
Sudah dering ketiga, Velyn masih tidak berani mengangkatnya. Ia terus menatap sang suami, berharap pria itu lekas membuka mata. Tapi, nihil. Mau tidak mau, Velyn harus menerima panggilan itu.
“Ehm!” Velyn berdehem lebih dulu, menetralkan debaran jantungnya yang berantakan, menarik dan membuang napas kasar. Barulah menggeser slide layar, meletakkannya di telinga. "Ha ... halo,” sapa Velyn ragu-ragu.
“Nona! Di mana Tuan Muda? Kenapa Anda yang mengangkat ponselnya?” selidik Delon di ujung telepon.
“Eeee ... Delon, bisakah datang ke negaraku?” Velyn mengalihkan pembicaraan.
“Ada masalah apa, Nona? Anda di mana?” tanya Delon panik karena mendengar suara monitor detak jantung.
“Aku tidak bisa bicara lewat telepon. Jadi, tolong datanglah ke sini segera,” tambah Velyn.
“Baik!” tanpa basa basi, pria itu menjawab singkat dan segera mempersiapkan diri untuk keberangkatannya.
Sambungan telepon terputus, Velyn menghela napas lega. Kembali menyimpan ponselnya lalu merebahkan kepala di samping suaminya. Memeluk dada bidang itu dengan tenang.
Tiga puluh menit berlalu, Velyn merasakan gerakan di lengan Richard. Ia menegakkan tubuhnya, menatap lelakinya yang masih memejamkan mata.
“Apa sih! Minggir sana! Jangan dekat-dekat!” Lengannya menepis Velyn, bahkan mendorong kepala wanita itu.
Velyn membelalak, mulutnya juga menganga dengan lebar. “Richard, kamu sudah bangun? Hei, buka matamu,” ucapnya panik.
“Jangan dekat-dekat. Kamu menjijikkan!” racau lelaki itu tanpa membuka mata.
“Menjijikkan apanya? Aku masih wangi kok, walaupun belum mandi. Kan kamu juga sama, belum mandi!” ketus Velyn mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Suster yang tengah memantau kondisi Richard terkekeh mendengarnya, ia memeriksa detak jantung, infus lain sebagainya. Beralih pada Velyn yang masih mendengkus sebal akibat racauan suaminya.
“Nyonya, tidak usah ditanggapi. Biarkan saja, ini hanya efek anestesi. Pasien belum sadar sepenuhnya,” ucap suster tersebut setelah mencatat semua hasil pemeriksaan.
“Oh, begitu. Kirain ....” Velyn tersenyum malu.
“Tunggu beberapa menit lagi, Nyonya. Permisi, nanti saya akan kembali lagi,” pamit suster tersebut.
Selang beberapa menit, Richard mengerjapkan matanya berulang, menyesuaikan cahaya terang yang menyelusup kornea matanya. Ia juga melenguh pelan, merasakan kepala yang begitu berat.
Pandangan yang semula ke langit-langit, kini mulai mengeliling. Tangannya terangkat menyentuh puncak kepala wanita yang merunduk di sampingnya.
“Richard? Akhirnya kamu sadar!” pekik Velyn menghambur ke pelukan suaminya.
“Aaargh!” Richard menahan suara, kala tak sengaja Velyn menyentuh lukanya.
Richard mengurai senyum di bibirnya, “Enggak apa-apa. Kamu ... berani ke rumah sakit?” ejek lelaki itu. Mengingat, dulu Velyn sangat anti ke rumah sakit.
“Tentu saja! Aku takut terjadi sesuatu sama kamu! Aku khawatir sama kamu,” sahut wanita itu berkaca-kaca.
“Emm ... sosweet. Sini!” Richard melebarkan lengannya, menepuknya pelan agar sang istri kembali memeluknya. Baru beranjak, suster sudah kembali. Melepaskan selang oksigen dan mencabut alat yang tersambung dengan monitor detak jantung.
“Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat, Nyonya,” ucap suster tersebut setelah memastikan kondisi Richard telah stabil.
Velyn hanya mengangguk pasrah, ia turut melangkah serentak bersama perawat yang mendorong brankar pasien.
__ADS_1
“Sudah sadar?” tanya Rendra yang hanya diabaikan oleh Velyn.
Wanita itu memilih mendekati adiknya yang masih setia menunggu di sana. “Ra, pulanglah. Nanti ada orangnya Richard yang datang. Tolong antar ke sini ya,” pinta Velyn pada Debora.
“Siapa, Kak? Laki-laki apa perempuan?” tanya gadis itu antusias.
Velyn mencebikkan bibirnya, “Perempuan!” cetus Velyn asal.
“Yah!” keluh Debora malas. Namun, tetap beranjak meraih tasnya lalu segera bergegas menjalankan perintah sang kakak.
Debora memang sangat menurut dengan Velyn, mengingat kakaknya itu selalu bisa memenuhi segala keinginannya. Karena itulah, ia tidak berani membantah.
Velyn segera mempercepat langkah untuk suaminya, diikuti oleh orang tuanya. Mereka berhenti tepat di depan ruang VIP. Rendra mendelik saat mengetahuinya. Menarik lengan putrinya yang hendak masuk.
“Vel, kenapa kamu memilih ruang VIP?” tanya lelaki itu.
“Tunggulah beberapa jam lagi. Papa akan tahu alasannya. Kalau tidak mau masuk yaudah, silakan tunggu di luar!” jawab Velyn yang langsung tahu isi hati papanya.
“Tapi, Vel....”
Velyn mengangkat telapak tangannya, “Sssttt ... Richard bahkan bisa membeli rumah sakit ini kalau dia mau. Papa sama Mama pulang saja, dari pada berisik dan mengganggu ketenangan pasien!” tukas Velyn memotong ucapan papanya, lalu masuk ke ruangan luas dan sejuk itu. Segera menutup pintunya seolah tidak memperkenankan orang tuanya masuk. Hanya akan semakin membuat tensinya naik.
“Pa, Velyn kenapa selalu bicara seperti itu? Dia sedang berkhayal atau bagaimana?” gumam Sabrina.
“Entah. Kita pulang saja. Kepala Papa mendadak sakit!” keluh Rendra memilih pulang ke rumah.
__ADS_1
Bersambung~