SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 38 : PEMBELAAN


__ADS_3

Debora menelan salivanya dengan berat. Melihat perubahan mimik muka sang kakak, yang menatapnya dengan tajam. Cukup membuatnya bergidik, karena selama ini setahu Debora, Velyn selalu abai mengenai suaminya.


“Eee ... mau ...”


“Mau apa dengan suami Kakak?” sergah Velyn memotong ucapan adiknya. Keningnya sampai berkerut dalam.


“Mau ngucapin terima kasih, Kak. Kan dia yang udah nolongin aku. Andai enggak ada dia, aku enggak tahu jadi apa,” tutur Debora dengan pandangan menerawang jauh.


Senyum tersungging di bibirnya, sepasang netranya terpejam, membayangkan betapa hebatnya Richard waktu menyelamatkannya.


“Ngapain senyum-senyum gitu? Jangan jadikan Richard sebagai fantasi liarmu!” ketus Velyn menoyor kepala adiknya. Rasa iba yang sempat menyergap hatinya, mendadak hilang ketika menyadari Debora senyum-senyum sendiri memikirkan Richard.


Debora menganga, menyentuh kepalanya sembari mencebikkan bibir, “Dih, dulu aja enggak pernah dianggep!”


“Sekarang beda. Awas aja berani membayangkannya, akan kucekik kamu!” Velyn memperagakan kedua tangan di leher Debora, mendorongnya hingga terjatuh di ranjang empuk itu.


Debora tidak diam saja, ia beralih mendorong sang kakak, memukulnya dengan guling yang selalu menemani tidurnya. Velyn menepisnya, sesekali membalas pukulan itu dengan guling yang sama. Tawa dan jerit dua perempuan itu memenuhi udara kamar Debora.

__ADS_1


“Udah ah! Capek.” Velyn beranjak berdiri, meninggalkan Debora yang enggan bangun. Hanya menatap kepergian sang kakak yang semakin jauh.


“Kak!” panggil Debora menghentikan langkah Velyn yang sudah mencapai pintu. Wanita itu berbalik sembai menaikkan kedua alisnya, menunggu kalimat selanjutnya. “Kamu sudah jatuh cinta ya, sama Kak Richard?” tanya Debora memastikan.


“Tentu saja!” sahut Velyn malu-malu, segera keluar dari kamar adiknya.


Saat menutup pintu, tubuh Velyn menabrak dada bidang suaminya. Untung saja, lengan kekar itu sigap menangkap pinggang ramping sang istri.


“Aiihh, ngapain lari-larian? Aku enggak ke mana-mana,” gurau Richard menatap manik wanita itu cukup lama.


Wajahnya berubah masam, kemudian melepas paksa lengan Richard dan melenggang ke kamar, kakinya melangkah begitu cepat. Berharap seperti dalam drama yang sering ditonton Debora, pasangannya akan mengejar ketika sedang merajuk.


Tapi nyatanya, tiba di ambang pintu, Velyn tak merasakan apa-apa. Tidak ada yang mengikutinya. Ia berbalik dengan cepat, matanya melebar karena justru tidak menemukan suaminya.


“Loh, Ke mana Richard?” tanyanya gusar. Pikirannya sudah melanglang buana, netranya menajam kala menatap pintu kamar adiknya yang tertutup. “Awas aja kalau ternyata mulutmu berdusta!” ancam Velyn kembali lagi ke kamar Debora.


Lengannya sudah terayun ingin mendobrak pintu kamar bercat putih itu, tetapi sebuah suara tak asing menyelusup telinga hingga menghentikan gerakan Velyn seketika.

__ADS_1


“Ini dia penipunya! Dasar penipu kamu ya? Sengaja ‘kan kamu menyamar? Apa tujuanmu hah?" Teriakan itu menggema di seluruh penjuru rumah.


Tanpa pikir panjang, Velyn segera berlari menuruni anak tangga, penasaran akan siapa yang membuat keributan di rumahnya.


Tiba di lantai dasar, Velyn mematung. Untuk pertama kalinya, ia kembali bertemu dengan mantan kekasih yang pernah menorehkan luka begitu dalam di hatnya.


Gerald tampak sangat kacau, penampilannya berantakan. Dasi yang biasanya melilit kerah bajunya dengan rapi, kini sudah miring ke mana-mana. Muka yang semakin tirus dan kantung mata yang besar telah menunjukkan seberapa kacaunya hidup lelaki itu.


“Dia, dia telah menghancurkan hidup saya, Om, Tante! Dia juga yang telah merebut Velyn dariku!” pekik Gerald menggila menunjuk Richard dengan penuh emosi. “Dasar biadabb kamu! Kembalikan aset-aset perusahaanku, bangsatt! Kembalikan Velyn padaku, sialan!” umpat lelaki itu dengan kasar.


Velyn yang justru terbakar emosi. Wanita itu melenggang dengan langkah panjangnya, lalu melayangkan sebuah tamparan begitu keras di pipi Gerald. Matanya menatap nanar lelaki itu, deru napasnya memburu. Velyn tidak terima ada yang berkata kasar pada suaminya. Ia berdiri tepat di depan Richard.


“Mulut sampahmu tidak pantas mengata-ngatai suamiku!” ucap Velyn penuh penekanan membela suaminya.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2