SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 56 : CEMBURU TANDA CINTA


__ADS_3

Richard menahan tawanya yang nyaris meledak. Ia segera memperpanjang langkah kaki, hingga sejajar dengan sang istri.


“Velyn mau ke mana?” teriak Richard.


“Pulang!” ulang Velyn mengabaikan lelakinya.


“Mobilnya di sini, Sayang!” Richard kembali berteriak saat melihat wanita itu salah arah.


Barulah Velyn berhenti, membalik tubuh lalu melihat sekeliling. Kekesalan yang membuncah membuatnya tidak fokus dan salah arah. Ia menghela napas lega kala manik matanya tak menemukan siapa pun di area parkir tersebut. Jika tidak, pasti akan malu luar biasa.


Sembari mendengus kesal, Velyn melangkah cepat ke arah mobilnya. Ia juga melalui Richard begitu saja. Hingga berdiri tepat di samping pintu mobil. Melipat kedua tangan di dada dengan wajah yang kusut.


Richard bergegas menyusul, heran sekaligus gemas akan sifat Velyn yang seperti itu. Bukannya emosi, ia malah senang ketika Velyn menunjukkan ketidaksukaannya kala ada wanita yang mendekati Richard.


Bukannya membuka pintu kemudi, Richard justru menghampiri sang istri. Ia mengungkung tubuh wanita itu, satu tangannya tertahan di jendela mobil. Kepalanya menunduk agar sejajar dengan wajah sang istri.


“Velyn, terima kasih,” ucap pria itu lembut sambil menaikkan dagu Velyn.


Kening Velyn mengernyit bingung, kenapa lelaki itu justru berterima kasih, “Untuk apa?” tanyanya ketus.


“Sudah mulai mencintaiku!” cetus Richard tanpa basa basi.


Velyn mendorong dada Richard, “Enggak usah GR deh! Cepet buka pintunya. Aku mau pulang terus berendam!”


“Kepanasan ya, Neng? Mau diademin nggak?” goda Richard menatap dalam manik sang istri.


Ditatap seperti itu, membuat degup jantung Velyn menggema di dalam sana. Ingin mengelak, tapi raganya tak mampu. Ia nyaman berada sedekat itu dengan suaminya.


“Cemburu itu tanda cinta ‘kan? Masih mengelak.” Richard menarik pinggang ramping wanita itu, tubuh keduanya tanpa jarak sedikit pun. Ia memeluk Velyn begitu erat.


Bibir Velyn sedikit terbuka. Tidak sempat berucap, karena kini disambar oleh Richard. Hanya matanya yang membeliak, dengan kedua tangan mencengkeram kerah kemeja Richard begitu kuat.


Tanpa ada penolakan, membuat Richard semakin memperdalam ciumannya. Satu tangannya pun naik untuk menahan tengkuk Velyn.


“Woi! Bisa-bisanya mesum di tempat umum!” pekik seorang satpam mengangkat tongkat sepanjang 50 cm itu pada dua sejoli yang tengah memanas.


Buru-buru Velyn mendorong dada Richard. Memalingkan mukanya yang memerah, hingga rambut panjangnya tergerai menutupi wajahnya yang memerah.


Richard mendengkus kesal, tangannya mengepal kuat karena seseorang telah lancang mengganggunya.

__ADS_1


“Ehm!” Richard merapikan pakaiannya. Berbalik lalu mengulas senyum di bibirnya. “Dia istri saya. Sah saja saya apa-apain dia!” ujarnya.


Alis pria separuh baya di hadapannya terangkat, menepuk-nepuk ujung tongkat pada telapak tangannya. Wajahnya menunjukkan ketidak percayaan. Terbukti melirik Velyn yang sibuk merapikan lipstik dan rambutnya.


“Dia suami saya, Pak. Maaf kalau mengganggu mata Bapak.” Velyn menyahut, menyelusupkan tangan di lengan sang suami. “Ayo, Sayang kita pulang.”


“Lanjut di rumah ‘kan?” goda Richard menaik turunkan alisnya.


“Aaaa!” pekik lelaki itu kala pinggangnya dicubit oleh Velyn. Ia menatap manik sang istri yang melotot tajam. “Iya, pulang sekarang,” sahutnya merogoh kunci mobil lalu membukakan pintu untuk istrinya. Tangannya refleks berada di puncak kepala Velyn saat wanita itu masuk dan duduk di kursinya.


Velyn menahan senyum merasakan perlakuan Richard selembut itu. Siapa pun akan luluh lantak dengan berbagai act of service dari pria itu.


