SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 60 : PINDAH


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Richard kembali. Tidak ada kata apa pun, melainkan kecupan yang mendarat di kening Velyn. Begitu lembut, dan begitu dalam. Hingga berhasil membungkam bibir wanita itu.


“Permisi, dengan Nyonya Evelyn?” Seorang perawat mendatangi dengan peralatan medis untuk memeriksa kondisi Velyn.


“Ya, silakan,” sahut Richard menegakkan tubuh lalu mundur beberapa langkah. Memberikan jalan untuk memeriksa kondisi istrinya.


Pria itu melipat kedua lengannya di dada. Senyum terus mengembang di bibirnya, yang sontak membuat Velyn mengernyit bingung.


“Keluhannya apa, Nyonya?” tanya perawat setelah menyelesaikan pemeriksaan tensi darah, dan mengisi pada rekam medisnya.


“Pusing, muntah-muntah, lemes,” sahut Velyn menyebutkan.


“Badmood, marah-marah nggak jelas, tiba-tiba cengeng jangan lupa ditulis juga, Sus!” tambah Richard terkekeh.


“Richard!” Velyn mencebikkan bibirnya, ingin menyanggah, tetapi benar adanya.


“Apa sedang datang bulan? Sudah berapa kali muntahnya?” tanya suster tersebut sambil tersenyum. Apalagi lirikan matanya mengarah pada lelaki gagah di sebelahnya.


“Nggak!” sahut Velyn singkat, sebelah alisnya terangkat. Ekspresinya pun berubah tak bersahabat.


“Tuh lihat aja, Sus. Mood-nya gampang berubah," goda Richard sembari tertawa.


Velyn hanya memutar bola matanya malas. Mengubah posisi membelakangi suaminya. Ia malas terus digoda seperti itu, sekaligus tidak suka ada wanita yang memperhatikan suaminya.


“Baiklah, mohon tunggu sebentar ya, selanjutnya biar Dokter yang memeriksa,” ujar suster tersebut segera pamit undur diri setelah memasang infus di tangan Velyn.


Richard melenggang mendekati brankar, merapikan rambut panjang Velyn yang terurai. Agar sang istri merasa nyaman. Velyn masih bergeming membelakangi lelaki itu.


“Icad!” Tiba-tiba suara familier terdengar di telinga mereka. Wanita berjas putih khas kedokteran, baru saja menyibak tirai ruangan. Matanya membeliak saat melihat orang yang sangat ia kenal di hadapannya.


Richard dan  Velyn sontak menoleh, mereka juga sama terkejutnya. Dengan menahan pusing di kepalanya, Velyn beranjak duduk.

__ADS_1


“Kamu?” ucap Velyn, emosinya tiba-tiba menanjak.


“Yaampun, Icad! Akhirnya kita bisa ketemu. Perjuanganku pindah ke sini rupanya nggak sia-sia! Aku bingung harus cari kamu ke mana. Ternyata Tuhan begitu baik, sepertinya kita memang jodoh, Icad. Karena dipertemukan lagi.” Caty—mantan Richard, ternyata sudah berpindah tugas di Negara A.


Sejak pertemuannya dengan Richard terakhir kali, Caty semakin terobsesi dengan lelaki itu. Apa pun akan dia lakukan demi bisa kembali dengan Richard. Tidak peduli akan status pria itu. Seperti saat ini, Caty bahkan tidak peduli akan pasien sekaligus istri sah dari Richard. Ia justru hanya fokus pada lelaki itu.


Richard menghela napas kasar, “Tolong periksa istri-ku! Bukankah seorang dokter telah disumpah agar bekerja dengan profesional?” tegas pria itu menekankan kalimat istriku. Takutnya Caty lupa jika sekarang statusnya sudah berubah.


“Ah, iya. Maaf. Saking bahagianya aku ketemu kamu, Icad. Aku kangen banget sama kamu! Oke, sebentar aku periksa dulu,” sahut Caty mengikis jarak di antara mereka.


Melihat bagaimana perawakan sang mantan yang makin mempesona di matanya, ia sungguh semakin tergila-gila. Sengaja berjalan begitu rapat di dada Richard, mengibaskan rambutnya yang begitu harum demi bisa menarik perhatian lelaki itu.


“Hmmpp! Nggak usah!” tutur Velyn menutup mulutnya yang nyaris mengeluarkan cairan kembali. Perutnya serasa diaduk-aduk sejak tadi.


