
Beberapa menit yang lalu, Richard buru-buru melangkah menuju lift untuk turun ke basemen rumah sakit. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Keringatnya sampai bermunculan di kening, yang kemudian diseka menggunakan lengan kemeja.
“It's oke, Icad. Cuma beberapa menit! Nggak sampai sehari,” gumamnya pada diri sendiri, yang mendadak merasa khawatir meninggalkan istrinya sendirian.
Namun, semakin ia melangkah semakin jauh, dadanya semakin berdegup kuat, sampai terasa sesak. Richard menghela napas berat lalu membuangnya dengan kasar. Kakinya sudah menyusuri basemen, mencari-cari keberadaan mobilnya.
Baru sadar ketika tak menemukan apa pun di kantong kemeja, jas maupun celana. Sembari berjalan, Richard terus meraba sekujur tubuhnya.
“Aiih! Di mana kuncinya!” kesal Richard setelah merasa lelah tak menemukannya di mana pun.
Richard berbalik sembari mendengkus kesal. “Buang-buang waktu!” keluhnya.
Tiba di depan kamar Velyn, Richard membeliak saat berpapasan dengan Gilang, dengan kemeja yang berantakan. Panik, takut seketika menjalar hingga ubun-ubun. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Buru-buru Richard melangkah panjang menerobos pintu. Naas, sebuah remot televisi mendarat di keningnya kuat-kuat.
“Aduh!” seru Richard mengerang kesakitan.
Mendengar suara yang berbeda, bahkan sangat dia kenal, Velyn membelalakkan mata. Mulutnya menganga, “Ric... Richard?” gumam Velyn khawatir.
Sambil mengusap-usap kening, Richard segera mendekati istrinya, “Kamu nggak apa-apa? Lelaki itu dari sini? Kamu nggak diapa-apain ‘kan? Atau dia kurang ajar sama kamu?” cecar Richard menangkup kedua bahu istrinya, memperhatikan seluruh bagian tubuh wanita itu lamat-lamat.
Velyn bingung menjawab apa, ia hanya menggeleng tanpa suara. Namun, air matanya meleleh begitu saja. Velyn menarik kerah kemeja Richard, menyembunyikan wajah dalam dekapan dada, lalu menggesekkan keningnya di sana. Ia merasa sangat bersalah pada suaminya, karena tidak bisa menjaga diri.
“Sssttt, aku di sini. Jangan takut!” gumam Richard memeluknya erat, membelai rambut panjang Velyn sembari mencium puncak kepalanya bertubi-tubi.
Tangis Velyn justru semakin pecah. Ia sampai sesenggukan dan memeluk sang suami begitu kuat. Hal itu tentu saja membuat Richard tampak curiga.
Pria itu memicingkan mata ke arah pintu. Tidak ada siapa pun lagi, Velyn menangis tergugu usai melihat Gilang keluar dari kamar rawat istrinya itu.
“Maaf ya, aku sempat ninggalin kamu. Bodoh! Padahal udah tahu ada buaya di sini,” tutur Richard setelah sekian lama.
Velyn meregangkan pelukannya, bibirnya mengerut lucu. Wajah cantiknya basah oleh air mata.
__ADS_1
“Jangan pergi, suruh Debora aja yang datang ke sini,” pinta Velyn dengan suara serak. Ia juga tidak mau kejadian seperti itu kembali terulanf lagi.
“Iya, aku nggak ke mana-mana. Aku tetap di sini,” tutur Richard menyeka air mata Velyn dengan lembut. “Dia... ngapain tadi ke sini?” tanya Richard setelah wanita itu sudah tenang.
“Intinya dia minta aku pisah sama kamu. Terus balikan sama dia. Dia juga jelek-jelekin kamu. Kenapa sih orang-orang suka menilai sesuatu dari penampilannya saja? Dia tuh menghina kamu, Cad.” Velyn bercerita dengan menggebu-gebu.
“Emm, terus kamu mau?” tanya lelaki itu.
“Ya enggaklah! Dia tuh anak mama! Disetir sama orang tuanya. Harta milik ibu bapaknya aja sombongnya selangit. Belum tahu aja siapa suamiku yang sebenernya ini. Kalau sampai tahu, pasti langsung kejang-kejang sampai berbusa!” celoteh Velyn mengepalkan kedua tangannya, lalu mengayunkan dan mendarat tepat di salah satu lengan suaminya.
Richard terkekeh, melihat ekspresi sang istri yang begitu menggemaskan. Ia menyelipkan anak rambut Velyn yang berantakan ke belakang telinga. “Terus? Kamu bilang apa sama dia?”
“Ya aku bilang kalau kamu tuh lebih baik dalam segi apa pun dari dia. Lebih tampan, mapan, ganteng, baik, bertanggung jawab, pokoknya paket komplit ada di kamu semua. Nggak ada yang nandingin!” puji Velyn berbinar membanggakan suaminya. Ia juga genit mencium bibir pria itu.
Tak ingin menyiakan kesempatan, Richard segera menahan tengkuk Velyn, memperdalam ciumannya. Nyaris kehabisan napas kalau saja Velyn tak mendorong dada Richard.
