
Velyn menahan napasnya sesaat, bibirnya masih terbuka, namun tubuhnya membeku kala Richard begitu dekat dengannya. “A ... ah, apa? Hehe,” gumam Velyn terkekeh. Bingung apa yang akan dia ucapkan.
Apalagi, kini Richard menatapnya lekat-lekat. Semakin membuat wanita itu gusar. Ia memundurkan punggung bermaksud sedikit membuat jarak dengan sang suami. Tetapi, gerakannya terhenti oleh lengan kekar Richard yang kini melingkar di pinggang rampingnya.
Richard menatapnya lekat-lekat, darah Velyn berdesir dengan kuat seiring embusan napas hangat lelaki itu, menerpa wajahnya. Helaan napas berat berembus, jemari Richard sibuk merapikan rambut istrinya. Bibirnya menyungging senyum tipis, “Kamu masih sakit, sehatkan dulu badanmu. Gimana kabar perusahaan?” tanyanya membuat Velyn menggigit bibir bawahnya.
“Sudah ditangani Stevy. Berkat bantuanmu, banyak perusahaan berbondong-bondong menanam saham di perusahaan papa atas rekomendasi kamu. Karena itu kondisi perusahaan papa sudah stabil. Makanya aku berani keluar nyari kamu ke mana-mana,” papar Velyn menatap dengan lembut. “Terima kasih banyak, Cad. Aku nggak bisa bayangin kalau nggak ada kamu,” sambungnya menggenggam jemari Richard dengan erat.
“Sudah tugasku. Sebenarnya rahasia, tapi kamu sudah tahu sendiri. Ah enggak seru. Padahal gemes liat kamu marah-marah cemberut nggak jelas. ‘Diem, Richard! Kamu nggak tahu apa-apa. Jangan ikut campur!’ Haha.” Puas sekali lelaki itu meledek istrinya, menirukan gaya bicara Velyn waktu itu.
Sontak saja wajah cantik itu memerah bak kepiting rebus. Bibir tipisnya mengerucut lucu, “Iihh ngeselin, Cad! Tahu gitu aku serahkan semua sama kamu. Aku tinggal tidur cantik dan semua beres!”
“Kamu sendiri yang enggak percaya, Velyn!” Richard terkekeh sembari mencubit hidung mancung Velyn dan menggerakkannya.
Kalah telak, wanita itu memilih menghambur ke pelukan Richard. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Richard mengulum senyum di bibirnya, membalas pelukan sang istri.
“Jangan bicara apa pun mengenai aku pada keluargamu. Sebenarnya, aku juga tidak sebaik yang kamu bayangkan. Masa laluku mungkin lebih buruk dari orang tuamu. Aku ingin mereka bisa berubah, terutama bisa menghargaimu, kalau tidak bisa baru kita bertindak. Dan kamu, harus ikut ke mana pun suamimu melangkah!” titah Richard bernada serius.
Velyn mendongak, manik matanya berkaca-kaca. Ucapan Richard sepenuhnya benar. Memang selama ini jerih payahnya tidak pernah bernilai di mata keluarganya. Hanya Richard dan Stevy yang mengerti akan posisinya. Perlahan ia mengangguk, mengiyakan ucapan sang suami. “Tidak peduli seburuk apa masa lalumu. Karena yang aku kenal Richard saat ini, Richard yang baik dan suamiable.”
“Apaan suamiable?” sahut Richard terkekeh. “Baiklah, sekarang istirahat. Jangan pikirkan apa pun lagi. Ada bahu kokoh yang bisa menjadi tempat bersandarmu!” sambung lelaki itu yang mendadak jadi puitis, menepuk-nepuk bahunya.
Kening Velyn mengernyit, “Nyontek di mana kalimat itu?”
“Ah, itu tadi baca quotes di gelas kopi moonbucks,” sahutnya terkekeh merebahkan tubuh istrinya yang tertawa terbahak, satu lengannya menjadi bantalan wanita itu, sedang tangan satunya melingkar di perut Velyn.
__ADS_1
Tidak terjadi apa pun, pasangan itu hanya tidur mengistirahatkan jiwa dan raga mereka. Richard masih terjaga, sedangkan Velyn memilih memejamkan mata. Malam pertama yang cukup berkesan bagi mereka setelah hampir 3 bulan menikah. Karena untuk kali pertama mereka tidur di ranjang yang sama.
Setelah beberapa lama, Richard tak kuasa menahan kantuknya. Berkali-kali menguap dan matanya terpejam dengan sendirinya. Giliran Velyn yang membuka mata. Ia memang belum tidur sebenarnya. Dipandanginya lekat-lekat lelaki tampan dan hebat di depannya. Memberanikan diri membelai pipi suaminya dengan lembut.
Tanpa disangka, netra lelakinya kembali terbuka sembari menggenggam jemari istrinya. Sontak saja membuat Velyn terkejut dan ingin menariknya. Tapi, tidak bisa. Terlanjur.