Langkah Caty berhenti saat Richard sedikit memberi dorongan pada bahu Caty, ia terkejut untung saja tidak terjatuh.


“Sayang!” Richard terlihat sangat khawatir, segera melangkah dan menangkup kedua bahu istrinya. “Mual lagi?” tanyanya menangkup sebelah pipi istrinya. Keduanya saling berpandangan.


Velyn mengangguk cepat, maniknya berkaca-kaca. “Nggak mau di sini. Aku mau pulang aja,” rengeknya memohon dengan suara serak.


“Nggak mau di sini. Ayo pindah!” ungkap Velyn sekali lagi. Napasnya tersengal-sengal. Ia langsung menarik infus yang belum lama terpasang di tangannya.


“Hei!” Richard langsung menekan darah yang mengalir dari lengan istrinya. Menoleh pada suster agar cepat bertindak. Untung saja, perawat cepat tanggap. Lalu segera menutup bekas jarum infus tersebut dengan kapas dan plester.


Caty berdehem keras, ia memutar bola matanya malas. Dadanya mendadak panas melihat kemesraan suami istri di hadapannya itu.


“Kayak gini dijadiin istri. Malah ngelebihin bocah. Nyusahin kamu tahu nggak, Cad?” cibir Caty bersuara pelan, tetapi masih bisa didengar jelas oleh Richard.


“Aku bahagia bersamanya. Aku juga mencintainya. Mau seperti apa pun bentukannya, Velyn adalah istriku!” tegas Richard sembari menyelusupkan lengan di bawah kaki Velyn dan juga pada bahunya.


Tanpa basa basi, Richard bergegas membawa sang istri keluar dari sana. Ia sangat paham atas ketidaknyamanan Velyn saat bertemu dengan Caty.

__ADS_1


“Loh, mau ke mana, Cad? Kembalilah, aku akan memeriksanya!”


“Nggak mau! Takut kamu suntik mati!” sahut Velyn walau tak berdaya. Ia masih bisa melirik tajam dokter yang dilalui Richard begitu saja.


Kedua tangan Caty mengepal dengan kuat. Ia benar-benar merasa marah dan tidak terima melihat kebahagiaan dua sejoli itu.


\=\=\=\=OoO\=\=\=\=


Sesampainya di parkiran, Velyn menepi dan memuntahkan isi perutnya. Richard masih setia memegangi rambut panjang Velyn sekaligus memijit tengkuk sang istri.


Mereka tak peduli akan semua tatapan yang mengarah padanya. Selesai menuntaskan muntahnya, Velyn berpegangan erat pada lengan suaminya.


Richard memapahnya masuk ke mobil, meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan wajah wanitanya. Setelahnya, ia membelai perut Velyn yang masih datar. Mendekatkan bibirnya di sana, lalu memberikan sebuah kecupan.


“Halo, junior Papa, jangan siksa Mama begini ya. Kasihan, Sayang!” gumamnya mencium kembali bertubu-tubi.


“Richard! Apa maksudmu?” tanya Velyn menahan wajah Richard, mendongakkannya hingga kini mereka saling bertatapan.


“Aku yakin, benih kualitas premium Richard mulai berkembang di sini. Di rahim kamu,” sahutnya terkekeh.


Velyn ikut terkekeh mendengarnya, “Haha! Jangan terlalu yakin, Richard. Takutnya kamu akan kecewa,” ucap wanita itu.


“Kalau nggak percaya ayo masuk. Biar diperiksa!” ajak Richard mengulurkan lengannya.


Velyn menunjuk hidungnya sendiri, “Aku? Masuk ke sana dan diperiksa sikucing liar tadi? Enggak! Nanti aku diapa-apain lagi!” celoteh Velyn kesal.


“Haha! Jangan berburuk sangka, Sayang. Dia ‘kan sudah disumpah waktu menjadi dokter, tidak mungkin punya niat untuk melenyapkan kamu, Sayang.”


“Kamu belain dia?” seru Velyn mengerutkan kening dengan bibir mengerucut. “Yaudah sana kamu aja yang periksa. Nggak usah peduliin aku yang ngerepotin dan kayak bocah ini. Sana masuk! Biar ketemu lagi sama ular keket itu! Biar gatel sekalian kalian berdua!”


Velyn langsung terdiam mematung kala bibirnya dilahap oleh sang suami. Matanya membeliak, apalagi ciumannya terasa begitu agresif dan semakin dalam.

__ADS_1


 


 Bersambung~


__ADS_2