
Rihana tersentak kaget, pria di hadapannya seperti bukan lelaki yang pernah ia kenal sebelumnya. Ya, Rihana melihat sosok lain dari Richard. Bibirnya sampai tidak bisa berucap apa pun lagi.
“Kamu injak harga diriku, silakan. Tapi ingat, ini terakhir kalinya mulutmu itu merendahkan Velyn. Aku bisa merobek mulutmu dalam sekali gerakan!” ancam Richard tidak main-main. Terlihat jelas dari tatapan matanya yang memancarkan kemarahan.
Velyn menggerakkan lengannya, mencari pegangan saat ia masih membungkuk dan menuntaskan muntahannya.
Richard segera mendekat, merengkuh bahu Velyn sembari merapikan rambut panjangnya. Kemudian memijat lembut tengkuk wanita itu.
“Sudah?” tanya Richard pelan saat Velyn mulai menegakkan punggungnya. Velyn hanya mengangguk sebagai jawaban, tubuhnya melemas, keringat dingin juga mulai membalur di tubuhnya.
Tanpa bicara lagi, dan mengabaikan sekelilingnya, Richard segera menggendong istrinya dan bergegas menuju parkir.
Velyn sudah tak bertenaga, ia merangkul bahu kokoh suaminya. Menyelusupkan wajah di dada bidang lelaki itu. Kepalanya serasa berputar-putar.
“Astaga, Rihana!” seru teman-temannya menyusul. Mereka terkejut melihat Rihana yang memucat, sekaligus gaun dan sepatunya kotor. “Euuuhh! Jijik banget, Ri. Kurang ajar tuh si Velyn!” sambung teman yang lainnya.
Rihana tak menjawab apa pun. Manik matanya masih bergerak mengikuti langkah Richard bersama sang istri dalam gendongannya.
Sementara di dalam ballroom, keriuhan pun mulai terdengar saat nama Richard beserta perusahaan raksasanya terpampang jelas. Mereka benar-benar tidak menyangka, jika orang yang dipandang sebelah mata rupanya presdir hebat dari Negara X.
Delon dan Stevy juga berkemas setelah menyelesaikan semua tugas mereka. Namun, langkah mereka terhenti oleh sekelompok orang yang tadi menolak kerja sama dengan Perusahaan Narendra.
“Tuan! Mari duduk sebentar. Kita lanjutkan kembali perbincangan yang tertunda tadi.” Seorang pria paruh baya menarik sebuah kursi untuk mempersilakan Delon duduk.
“Iya, Tuan. Mari cicipi dulu makanan khas di negara ini. Saya yakin Anda pasti ketagihan setelah mencobanya,” sambung pria lainnya mencari muka dengan mengambilkan beberapa makanan dan meletakkan di meja.
“Tuan, maaf. Tapi, setelah kami pikir-pikir, kami ingin menerima tawaran kerja sama tadi. Maaf, karena tadi kami mengambil keputusan secara terburu-buru!” ungkap pria lainnya secara terang-terangan dan tanpa basa basi.
Delon tersenyum miring, ia memutar sepasang bola matanya dengan malas. Kemudian melirik Stevy yang juga menahan senyum. Tentu saja Delon sangat mengerti, ketika jati diri Richard sudah dibuka, dan tahu jika Perusahaan Narendra berhubungan dengan Dirgantara Corp, hampir semua CEO pasti berlomba mengajukan diri untuk menanam saham tanpa diminta. Keuntungan yang akan mereka dapatkan tidak main-main dan sudah pasti terjamin.
“Begitu ya? Emm... Bukankah tadi saya sudah menawarkan dan menyebutkan clue-nya? Anda semua yang tidak percaya dan justru menganggap omong kosong belaka?” tanya Delon.
“Sekali lagi maafkan kami, Tuan. Tolong beri kami kesempatan. Ee, Nona Stevy, berikan dokumennya!”
“Siapa Anda berani memerintah?” potong Delon dengan tegas. “Kesempatan cuma datang satu kali. Salah sendiri tidak bisa membaca situasi. Hanya orang-orang cerdas yang bisa bekerja sama dengan Perusahaan Narendra. Permisi!” tegas Delon mengedikkan kepala pada Stevy lalu melenggang keluar dengan langkah cepat.
__ADS_1
\=\=\=\=©©\=\=\=\=
Sementara itu, Richard mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia sangat panik melihat wajah pucat sang istri. Tubuhnya pun terlihat lemah tak bertenaga.
“Sayang, kamu masih dengar aku? Vel?” tanya Richard menggenggam jemari Velyn yang terasa dingin. Dalam kondisi panik seperti itu, Richard tidak bisa berpikir jernih.
“Jangan ngebut, Cad. Aku makin pusing!” rengek Velyn tanpa membuka mata. Hanya menyandarkan kepalanya sembari memijit keningnya.