Richard menutup pintu mobil, menepuk bahu satpam yang masih menatapnya kesal. “Iri bilang bos!” ucapnya terkekeh. Namun, kemudian menyelipkan beberapa lembar uang di saku pria tua itu.


“Dasar gemblung!” umpat satpam tersebut meraba kantong kemejanya. Matanya membeliak saat mengeluarkan beberapa lembar uang yang cukup banyak. “Eh, terima kasih, Tua!” pekiknya. Meski terlambat. Karena Richard sudah melajukan mobilnya dengan cepat.


Sepanjang perjalanan, Velyn menatap keluar jendela. Ia tidak berani menoleh ke arah Richard. Jantungnya masih bertalu kuat dalam rongga dadanya.


“Apa di luar lebih menarik dari pada suamimu ini?” celetuk Richard menyematkan jari besarnya di sela jemari lentik sang istri. Menggenggamnya cukup kuat, lalu menumpukan di atas pahanya.


Velyn menoleh, melirik tangan mereka yang saling bertaut, bibirnya tersenyum tipis. “Richard, jangan pernah berubah ya. Jangan tinggalin aku,” ujarnya tiba-tiba.


“I... itu ‘kan dulu. Aku minta maaf, Cad. Sekarang, aku nggak mau kehilangan kamu. Rumahku, tempat paling nyaman untukku pulang,” ucap Velyna merebahkan tubuh di lengan suaminya.


Senyum di bibir Richard semakin lebar, “Ya, Sayang. Kamu adalah the one and only. Nggak akan ada Velyn Velyn yang lain,” sahutnya mengecup singkat kening Velyn.


“I love you, Richard!”


“Love you more, Honey.”


\=\=\=\=OooO\=\=\=\=


Setibanya di rumah, hari sudah menjelang malam. Dua sejoli itu segera bersiap untuk menghadiri undangan khusus dari salah satu brand jewelry ternama di negara tersebut.


Tepat pukul 7 malam, Velyn menuruni anak tangga bersama suaminya. Gaun mewah berwarna hitam legam, dengan taburan berlian membuat penampilan wanita itu memukau. Richard sengaja memesan sebuah gaun dari butik ternama yang diantar hari itu juga.


Richard juga tak kalah menawan dengan jas mahal yang senada dengan gaun sang istri. Langkah mereka terhenti saat terdengar suara yang menggema. Keluarga Narendra memang tengah bersiap untuk makan malam.


 

__ADS_1


“Baru juga sampai di rumah udah mau pergi aja!” teriak Sabrina saat melihat Velyn sudah rapi bersama suaminya.


Memang sejak sampai di rumah mereka hanya masuk ke kamar. Velyn tidak ingin menguras banyak tenaga jika dimarahi orang tuanya. Apalagi kekacauan disebabkan karenanya.


“Dapat undangan khusus, Ma. Enggak jauh kok. Nanti malam langsung pulang kalau sudah selesai. Mama sama Papa bisa saksikan di televisi. Karena akan disiarkan secara langsung,” balas Richard sopan.


Sabrina terdiam sejenak, “Masa sih?” sahut wanita itu walau sedikit ketus.


“Maaf kami harus pergi sekarang. Acara akan segera dimulai. Permisi,” ucap Richard sedikit membungkuk lalu melenggang keluar bersama Velyn.


Richard berkendara sendiri, dengan mobil istrinya. Mungkin lain kali ia akan membeli mobil sendiri jika ada waktu.


Setibanya di Hotel Gripta, Richard menggandeng tangan Velyn. Melangkah serentak dan berhenti di tempat pemeriksaan. Beberapa bodyguard bertubuh kekar menghadang setiap tamu yang datang.


“Maaf, bisa tunjukkan undangannya?” ucap salah satu pria berjas rapi itu.


Richard segera menyerahkan ponselnya yang menunjukkan sebuah barcode, undangan acara untuk kalangan atas itu.


Setelah scan barcode, mereka mengangguk satu sama lain. “Silakan, Tuan, Nyonya,” ucapnya mengembalikan ponsel Richard.


“Terima kasih,” ucap Richard segera mengajak istrinya masuk diantar oleh salah satu bodyguard.


Rihana yang tiba di belakang mereka terkejut saat melihat kehadiran sepasang suami istri itu. Apalagi mereka terlihat begitu romantis.


“Kok mereka bisa ikut acara ini sih?” gumam Rihana


 


 


 


Bersambung~


 


 


Bismillah...semoga bulan ini istiqomah upnya 😁

__ADS_1


__ADS_2