SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 54 : UNDANGAN SPECIAL


__ADS_3

Tepat pukul 10 malam waktu setempat, terdengar deru mobil yang memasuki pelataran rumah Stevy. Velyn yang masih terjaga segera melompat dari ranjang dan berlari keluar.


Napasnya terengah-engah, melihat mobil milik asistennya itu terparkir di halaman. Velyn bergeming di ambang pintu, menunggu penumpangnya turun.


Manik matanya berbinar kala menemukan sang suami yang kini mulai berjalan ke arahnya. Tanpa alas kaki dan enggan menunggu lagi, Velyn berlari menghampiri sang suami. Ia langsung melompat di pelukan ria itu, kedua lengannya melingkar erat pada leher kokoh Richard.


“Astaga, Velyn!” seru Richard terkejut, refleks menopang istrinya dengan kedua tangan.


Kerinduan membelenggu benaknya, usai dua hari saling berjauhan, bahkan tidak bertukar kabar. Richard terkekeh melihat tingkah istrinya yang semakin agresif.


“Belum tidur?” tanya Richard melenggang masuk. Dinginnya malam mulai menerpa permukaan kulit, ia tidak ingin istrinya semakin sakit karenanya. Meski kesulitan melangkah, akhirnya mereka sampai di kamar.


“Bentar, pintunya belum aku tutup!” Richard keluar untuk mengunci pintu utama dan juga kamarnya.


Pria itu segera menghampiri istrinya, duduk di tepi ranjang lalu memeluk Velyn dari belakang. “Kangen banget ya?” bisiknya sembari menyisihkan rambut panjang istrinya agar ia leluasa menciumi bahu sang istri yang terbuka.


“Kenapa lama banget? Katanya sebentar. Sekalian aja pulang tahun depan?” gerutu Velyn tanpa mau menatap suaminya.


Terdengar kekehan dari mulut Richard, ia semakin merapatkan tubuhnya, “Sorry. Tapi, kepulanganku membawa kabar bahagia. Semua masalah yang menimpamu dan keluargamu sudah selesai. Tidak akan ada lagi hujatan dan cemooh untukmu lagi,” tutur Richard.


Velyn yang memang sama sekali tidak keluar rumah bahkan sama sekali tidak menonton televisi, terkejut mendengarnya. Ia berbalik, menatap suaminya yang tersenyum dengan lebar. “Serius? Bagaimana bisa?” tanyanya ragu.


“Bisa dong!” sahut Richard membusungkan dada dan menepuknya. “Sekarang kamu sudah bisa tidur nyenyak. Apalagi di pelukan suami!” seru Richard merebahkan tubuh Velyn.


Dua insan itu saling menatap lekat, sudut bibir keduanya tertarik sempurna, gejolak dalam diri masing-masing merebak. Untuk pertama kali keduanya menyelam pandangan satu sama lain begitu dalam. Denyut jantung mereka menggema di dalam sana.

__ADS_1


“Richad, kenapa kamu mau mempertahankan pernikahan kita? Jelas-jelas kamu tidak bersalah. Kamu juga korban. Bahkan di saat semua perilaku keluargaku, termasuk aku begitu buruk, kamu tetap bertahan di tengah hinaan keluargaku,” tanya Velyn. Pertanyaan yang sudah ia pendam beberapa saat yang lalu.


Richard menghela napas panjang, pandangannya beralih ke langit-langit. “Kalau kamu bertemu aku di versi sebelumnya, kamu tidak akan pernah menemukan kebaikan sedikit pun dalam diriku, Vel. Aku bahkan lebih sadis dari orang tuamu. Mungkin, bisa dibilang ini untuk menebus semua kesalahanku dulu, sebelum Kakek mengusirku. Berbagai perjalanan hidup sudah pernah aku lalui,” papar lelaki itu.


“Dan, Kakek yang dulu menolongku pernah mengatakan, jika aku tidak menemukan orang baik di dunia ini, maka aku harus menjadi salah satunya!” sambungnya.