“Oke, maaf. Aku panik. Kita ke rumah sakit?” tawar Richard menurunkan laju kendaraannya.
Nada dering ponsel Richard cukup mengganggu. Akan tetapi diabaikan oleh Richard. Ia tetap melaju dan ingin lekas sampai di rumah sakit.
“Iihh, berisik, Richard! Angkat dong. Atau matiin sekalian!” titah wanita itu menahan mual yang kembali menyerang.
“Hah? Siapa yang mau dimatiin? Aku masih mau hidup, Velyn!” sanggah Richard menyeka keringatnya sendiri yang mulai bermunculan di kening.
Velyn menoleh dengan cepat, ekor matanya meruncing tajam. Suasana hatinya sudah tak karuan, ditambah sang suami yang sedikit konslet. “Richard ponselmu!” seru Velyn mengerutkan bibirnya.
“Astaga! Iya, iya!” seru Richard mulai memelankan laju mobil, kemudian mulai menepi.
“Halo, Pa,” sapa Richard saat sudah mengangkatnya.
“Richard! Richard bisa pulang sekarang?” ucap pria paruh baya di ujung telepon.
“Ada masalah apa, Pa?” tanya Richard menoleh pada sang istri.
“Banyak wartawan yang mulai berdatangan. Apa benar issue yang tengah beredar itu? Kamu? Kamu adalah ahli waris Dirgantara Corp?” cecar Rendra bersemangat.
Richard menghela napas panjang, menoleh pada sang istri lalu berpikir sejenak.
“Richard jawab! Jangan diam saja! Aku harus segera memberi klarifikasi pada media mengenai identitasmu. Papa yakin dengan begini, akan kembali melambungkan nama Perusahaan, Richard!” tambah Rendra karena menantunya tak kunjung menjawab.
“Jangan keluar, Pa. Dan jangan beri klarifikasi apa pun.”
“Tapi, Cad. Ini kesempatan emas! Tidak boleh disia-siakan begitu saja!” kekeh sekali lelaki tua di ujung telepon ingin mendesak Richard agar membuktikan identitasnya benar adanya.
__ADS_1
“Tolong dengarkan Richard. Kalau tidak ingin menyesal!” tegas pria itu lalu mematikan ponselnya. “Ck! Sial!” umpatnya melempar menepuk setir mobil dengan kuat.
Buru-buru Richard menghubungi asisten yang selalu bisa diandalkannya itu. Tak butuh waktu lama telepon pun tersambung.
“Delon, segera hentikan berita yang beredar mengenai aku maupun Velyn! Blokir semua situs, atau ancam dengan tuntutan hukum atas penyebaran identitas pribadi. Terutama para tamu undangan yang turut hadir di acara tadi!” perintah Richard.
Delon membeliak, “Tapi, Tuan....”
“Lakukan saja, Delon! Aku tidak ingin keamanan istriku terancam!” potong Richard tidak ingin dibantah sekaligus mematikan ponselnya. Ia tidak mau tahu bagaimana cara Delon menghentikan semuanya.
Richard kembali melajukan mobilnya, hingga tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti di pelataran parkir rumah sakit.
“Ngapain ke sini, Cad. Aku mau pulang! Abis tidur juga nanti bakal baikan!” rengek Velyn.
Tidak ingin menyahut, karena takut akan menjadi perdebatan, Richard turun dari mobil. Berlari setengah mengitari kendaraan tersebut, kemudian membukakan pintu untuk sang istri.
“Jangan banyak protes, okay?” ucap Richard meraih tubuh wanitanya dan hendak menggendongnya.
“Richard, turunin. Banyak yang lihatin!”
“Kenapa? Kita suami istri. Abaikan aja, mereka yang sinis pasti iri karena nggak digendong suaminya!” balas Richard menendang pintu mobil, melenggang cepat ke ruang IGD.
Seorang satpam segera membukakan pintu dan menunjukkan ranjang kosong.
“Kamu berlebihan, Richard. Aku Cuma butuh istirahat. Ngapain ke rumah sakit segala sih?” protes Velyn hendak beranjak bangun. Akan tetapi, kepalanya yang berdentum kuat mengharuskannya kembali tidur.
Richard meraih pergelangan tangan istrinya, merasakan denyut nadi yang melemah. “Biar dokter yang menentukan, kamu harus pulang atau stay di sini. Tapi sepertinya, akan ada kabar bahagia,” ucap lelaki itu.
“Apa? Mengenai perusahaan? Kalau mereka tahu siapa kamu, jelas lah pasti berbondong-bondong mau kerja sama dengan Perusahaan Papa!” cetus Velyn mengembuskan napas kasar.
“Lihat aja nanti.” Richard mengedikkan bahu, lalu segera memanggil dokter sembari mengurus pendaftaran.
“Apa coba? Lagi males mikir dikasih tebak-tebakan!” Velyn mendengkus sebal, memijit keningnya dengan perlahan.
Bersambung~
__ADS_1