidur.
Pria itu terjaga, sama sekali tak menghiraukan lelah tubuhnya saat ini. Untung saja lukanya sudah mengering. Melihat wajah Velyn yang begitu terpukul, hatinya ikut hancur.
Hari telah berganti malam, Richard bergegas bangun ketika ada notifikasi pesan di ponselnya. Velyn menggeliat, buru-buru lelaki itu segera membelai istrinya agar kembali tertidur.
Sebuah pesan yang ditunggu-tunggu oleh Richard sedari tadi. Dadanya berdegup saat hendak membukanya. Delon, mengirim pesan mengenai identitas akun yang pertama kali menyebarkan berita dan foto-foto syur Velyn.
Delon juga telah menginformasikan, bahwa Perusahaan IT yang ditunjuk, berhasil menghentikan berita yang merebak itu. Kemudian mengirimkan broadcast pesan pada semua karyawan di perusahaan entertainment, berisi mengenai penutupan kasus Vellyn. Jika masih dilanjutkan akan mendapat ancaman pidana.
“VH Group?” gumam Richard, mengerutkan kening. Ia sangat mengenal pemilik sekaligus CEO perusahaan stasiun televisi yang cukup besar itu.
Bersambung~
__ADS_1