
Betapa terkejutnya Richard, ketika tiba di kediaman sang istri. Seluruh pelataran dipenuhi pemburu berita, saling berdesakan dan berteriak melontarkan banyak pertanyaan.
“Astaga!” gumam Richard mengusap wajah kasar. “Berhenti di sini saja!” titah Richard pada sopir taksi.
Mobil berhenti di seberang jalan, sopir tersebut tercengang saat menerima beberapa lembar uang yang cukup banyak. Belum sempat berucap, Richard sudah keluar dari mobilnya.
“Dia orang kaya ya?” gumam sopir taksi itu memasukkan uang ke sakunya. Lalu melanjutkan perjalanan.
Richard berjalan mengelilingi rumah tersebut, hingga berhenti di pagar belakang yang tidak terlalu tinggi. Ia menghela napas lega karena para wartawan tidak memburu hingga ke sana.
Pria itu memanjat pintu pagar, bulir keringat berjatuhan dari keningnya. Perjuangan tak sia-sia. Ia berhasil menjajakkan kedua kaki di halaman belakang. Langkahnya melebar, mengetuk pintu yang terhubung dengan dapur. Pandangannya mengeliling, khawatir ada yang mengikuti.
“Tuan?” Pintu terbuka, salah satu ART menyapanya. Terkejut dengan kedatangan Richard yang tiba-tiba.
“Di mana Mama dan Papa?” tanya Richard melenggang masuk.
“Sepertinya di kamar, Tuan. Tuan Rendra juga tidak mengizinkan siapa pun masuk,” jelas ART tersebut.
Richard mengangguk, ia segera berlari menaiki setiap anak tangga hingga mencapai kamar mertuanya. Lengannya terayun untuk mengetuk pintu berulang.
“Richard?” seru Rendra membelalak melihat menantunya. “Dari mana sa ....”
__ADS_1
Kalimat pria itu langsung dipotong oleh Richard, “Papa dan Mama sebaiknya tinggalkan rumah ini untuk sementara waktu. Sampai situasi menjadi lebih aman,” tutur lelaki itu.
“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Semuanya sudah hancur!” seru Sabrina yang menangis sedari tadi.
“Demi kebaikan kalian, tinggalkan tempat ini segera. Saya akan menjemput Mama dan Papa jika situasi sudah kondusif. Tidak ada waktu lagi. Silakan bawa pakaian ganti. Lima belas menit, harus sudah siap.”
Richard merogoh dompet, menyerahkan alamat Villa tempat tinggalnya dulu. “Tinggallah di sini sementara waktu, Ma, Pa. Di sini kalian akan aman,” tambahnya menyodorkan sebuah kartu pada Rendra.
Selain itu, Richard juga langsung memesan taksi online untuk keberangkatan mereka hari itu juga. Richard mengirim pesan, agar sang sopir menjemputnya melalui belakang rumah.
Rendra meraih sebuah kartu bertuliskan alamat yang cukup jauh dari rumahnya. Keningnya mengernyit, dari pandangan lelaki tua itu, tampaknya sedikit ragu.
“Pa, tidak ada waktu lagi. Cepat berkemas dan tinggalkan rumah ini!” ucap Richard memaksa.
Tepat saat mereka selesai berkemas, mobil juga telah siap menunggu. Sesuai permintaan Richard, sopir taksi menunggu di belakang rumah. Richard mengantar kepergian mereka.
“Hati-hati, Ma, Pa!” ucap Richard saat mengantar mereka hingga naik ke mobil.
“Hmm, awas saja kalau memanfaatkan situasi!” sahut Sabrina menutup kaca jendela. Mobil pun mulai melaju dengan perlahan. Mereka selamat dari kejaran para wartawan.
Sembari berjalan masuk ke rumah, Richard menelepon asistennya. Keduanya sibuk berbincang serius. Richard yang tidak fokus berjalan, bertabrakan dengan Debora. Gadis itu terpelanting ke lantai.
__ADS_1
“Aduh! Lupa kalau ada dia!” gumam Richard menoleh ke luar, tidak langsung menolong Debora.
Mobil yang ditumpangi mertuanya pasti sudah jauh. Richard kembali menatap Debora, “Maaf, Ra. Jangan keluar rumah dulu. Tetap di kamar!” titahnya menjulurkan lengan untuk membantu.
“Kenapa sih semua jadi serumit ini!” cetus gadis itu berdiri sendiri. Beranjak ke dapur untuk mengambil makanan.
Richard mendengkus kesal kala niat baiknya diabaikan. Tidak ingin membuang waktu, pria itu berlari ke kamar yang selama ini ia tempati bersama sang istri.
“Vel! Veln!” panggil Richard mengedarkan pandangan. Ia juga mencari ke setiap sudut kamar, hingga ke kamar mandi. Tapi tak menemukan siapa pun.
Pria itu menjatuhkan diri di atas ranjang empuknya, merebahkan tubuh sembari mengusap wajahnya kasar. Ia kembali keluar dari rumah tersebut.
“Bi, Velyn tidak pulang ke sini?” tanya Richard pada sang bibi.
“Tidak, Tuan. Beliau sama sekali belum pulang sejak ada keramaian ini,” sahut wanita paruh baya itu.
Richard menyugar rambutnya ke belakang. Mengira-ngira, di mana wanitanya, “Kalau begitu titip Debora. Jangan biarkan dia keluar dan jangan buka pintu untuk siapa pun! Gaji sekaligus bonus Bibi akan saya berikan setelah masalah ini beres. Saya janji!” tutur Richard lalu bergegas keluar dari pintu yang sama.
Richard mengendap-endap, sampai tak satu pun orang yang curiga padanya. Ia segera mencari taksi untuk mencari istrinya.
"Velyn, kamu di mana, Sayang?" gumam Richard menyandarkan kepala sembari menghela napas kasar.
__ADS_1
Bersambung~