Terenyuh mendengarnya, ia beranjak bangun, merebahkan kepala di dada bidang sang suami. Dia tidak tahu kapan datangnya rasa itu, yang jelas Velyn cemburu jika melihat suaminya dekat dengan wanita lain, ia merasa rindu yang menyiksa kala mereka berjauhan, dan berdebar kala mereka bersama.


“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, kalau suamiku bukan kamu,” gumam Velyn memejamkan mata. Menikmati aroma parfum suaminya yang sudah berbaur dengan keringat. Dadanya semakin bertalu kuat.


Begitu pun dengan Richard. Tingkah Velyn seolah menunjukkan, jika perempuan itu telah menerimanya sepenuhnya. Perlahan lelaki itu mengangkat lengannya, memeluk erat tubuh Velyn. Ia menunduk, mengangkat dagu wanita itu, lalu membenamkan ciuman di bibir tipis Velyn. Dan... penyatuan pun terjadi di antara dua insan itu.


\=\=\=000\=\=\=\=


Richard menjulurkan satu tangannya, meraba-raba nakas dan langsung mengangkat telepon tanpa membaca nama pemanggilnya.


“Hmm!” gumam Richard masih memejamkan mata.


“Tuan, nanti malam ada undangan special pemilik Black Card, lelang dari Audrey Jewellery. Kebetulan lokasinya di Hotel Gripta, tidak jauh dari Perusahaan Narendra,” seru Delon di ujung telepon.


Richard berdecak sebal karena menurutnya kabar yang disampaikan sangat tidak penting. “Mengganggu saja!” ketus lelaki itu sambil menguap.


“Tuan, ini kesempatan yang bagus untuk mempromosikan Perusahaan Narendra. Karena pastinya hanya kalangan elite saja yang akan datang,” papar sang asisten sebelum Richard menutup teleponnya.


Manik mata Richard seketika terbuka lebar. Hendak beranjak, tapi istrinya masih bergelayut di dadanya.

__ADS_1


“Kapan? Jam berapa?” tanyanya melirik istrinya.


“Nanti malam jam delapan, Tuan. Undangannya sudah saya kirimkan. Karena nanti, syarat masuk harus menggunakan undangan. Anda juga bisa membawa pasangan untuk menghadiri acara tersebut.”


“Oke!”


Richard langsung mematikan ponsel tanpa basa basi. Menatap jam yang tertera di layar ponsel. Ternyata sudah menunjukkan jam 10 pagi. Ia tersenyum ketika mengingat bagaimana panasnya pergulatan semalam bersama Velyn. Ia merasa, bak dihujani di padang sahara.


“Vel, bangun. Kita harus pulang. Enggak enak numpang di rumah asistenmu terus,” bisik Richard menciumi seluruh wajah Velyn.


“Jam berapa sekarang?” Velyn terperanjat dari tidurnya. Detak jantungnya bak habis lari maraton.


“Tenang aja, Papa yang ke kantor pagi ini. Sebelum pulang kita ke salon dulu. Nanti malam kita harus menghadiri undangan lelang salah satu brand ternama,” ucap Richard.


Kening Velyn mengernyit bingung, tidak mengerti apa yang terjadi. Bagaimana bisa papanya mau kembali ke kantor. Ia ingat betul, bagaimana sang papa tidak ingin membantunya mencari jalan keluar saat mengalami krisis dulu.


“Sudah, jangan pikirkan. Percaya saja padaku! Ayo mandi!” ajak Richard.


\=\=\=000\=\=\=


Sesuai janji Richard, mereka mampir ke salon ternama lebih dulu untuk perawatan Velyn. Richard menunggu sembari membaca koran yang disediakan oleh salon tersebut.


“Loh! Richard? Ngapain kamu di sini? Nganterin majikan?” ejek seorang wanita berpakaian sexy, ketika baru saja masuk.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2