
Sonia yang mengira Richard sudah pergi kini mulai panik. Ia hendak kembali masuk, namun tangannya keburu dicekal oleh Richard. Meski lelaki itu tersenyum, tapi senyuman itu mampu membuatnya bergidik.
“Oh, rupanya kamu tidak ada jeranya? Harus dengan cara apa untuk membuatmu jera?” geram Richard mencengkeram kuat lengan Sonia.
Wanita itu meringis, ia tidak bisa melepaskan diri. Sonia beralih pada Virgoun, berharap bisa menolongnya. Tapi rupanya, pria tua itu angkat tangan, tidak ingin ikut campur. Virgoun hanya bergeming melihat dia kesakitan dan terancam seperti itu.
“A ... aku tidak salah! Velyn yang salah karena dia telah menghancurkan hidup dan impianku! Dia telah menghancurkan semuanya!” teriak Sonia berusaha melepaskan tangannya, walaupun tidak bisa. Justru ia semakin merasa kesakitan karena cengkeraman Richard semakin kuat.
Sebuah tamparan menghantam pipi Sonia, bibirnya merapat seketika. Satu tangannya menyentuh pipi yang terasa kebas dan perih.
“Kehancuranmu itu karena kamu sendiri. Bukan salah orang lain apalagi Velyn! Sudah merebut kekasih sahabatmu dengan cara kotor, saat semua berbalik kamu justru menyalahkan Velyn? Otak kamu pindah di kaki apa gimana?” sentak Richard murka karena istrinya disalahkan.
Tidak ada yang berani melerai, Richard terlihat menakutkan ketika sedang marah. Pria itu menyeret Sonia dengan kasar, tidak peduli langkahnya terseok-seok. Sudah cukup ia membiarkan Sonia berkeliaran bebas, ternyata sanksi sosial yang sempat menyerang Sonia, tak cukup membuatnya bungkam.
Sesampainya di tempat parkir, Richard mendorong Sonia di kursi penumpang belakang. Menutup pintu dengan kasar lalu berlari menuju balik kemudi. Dengan kecepatan tinggi, pria itu bergegas meninggalkan VH Group.
Sonia ketakutan, ia mulai menangis, pandangannya mengarah keluar jendela. Tubuhnya gemetar seketika, “Ka ... kamu mau membawaku ke mana? Hentikan. Turunkan aku!” seru wanita itu yang sama sekali tak digubris oleh Richard.
Beberapa waktu berlalu dengan teriakan-teriakan Sonia, akhirnya mobil berhenti di sebuah perumahan tidak terlalu mewah. Richard bergegas turun, mengunci mobilnya agar wanita itu tak bisa kabur.
Bel ditekan berulang dan tidak sabar. Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria yang baru bangun tidur.
Pria itu tersentak kala melihat Richard berdiri di depannya. Seketika rasa kantuknya menguap begitu saja.
“Ada barang baru! Terserah mau kamu apakan. Ambil sendiri!” perintah Richard menyerahkan sebuah kunci mobil.
“Richard?” Ale mengerutkan keningnya melihat mantan pelayan di bar tempat ia bekerja berpakaian kantoran seperti itu.
Matanya mendelik tak percaya, bahkan sampai menguceknya berulang kali, pandangannya tidak salah. Pria di depannya memang benar pelayan bar yang sempat ia hina dulu.
__ADS_1
“Tidak usah banyak tanya. Ingat, jangan sampai kamu lepaskan dia. Kalau kamu lepaskan, kamu yang akan tanggung akibatnya!” ancam Richard dengan tatapan serius.
Ale benar-benar tidak mengerti, ia menautkan kedua alisnya. Richard mengedikkan dagu ke arah mobil lalu melenggang dengan langkah panjangnya.
Ale mengekor, ia melakukan apa yang diucapkan oleh Richard. Sempat menoleh pada Richard yang kini menganggukkan kepala. Ale menyeret Sonia keluar dan membawanya masuk ke rumah.
“Wow, lumayan,” ucap Ale segera mengunci pergerakan Sonia, mencumbunya penuh semangat. Apalagi pemberontakan Sonia semakin menaikkan hassratnya.
