
“Tu ... Tuan, selamat datang,” sapa seorang pelayan yang membukakan pintu.
Teriakan dan amarah langsung menyapa telinga mereka, Velyn sampai memejamkan mata. Sudah beberapa lama ia menemukan kedamaian, kini harus kembali mendengar suara orang tuanya yang bagaikan petir menggelegar.
“Terima kasih, Bi,” tutur Richard tersenyum, membawa istrinya masuk.
Pasangan suami istri itu menghentikan langkahnya tepat di belakang Sabrina yang berkacak pinggang. Seperti kebiasaannya sejak dulu, Sabrina selalu mengawasi kinerja para ART, marah jika tidak sesuai dengan keinginannya.
“Itu kenapa bisa bunganya tidak simetris di meja? Sudah saya bilang sebelumnya, jangan pernah ubah letak barang-barang di rumah ini. Masih aja bebal! Sakit mata saya melihatnya!” sentak wanita separuh baya itu pada salah satu maid yang dibawa oleh Richard.
“Masalah kecil ngapain harus dibesar-besarin sih, Ma? Lebay banget!” ketus Velyn yang tidak tahan mendengarnya. Jika sebelumnya ia diam saja karena tidak berani melawan, kini tidak lagi. Karena ia sudah menemukan tameng yang selalu siap melindunginya kapan pun.
Sabrina berbalik, sepasang bola matanya membelalak lebar melihat kedatangan anak dan menantunya. “Kalian! Dari mana saja kalian, hah? Pergi tanpa pamit, tanpa kabar selama berhari-hari kalian pikir ini penampungan apa?!” teriak Sabrina menggelegar.
Velyn sampai memejamkan mata diiringi helaan napas berat. Malu sekali sebenarnya pada sang suami. Anehnya, Richard hanya menunjukkan senyum manisnya.
“Bulan madu, Ma. Selama kita menikah, kami belum pernah menghabiskan waktu berdua. Velyn sibuk mengurus perusahaan yang di ambang kebangkrutan. Sedangkan aku, harus mengurus kerjaan rumah. Jadi, tidak ada salahnya dong kalau kami bulan madu sebentar. Siapa tahu, benihku segera tumbuh di rahim Velyn," papar Richard mengelus perut rata Velyn.
Keributan suara Sabrina menggerakkan suaminya datang, tak lupa bersama anak bungsunya, Debora yang kini sama terkejutnya seperti Sabrina. Tapi tak lama kemudian, gadis itu kembali ke kamar.
“Apa kamu bilang? Bulan madu? Uang siapa yang kalian pakai? Jangan-jangan memakai uang perusahaan!” tuduh Rendra memotong ucapan Richard.
__ADS_1
Pandangan mereka beralih ke atas, di pertengahan tangga, terlihat pria paruh baya itu memasang wajah penuh emosi.
“Tidak, Pa. Seluruhnya Richard yang tanggung. Tanyakan saja pada orangnya,” ketus Velyn tidak terima sang suami dituduh yang bukan-bukan. Kalau saja Richard tidak memintanya diam, mungkin sekarang Velyn akan membungkam Rendra dengan kenyataan, bahwa suaminya-lah pahlawan yang menyelamatkan Perusahaan Narendra.
“Cih! Paling juga enggak jauh-jauh. Nginep di mana? Hotel murahan ya. Mau maunya si Velyn,” cibir Rendra memutar bola matanya malas. Lalu beralih pada putrinya, “Kamu juga! Perusahaan baru mulai membaik malah enak-enakan pergi dengan suami keremu itu!”
Richard hanya menahan senyum, setiap omongan mertuanya hanya angin lalu baginya. Sama sekali tidak pernah dimasukkan hati, sejak pertama mereka bertemu. Justru sekarang, ia merasa kepala Velyn yang berasap. Tidak terima dengan olokan pria tua itu. Tidak ada yang tahu, jika Richard sedari tadi membelai punggung Velyn demi memperluas kesabaran wanita itu.
“Pa, jangan marah-marah terus. Richard bawa oleh-oleh untuk Papa,” ucap lelaki itu membungkuk, membuka kopernya. Sebuah paper bag kecil diserahkan pada Rendra.
“Beli di mana? Enggak level ya kalau di pasar tradisional,” ujar Rendra menyambar paper bag itu dengan kasar.
“Silakan dicek dulu, itu asli. Limited edition. Mama kalau mau, ini juga ada untuk Mama.” Richard beralih mengambil paper bag lain dan menyodorkan pada Sabrina.
Dari paper bag saja sudah terlihat sangat mewah. Sabrina mendelik, namun segera berdehem dan menetralkan ekspresinya. Ia rebut dengan kasar dengan penuh penasaran. Mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam. Dadanya berdebar saat membukanya. Seketika matanya membeliak, silau akan berlian yang tersemat pada sebuah cincin.
Begitu pun dengan Rendra, kagum dengan sebuah jam tangan mahal dan ia sangat tahu itu limited edition. Buru-buru Rendra menutup kotak itu, menatap menantunya dengan tajam.
“Heh, jangan-jangan kamu mencuri? Atau merampok ya, Richard? Dari mana gembel sepertimu bisa memberi kami barang-barang mewah seperti ini?” tuduh Rendra menggenggam erat hadiahnya.
“Ngaku aja, Richard!” tambah Sabrina.
__ADS_1
“Ck! Papa sama Mama pada ngomong apa sih!” ketus Velyn menggamit lengan suaminya, “Ayo ke kamar aja deh, Cad. Percuma kamu baik-baikin. Kamu tetep aja enggak pernah bener di mata mereka,” sambungnya mengajak lelaki itu ke kamarnya.
Richard memanggul kopernya dengan santai. Hingga tiba di depan kamar Debora, keduanya berhenti. “Kamu saja yang kasih hadiahnya,” ujar lelaki itu meninggalkan Velyn sambil bersiul. Teringat bagaimana kondisi terakhir adik iparnya, Richard memilih menghindar.
Velyn menghela napas panjang. Ia juga tidak tahu bagaimana kabar adiknya usai pelecehan yang dialami waktu itu.
Setelah mengetuk pelan beberapa kali, Velyn membuka pintu kamar adiknya. Netranya langsung menangkap Debora yang duduk memeluk lututnya, menghadap keluar jendela. Ia sama sekali tidak tertarik melihat siapa yang menghampiri.
“Ra,” panggil Velyn menyentuh bahunya.
Debora berjingkat, menepis tangan Velyn dengan kasar. Maniknya masih basah, sepertinya habis menangis. “Kak,” panggilnya dengan bibir bergetar.
Velyn meletakkan sebuah parfum mahal di meja adiknya. Sepertinya Debora sedang tidak tertarik dengan benda itu. Velyn memilih duduk di depan adiknya, memeluk gadis itu dengan erat. Meski menyebalkan, Velyn tetap menyayanginya.
“Apa Kakak datang bersama Kak Richard? Di mana dia, Kak? Aku ingin ketemu,” tutur Debora dengan ekspresi yang berubah, usai menyebut nama Richard.
Velyn mengerutkan keningnya, menatap adiknya dengan intens. “Kenapa kamu menanyakan Richard?” selidiknya menatap curiga.
Bersambung~
__ADS_1