SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 69 : KURANG AJAR!


__ADS_3

Velyn menelan salivanya dengan berat, punggungnya semakin merapat pada bantal yang telah disiapkan suaminya. Tangannya refleks memeluk perutnya sendiri. Jiwa keibuan mendadak muncul.


Ia takut, pria yang berstatus kekasihnya sepuluh tahun yang lalu itu, bertindak tidak senonoh. Meski dulu lelaki itu tidak pernah macam-macam padanya, tidak menutup kemungkinan bisa berubah. Apalagi setelah sekian lama berpisah, banyak faktor yang bisa memengaruhi kepribadian seseorang.


“Kenapa? Kok kamu takut gitu? Kayak lagi lihat setan aja,” ucap Gilang terkekeh. Kedua lengannya menumpu di tepi ranjang Velyn. Senyum tak pernah pudar dari bibir lelaki itu. Manik matanya tak lepas dari wajah cantik wanita itu.


“Kamu bahkan lebih menyeramkan dari pada setan!” sahut Velyn ketus.


“Jangan cemberut gitu, Evelyn! Kamu masih ingat ‘kan gimana aku kalau lagi gemas sama kamu?” goda Gilang mencondongkan tubuhnya pada Velyn.


Sontak saja wanita itu menutup mulut dengan kedua tangannya. Bola matanya melebar, kemudian mendorong kening Gilang dengan kasar. Sampai-sampai tubuh lelaki itu terhuyung ke belakang.


“Jangan macam-macam atau aku adukan kamu sama presdir di rumah sakit ini. Biar kamu dipecat sekalian. Mana ada dokter yang selancang kamu!” sembur Velyn mendengkus kesal. Manik matanya juga menyipit tajam.


Tawa bariton menggelegar memenuhi ruang rawat VIP, yang kini ditempati oleh Velyn. Siapa lagi kalau bukan Gilang. Ya, lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman dari wanita itu.

__ADS_1


“Velyn... Velyn. Jam kerjaku sudah habis. Oiya, biar aku perjelas. Orang tuaku adalah salah satu penanam saham di rumah sakit ini. Jadi, sepertinya aduan kamu tidak akan didengar!” cetus Gilang menyandarkan punggung, lalu menumpukan kakinya.


Velyn memutar bola matanya malas, “Kamu nggak berubah ternyata. Masih aja bersembunyi di balik harta orang tua!” sindirnya kemudian meraih remote televisi. Menyalakan alat elektronik itu demi mengusir ketakutan dalam dirinya. Velyn berusaha tenang.


“Cih! Nggak usah munafik, Vel. Nggak ingat apa, dulu pernah biayain gaya kamu yang hedon itu,” sindir Gilang.


“Oh, jadi kamu peritungan? Berapa totalnya? Biar aku ganti semuanya!” Emosi Velyn mulai menanjak.


“Ah, enggak. Jangan salah paham dong, Cantik. Cuma mau membuka matamu saja, sepertinya kamu salah pilih suami. Dari penampilannya saja, sama sekali nggak cocok bersanding sama kamu! Ya ampun, Vel, Vel. Rupanya selera kamu anjlok ya. Memangnya bisa dia memenuhi kebutuhan kamu?”


Raut wajah Velyn memerah, ia mencengkeram remot kuat-kuat. Napasnya mulai berembus tak beraturan. “Jangan bicara omong kosong, Gilang! Semakin tua, bicaramu semakin tak berbobot. Titel dokter rasanya tak pantas tersemat di depan namamu! Jangan ganggu aku lagi. Karena sekarang aku sudah menjadi istri orang!” tegas wanita itu dengan emosi.


“Ah, ya. Satu lagi. Kita PUTUS! Sejak kamu pergi tanpa kata dan tanpa jejak apa pun. Bahkan memutus semua komunikasi yang berhubungan denganku. Jangan harap aku mengemis agar kembali sama kamu! Karena aku telah menikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari kamu!” cecar Velyn terpancing emosi.


Gilang berdiri, lagi lagi ia tertawa. Kali ini berjalan mengitari ranjang, lalu berhenti tepat di samping Velyn.

__ADS_1


Velyn mendongak dengan mata yang memicing tajam. Ia kesal harus selemah ini. Sehingga harus bertemu dengan orang-orang menyebalkan.


“Kamu yakin?” tanya Gilang membungkuk, mengikis jarak beberapa inchi saja dengan wajah Velyn. “Lelaki sampah kayak gitu kamu banggain? Ckckckck! Heran aku, padahal orang tuamu dulu sangat setuju lho kamu pacaran sama aku! Sebagai pewaris tunggal, hidupmu pasti terjamin.”


“Iiihh keluar sana! Suamiku bahkan bisa menjamin aku sampai tujuh turunan, tanjakan dan tikungan! Jangan pernah menilai orang dari luarnya saja! Keluar nggak? Atau aku tekan nurse call sekarang juga?” ancam Velyn menjulurkan tangannya pada tombol di dekatnya.


Gilang masih tertawa santai menanggapinya, “Baiklah, mungkin saat ini masih belum. Tapi suatu hari nanti aku yakin, kamu pasti menyesal dengan semua ucapanmu itu. Dan, kapan pun kamu mau kembali padaku, dengan senang hati aku akan menyambutmu, Evelynku!” ucapnya mencuri ciuman di kening Velyn lalu melenggang keluar ruangan dengan santai.


“Gilang! Kurang ajar!” teriak Velyn membeliak, sembari mengayunkan remote tv yang sedari tadi ia genggang sekuat tenaga.


“CTAK!” Tepat sekali mengenai kepala seseorang.


“Aduh!” keluh orang itu.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2