
Tidak ada jawaban dari Velyn, hanya isak tangisnya saja yang memenuhi ruangan. Richard menjapit dagu Velyn dengan dua jarinya, lalu menaikkan pandangan. Menatap begitu dalam kedua netra yang berair dan memerah itu, hingga sebuah sentilan begitu kuat mendarat di kening Velyn.
“Aaah sakit!” rengek wanita itu menekan dahinya. Air matanya semakin berjatuhan, perih dan nyeri mulai menyebar di kepalanya.
Richard menarik bahu sang istri ke dalam pelukannya. Menumpukan kening Velyn pada dada bidangnya. Ini, adalah momen pertama kali ia menyakiti sang istri, sekaligus memeluk istrinya dalam keadaan sadar.
“Ini namanya KDRT, Cad!” gerutunya semakin menenggelamkan kepala di tempat yang begitu nyaman untuknya.
“Makanya, jangan bicara sembarangan. Tadi siapa yang bilang di depan semua orang kalau kamu istriku? Kenapa sekarang malah minder gini? Cerai-cerai kepalamu itu!” umpat Richard dengan deru napas memburu.
__ADS_1
Kedua lengan Velyn terangkat, melingkar erat di pinggang suaminya. Ia semakin enggan menjauhkan tubuhnya, tidak ingin kehilangan kenyamanan yang baru saja ia rasakan. Degup jantungnya seperti melompat ke sana ke mari. ‘Selama ini ternyata aku dibutakan emosi sesaat. Aku bahkan tidak bisa mendapat kenyamanan seperti ini sebelumnya, sekalipun itu Gerald,’ gumam Velyn menarik napas dalam-dalam. Menyimpan di memori otaknya, aroma khas yang menguar dari lelaki itu membuat darahnya berdesir hebat.
“Maaf, sudah kubilang sebelumnya. Aku nggak suka kamu deket-deket dengan wanita lain. Tapi di satu sisi, aku pun merasa tidak pantas berada di sisimu.” Velyn meregangkan pelukannya, matanya kembali berair. Bayang-bayang bagaimana ia dan keluarganya memperlakukan Richard membuat Velyn malu sekaligus merasa tak pantas.
“Ah, rupanya kamu sudah jatuh cinta denganku?” goda Richard menegakkan punggungnya. Menepis jas di kedua bahunya dengan sombong. Merasa menjadi pria paling keren di hadapan Velyn.
“Bukan!” elak Velyn dengan cepat. “Tapi, aku jatuh cinta pada pelayan bar. Pria yang merenggut kesucianku, menghancurkan pernikahanku dengan pria brengsek, namun menjadikan aku ratu di hidupnya. Walaupun tidak pernah mendapat balasan yang baik. Sayangnya, aku terlambat menyadarinya,” imbuhnya dengan bibir bergetar.
“Seandainya aku bukan orang kaya, apa kamu akan tetap mengejarku?” Richard ingin memastikan. Dia juga menatap kedua manik sendu Velyn. Karena mulut bisa saja berdusta. Tidak dengan sorot mata.
__ADS_1
“Justru jika kamu hanya pelayan bar, aku tidak akan pernah ragu untuk mengejarmu, akan aku perjuangkan kamu di depan orang tuaku. Status kamu yang sebenarnya, malah membuat aku minder, takut dan merasa tidak pantas bersanding denganmu,” tutur Velyn sejujurnya.
Velyn menghela napas panjang, lalu tersenyum meski air matanya tak kunjung surut, “Kamu tahu, aku seperti orang gila mencarimu. Ponselmu mati, aku sampai ke villa juga dan ternyata kamu nggak ada. Untung aja aku bisa mencari alamat dari no. rekening kamu. Walaupun mendapatkannya penuh drama, nangis-nangis dan marah-marah nggak jelas di bank.” Bibir Velyn mengerucut, kesal karena tanggapan Richard justru tertawa terbahak-bahak. Ia berdecak kesal, memutar tubuh untuk membelakangi sang suami.
“Vel,” panggil Richard usai memungkasi tawanya.
Velyn bergeming, hatinya campur aduk sekarang. Tapi bongkahan dalam dadanya serasa sudah hancur, lega, karena telah berhasil mengungkapkan hal yang ia pendam selama ini.
“Velyn,” ulang Richard memanggil istrinya. “Mari kita mulai hubungan kita dari awal,” ajaknya dengan suara lembut.
__ADS_1
Bersambung~