Napas keduanya terengah-engah. Terutama Velyn. “Mmm ... Kelamaan Richard! Nggak bisa napas!” keluhnya dengan nada manja.
Richard mencubit kedua pipi sang istri dengan gemas, tertawa pelan, dalam hati berbunga-bunga. Dunianya seolah dijungkir balik karena kini wanita berstatus istrinya itu semakin bucin dan manja. Entah karena faktor kehamilan atau memang sudah berubah, ia tidak peduli. Yang jelas, Richard sangat bahagia.
“Enggak.” Velyn menggeleng.
“Good girl.”
“Aku lihat, kamu mati-matian menyembunyikan identitasmu. Aku nggak berani,” ucapnya.
Richard beralih duduk, tanpa melepaskan tangan sang istri. “Lebih nyaman seperti ini. Karena di luar sana, pasti banyak yang mengincarku. Makanya, aku nggak mau kamu atau pun anak kita kenapa-napa. Media juga pasti selalu mengejar kita, aku nggak mau kamu terganggu akan hal itu. Kita jadi nggak punya privasi.”
Velyn mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia mengerti, kenapa Richard buru-buru menutup berita mengenai identitasnya. Ia membenarkan ucapan sang suami, tidak akan ada privasi lagi. Setiap gerak geriknya pasti selalu dipantau media. Keselamatannya pun semakin menipis.
Uang dan kekuasaan mampu membungkam seluruh media dan orang-orang yang hadir dalam acara tertutup di kalangan atas kemarin. Delon bisa mengatasi semuanya dengan mudah, bersama beberapa bawahannya yang sengaja ia bawa meski tanpa sepengetahuan Richard. Ia hanya waspada saja, setidaknya bisa membantu pekerjaannya selesai lebih cepat.
“Kamu makannya gimana dong?” tanya Velyn, teringat suaminya belum makan apa pun.
__ADS_1
“Gampang, pesen online ‘kan bisa. Mau rebahan lagi?”
“Enggak, mau nonton tv aja. Tapi remotnya....” Velyn mendelik, ia baru teringat jika tadi timpukannya mendarat di kening Richard. “Kepalamu? Kepalamu nggak apa-apa ‘kan, Cad? Maaf, aku nggak sengaja,” ucap Velyn merasa bersalah.
Richard tersenyum, menyentuh keningnya sendiri yang sebenarnya terasa sakit, “Sakit dikit. Nggak ngaruh. Masih bisa bikin kamu kelelahan di ranjang,” kelakar pria itu beranjak bangun dari duduknya.
“Heh?!” Velyn tersenyum malu, ia mengusap wajahnya kasar karena membayangkan hal yang tidak-tidak.
Richard memungut remot di lantai, memberikannya pada sang istri, kemudian sibuk menekan ponselnya untuk memesan makanan.
“Ada makanan yang kamu inginkan, Sayang?” tanya Richard.
“Enggak, masih kenyang kok. Cuma mau peralatan make upku aja. Nggak PD sepucat ini,” sahut Velyn membuka kamera ponselnya, menatap wajahnya sendiri.
Richard sampai berhenti, beralih menatap istrinya dengan tajam. “Mau genitin siapa? Gilang?!” tanya pria itu ketus.
“Eh! Bukan. Bukan gitu maksudnya. Ah, nggak tahu. Aku cuma lagi pengen dandan aja. Nggak bermaksud genitin orang kok. Lagian kalau aku cantik juga kamu pasti seneng ‘kan. Nyenengin suami tuh pahala,” elak Velyn mengerucutkan bibirnya. “Kalau nggak boleh yaudah!”
“Enggak boleh!”
“Aaaa, Richad!” rengek Velyn.
“Enggak perlu, Sayang. Mau bagaimana pun kamu, kamu tetap cantik di mataku. Dengan atau pun tanpa make up, sama aja!” tandas Richard dengan tegas.
Velyn berdecak kesal. Pandangannya fokus pada layar televisi. Meski sama sekali tidak menontonnya. Hanya mengalihkan kekesalannya saja. Entah, rasanya kesal sekali. Padahal hanya karena masalah sepele. Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri.
Setelah memilih berbagai makanan, Richard beralih menghubungi Debora. Cukup lama adik iparnya tak menjawab. Hingga akhirnya, Debora menelepon balik.
“Ke mana aja, Ra? Tolong minta sana Bibi siapkan beberapa stel pakaianku. Bawa juga perlengkapan make up, Velyn. Antarkan ke Rumah Sakit Solomon sekarang. Nggak usah banyak tanya atau protes. Lakukan saja!” ucap Richard tanpa jeda.
Velyn yang mendengarnya sontak menoleh, menatap suaminya dengan berbinar. Tidak menyangka suaminya sepengertian itu. ‘Gimana aku nggak nambah nambah terus cintanya sama lelaki ini?’ batinya tersenyum lebar.
“Pulang sekarang. Ada yang gawat!” Debora justru menjawab hal lain.
__ADS_1
Bersambung~