Hidup wanita itu semakin jatuh ke dalam pusaran kegelapan. Bahkan semakin hancur di tangan Ale. Pria itu memang terkenal tak berhati. Tentu saja dengan senang hati akan melakukan perintah Richard, walau sebenarnya masih dipenuhi tanya mengenai lelaki itu. Tapi Ale tidak peduli.
\=\=\=000\=\=\=
Beberapa waktu sebelumnya....
Setiap malam Sonia menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan. Hingga sebuah ide terlintas di benaknya, ketika ekor matanya menangkap mangsa yang menurutnya bisa menuntaskan dendam di hatinya.
Sonia beranjak dari kursi putar yang cukup tinggi itu, melenggang santai sembari membawa satu gelas minuman alkohol favoritnya.
“Selamat malam, Tuan Virgoun.” Sonia duduk di atas pangkuan pria yang seluruh rambutnya sudah memutih itu.
Virgoun Hessel, pria terkaya no. 4 di negaranya itu, menjadi santapan empuk bagi Sonia untuk melancarkan balas dendamnya. Jari jemari lentik Sonia menyusuri wajah pria tua itu. Senyuman menggoda dan tatapan genit ia pasang sebaik mungkin.
“Ah, kau pandai sekali menggoda, Nona Manis. Haruskah aku memakanmu sekarang?” Suara berat yang dengan senang hati menyambutnya. Pria itu merapatkan tubuh Sonia, hingga tak ada jarak di antara mereka.
“Eemm ... Anda akan mendapatkan semua yang Anda inginkan, Tuan Virgoun. Tapi ... tentu saja tidak gratis,” sahut Sonia tersenyum smirk. Jemarinya tak henti menyusuri rahang tegas pria tua itu.
“Apa pun! Apa pun akan aku lakukan, Sayang! Aku tidak tahan lagi!” Virgoun segera beranjak, menyeret Sonia ke sebuah kamar VIP yang ada di dalam bar tersebut.
__ADS_1
\=\=\=000\=\=\=\=
Sonia mengerjapkan mata kala sinar mentari mengusik tidurnya yang baru beberapa saat lalu. Demi melancarkan misinya, ia rela menggadaikan tubuhnya pada pria tua kaya raya.
Wanita itu melenguh, memijat keningnya yang terasa pening. Semalaman penuh ia harus melayani Tuan Virgoun hingga kehabisan tenaga. Tubuhnya terasa remuk redam di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
“Kau sudah bangun, Sayang? Terima kasih banyak. Servis semalam luar biasa! Lain kali aku akan mencarimu lagi. Ini ambillah!” Virgoun mengeluarkan seribu dollar yang memang sudah disiapkan bawahannya semalam. Menyodorkannya pada Sonia.
Wanita itu beranjak duduk, membelit selimut hingga dadanya. Menerima uang tersebut, namun menahan tangan Virgoun. “Anda tidak lupa janji semalam ‘kan?”
Virgoun tampak berpikir sejenak, “Tentu saja tidak. Menghancurkan Perusahaan Narendra, bukan hal yang sulit,” tutur lelaki itu mengancingkan kemeja panjangnya. Ia memang sudah membersihkan diri sedari tadi.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Virgoun membungkuk, mencium bibir Sonia lalu melenggang sembari mengenakan jas mahalnya.
Sonia tersenyum, lama kelamaan tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Mampus kau Vellyn. Kamu telah menghancurkan hidupku. Maka, kamu juga tidak boleh hidup bahagia. Sebentar lagi, aku akan melihat kehancuran kamu dan keluargamu!” teriak Sonia dengan tawa yang tak kunjung mereda. “Aku tidak sabar menantikan hari itu tiba. Aku akan menjadi orang pertama yang bertepuk tangan atas kehancuran kamu, Vellyn. Haha!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Richard menepi sejenak di tengah jalan. Meraih ponselnya yang bergetar dari dalam jasnya. Bibirnya tersenyum tipis, melihat nama sang istri tengah meneleponnya.
“Ha....” Belum sempat menyapa, suara Velyn sudah terdengar di ujung sana.
“Richard kamu ke mana aja? Kenapa sedari tadi tidak bisa dihubungi , hah? Kamu ke mana sebenarnya? Kenapa tidak nungguin aku bangun? Apa jangan-jangan sengaja karena ingin keluar sendiri terus tebar pesona ke sana ke mari!” cecar Velyn dengan nada merajuk.
Bersambung~
__ADS_1