SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 44 : MENDADAK LEMOT


__ADS_3

Best... Minta bantuan untuk kasih rate bintang 5 ya... Yang gak suka, please tinggalin aja. Jan lemparin rate bintang 1. Hanya karena satu orang, ratenya langsung jadi 4,8. Selain langsung hilangin mood nulis, level novel juga ikut turun,.. 🥺makasih sebelumnya. Dan mohon pengertiannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa lihat-lihat?” sentak Debora menatapnya tajam, meski masih dalam dekapan sang kakak.


Bibir Delon yang sempat terbuka, kini kembali merapat. Kepalanya tertunduk dalam, rasa bersalah semakin merebak dari benaknya.


“Tanggung jawab kamu!” perintah Richard ketus.


Sontak netranya membelalak, “Tapi, Tuan ... saya tidak menghamilinya. Bukan saya pelakunya,” cetus lelaki itu mengelak. Menggelengkan kepala dengan cepat.


“Siapa yang bilang kamu menghamilinya, bodoh! Otak kamu lemot sekali kalau masalah seperti ini. Kamu hibur dia, kalau bisa hilangkan traumanya. Tidak mungkin aku ‘kan? Bisa-bisa terjadi perang dunia antara aku dan Velyn!” papar Richard ingin menoyor kepala asistennya itu. Tapi, untuk bergerak sedikit saja dia masih kesakitan.


Senyum kecut tersungging di bibir Delon. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Kemudian mulai membuka suara, “Jadi, saya harus ngapain, Tuan?” tanyanya dengan suara pelan. Pekerjaan yang membelitnya sehari-hari, sama sekali tak menyisihkan waktu untuk memikirkan kisah cintanya.


“Dekati lah, ajak dinner kek, shopping atau ke salon. Tu anak sukanya kayak gitu. Beda sama istriku yang pekerja keras!” puji Richard melirik sang istri yang menautkan alisnya bingung. Karena tiba-tiba Richard tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


Delon menghela napas berat, “Jadi, saya harus kerjain yang mana dulu, Tuan? Hari ini saya juga ada pertemuan dengan Stevy, sekrtetaris Nona,” tuturnya bingung sendiri.


“Aiihh, kenapa mendadak kinerjamu menurun? Makan dulu sana biar sat set seperti biasanya! Ajak Debora sekalian!” tandas Richard penuh keheranan.


Tepat sekali dugaan Richard, asistennya itu memang belum sempat mengisi perutnya. Tiba di kediaman Velyn, langsung meluncur ke rumah sakit. Dan ternyata sudah disuguhkan berbagai masalah pelik, menambah sederet pekerjaannya.


“Baik, Tuan!” Delon mulai membereskan kembali laptopnya. Ia beranjak membawa sandal Debora lalu berjongkok dan memasangkannya di kaki Debora.


Kaki gadis itu langsung terangkat. Disembunyikan di atas sofa, Debora memicingkan matanya tajam.


Debora menjauhkan tubuhnya, menatap sang kakak yang kini mengangguk. “Tapi, Kak ....”


“Saya minta maaf, Nona,” ucap Delon tertunduk. “Saya janji tidak akan menyakiti Anda. Untuk menebusnya, mari saya antar ke mana pun Anda mau atau ingin membeli apa pun,” tutur lelaki itu mendongak.


“Delon, biasa aja ngomongnya. Risih aku dengernya!”


“Tapi, Nona....”

__ADS_1


“Umur dia itu jauh di bawah kamu. Lagian kalau kamu seformal itu justru bikin dia nggak nyaman. Jangan kaku begitu. Nih, bawa. Jangan pulangin malam-malam. Nanti Sang Maha Benar akan mengamuk. Ingat ya, jangan sampai lecet dikit aja,” sanggah Velyn yang kini membawa tangan adiknya pada Delon.


Dingin, gemetar, jari jemari Debora saat bersentuhan dengan tangan hangat Delon.


“Udah, enggak apa-apa. Percaya sama kakak. Sana, kuras saja kantongnya. Kamu ‘kan suka belanja,” tutur Velyn mengusap lengan adiknya sembari terkekeh.


Debora melirik ke arah Delon, yang diserahkan kepercayaan sang kakak. Perlahan, menurunkan kedua kakinya.


Baru saja keduanya beranjak, Sabrina menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Matanya langsung menangkap putri bungsunya bersama seorang pria asing. Keningnya mengerut dalam, melangkahkan kaki untuk mendekatinya, “Siapa dia, Ra? Pacar kamu?” tanya wanita itu menaik turunkan pandangan, melihat penampilan Delon yang masih cukup rapi. Apalagi didukung dengan jas kebesaran yang dipakai Debora. Semakin meyakinkan Sabrina, jika lelaki di sampingnya adalah kekasih putrinya.


Binar di mata wanita paruh baya itu semakin cerah, berdehem lalu mendekat pada Delon. “Wah, Ra. Selera kamu bagus juga. CEO perusahaan mana? Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini. Kenalin, saya ibunya Debora,” tutur Sabrina mengulurkan tangan dengan senyum genit.


Bersambung~


Sembari nunggu lagi, bisa mampir di novel keren ini ya, Best... Satu Atap dengan Pria Asing by Chika Ssi


__ADS_1


__ADS_2