“Enggak bisa tidur? Pengen banget ya?” goda Richard hingga Velyn segera memalingkan muka.
“Sulit dipercaya kamu bisa menahan hassratmu selama itu, Cad.” Pikirannya tiba-tiba menerawang ke mana-mana. Sebagai laki-laki normal, sudah pasti sangat membutuhkannya. Ketakutan menyergap batinnya. Andai suaminya ternyata menjajak wanita di luaran sana, dadanya tiba-tiba sesak.
Richard mencium tangan kecil itu bertubi, menatap istrinya dengan serius, “Kamu pikir sabun di kamar mandi cepat habis ulah siapa?” ujar lelaki itu.
Velyn bergeming, menelan salivanya sembari mencari jawaban atas ucapan suaminya.
"Tidak dapat dipungkiri, hassratku memang sering bangkit setiap kita berada dalam satu kamar. Apalagi setiap selesai memijat kamu. Tongkat sakti ini akan selalu bereaksi sehebat ini. Satu-satunya jalan ya solo karier sama sabun kamu. Karena aku hanya ingin menyentuhmu, ketika mendapat izin dari kamu. Aku tidak ingin semakin menyiksa kamu dengan keegoisanku,” papar Richard membimbing tangan suci itu tepat di pangkal pahanya.
“Kamu yakin?” tanya Richard menaikkan pandangan istrinya, dibalas anggukan oleh Velyn.
“Jangan pernah tarik ucapanmu, karena aku akan sulit berhenti.” Binar di mata Richard tentu saja tidak dapat disembunyikan. Kesabaran yang seluas samudera, kini mulai menuai hasilnya.
Richard langsung menyambar bibir tipis wanita itu. Jemarinya sibuk membuka kancing yang melekat pada baju istrinya. Tanpa melepas pagutan itu, hassratnya kian membumbung tinggi ketika mendengar lenguhan dari istrinya. Bibirnya semakin turun meninggalkan jejak-jejak percintaan di leher dan dada sang istri.
Bak disentuh pertama kali, tubuh Velyn menegang, tapi sangat menikmati setiap sentuhan suaminya. Mungkin karena dulu dalam pengaruh alkohol dan tidak sadarkan diri, jadi ia tidak mengingat apa pun.
Malam panjang di ranjang empuk yang biasanya dingin tak berpenghuni, kini berubah menjadi panas. Bulir keringat mulai membanjiri keduanya, desah_an dan lengu_han kian memenuhi ruangan di tengah penyatuan mereka yang semakin tak terkendali.
__ADS_1
\=\=\=ooo\=\=\=
Tiga hari tinggal di kediaman Dirgantara membuat Velyn merasakan bahagia seutuhnya. Tidak ada beban pikiran, tidak ada tangis dan ketakutan yang membelenggu setiap waktu. Hari-harinya dihabiskan dengan canda tawa sembari mengurus kakek. Walaupun Velyn harus banyak bertanya pada perawat atau Bibi, apa yang akan ia lakukan.
Hari ini, dengan berat hati, Velyn harus meninggalkan kedamaian hidupnya yang sangat singkat itu. Karena harus pulang ke negaranya.
“Kakek, harus sehat-sehat ya. Velyn akan sering mengunjungi kakek,” pamit Velyn mencium tangan renta Kakek Alex.
“Iya, Sayang. Kakek menunggu. Icad, jangan buat cucu Kakek kelelahan. Kalau kelelahan agar segera mendapat cicit tidak apa-apa,” seloroh Kakek tertawa di ujung kalimatnya. Velyn hanya menunduk, malu mendengarnya.
“Hmm ... kami berangkat, Kek. Jangan izinkan siapa pun masuk selain Delon. Rumah sudah aku tambah penjaga, Kek!” tutur Richard giliran mencium tangan sang kakek.
\=\=\=\=000\=\=\=
Tiba di kediaman Narendra, Richard memeluk pinggang ramping istrinya. Penampilannya kembali seperti dulu saat pertama kali datang ke rumah ini. Tidak ada jas mewah atau barang branded seperti yang ia kenakan selama tinggal di negaranya.
“Tidak usah takut. Hadapi! Aku yang lari,” canda Richard membuat istrinya mendelik mencubit pinggang suaminya.
“Aaaaa! Bercanda, Sayang!” pekiknya mengusap pinggang akibat cubitan maut itu. Padahal niatnya hanya ingin mencairkan ketegangan istrinya saja.
Pintu terbuka membuat keduanya berdiri tegap tanpa jarak dan saling memeluk. Yah, Velyn juga membalas pelukan itu. Keduanya sudah bisa dikatakan pasangan suami istri. Detak jantung Velyn semakin menggema di dalam sana.
Bersambung~
Ciyee Icadd....
__ADS_1