
Sera terkejut melihat luka Rikky yang cukup parah
"Kamu kenapa bisa luka begini?" tanya nya sambil membersihkan luka Rikky dan membalut nya. Sera hanya bisa membalut luka nya, sementara agar darah nya tidak mengalir.
"Sebaiknya kamu segera ke puskesmas agar luka nya tidak infeksi," nasehat Sera.
"Tidak aku tidak mau kerumah sakit, ini cuma luka ringan aku bisa mengobati nya sendiri," ujar Rikky menolak saran Sera.
"Yah sudah itu terserah mu. Kamu belum menjawab kenapa kamu bisa luka begini?" ujar Sera sedikit penasaran.
"Biasalah nama nya juga laki-laki," ujar Rikky tidak mau menjawab pertanyaan Sera.
Rikky menatap wajah Sera yang tidak asing baginya ia pernah berjumpa Sera tapi ia lupa dimana.
"Siapa namamu? Darimana kamu tau nama ku?" tanya Rikky mulai enakan luka nya sudah di balut Sera. Untung saja peluru yang mengenai tangan kakinya tidak terlalu dalam hingga dengan mudah nya peluru jatuh di saat ia berlari tadi sehingga Sera tidak curiga kalau ia habis kena tembak.
"Serius, kamu tidak mengenal ku? ujar Sera balik menatap Rikky.
"Iya serius aku tidak kenal dengan mu, tapi perasaan kita pernah jumpa kan kalau tidak salah...." Rikky mencoba mengingat.
"Dimana?" tanya Sera.
"Dimana ya.... di pesta itu. Iya di pesta itu, itu kamu kan... yang memakai gaun putih," Rikky mulai ingat.
"Kapan?" Sera pura-pura lupa karena malu.
"Di pesta itu. Pesta pernikahan Kinan dan Radit," ujar Rikky ingat kejadian itu.
"Oh yang itu," Sera menaikan alisnya.
"Pantas saja waktu itu dia mengikuti ku," batin Sera.
"Oh jadi orang yang ngikutin aku itu kamu kamu membuatku sudah membuat ku takut tau!" cetus Sera berpura-pura ia pun terseyum.
"Kamu kenapa senyum-senyum? apa ada yang lucu?" tanya Rikky menatap tajam Sera.
"Tidak aku hanya ingat disaat kita pertama kali bertemu itu kejadian nya sudah lama, apa kamu ingat? Oh iya... kamu kan hilang ingatan pasti kamu lupa," terang Sera menyadari kalau Rikky pernah amnesia.
"Kejadian apa? memang nya kita pernah bertemu sebelumnya...," ujar Rikky tidak mengerti.
__ADS_1
"Iya pernah. Saat di Kafe Rini," sahut Sera.
Rikky berusaha mengingat nya.
"Kapan sih...! koq aku gak ingat," ucap nya kesal.
"Sudah lupakan saja. Kamu tidak akan pernah bisa mengingat nya mungkin saat itu kamu masih hilang ingatan," ucap Sera.
"Aku ingat nya hanya saat di pesta itu. Aku mengejar mu sampai ke rumah mu, tapi kamu tidak lihat aku mengikuti mu diam-diam," ucap Rikky jujur.
"Mengejar ku? ngapain? apa kamu kurang kerjaan...?" gerutu Sera memasang muka malas.
"Aku penasaran siapa dirimu waktu itu," ujar Rikky malu
"Hem...," Sera tersipu malu ia menundukkan kepalanya.
"Oya, kamu belum menyebutkan siapa namamu?" ujar Rikky mengalihkan perhatian Sera.
Sera menoleh ke arah Rikky, "Aku Sera. Sambil tersenyum ia mengulurkan tangannya ke hadapan Rikky.
"Oh Sera, nama yang bagus. Senang bertemu dengan mu, makasih ya.. sudah mengobati luka ku," ujar Rikky sambil tersenyum.
"Rikky lucu banget kalau lagi tersenyum," batin Sera tersenyum sendiri.
"Tidak! aku, aku... aku buru-buru," ucap Sera baru sadar ia lupa padahal di suruh Tante nya membeli sayuran. Sera bergegas pergi meninggalkan Rikky.
"Hey... kemari tunggu sebentar." lambai Rikky.
"Aku buru-buru kamu tinggal bentar di situ aku beli sayur dulu buat Tante, habis itu aku temui kamu lagi. Oke!" teriak Sera dari jauh.
Rikky hanya mengangguk.
"Neng Sera mau kemana?" tanya bibik tidak sempat bertanya pada Sera.
"Dia mau membeli sayuran katanya," ujar Rikky memberi tahu.
"Oh...," ucap bibik.
"Bik makasih tumpangan nya aku pamit pulang," ujar Rikky tidak enak sudah merepotkan.
__ADS_1
"Pulang kemana Nak, memang luka nya tidak sakit lagi?" tanya bibik yang tidak mau tau Rikky luka kenapa.
Rikky menjawab, "Sudah lumayan tidak sakit lagi."
Rikky berbohong padahal luka nya masih sangat sakit, ia terpaksa pergi karna takut masih ada polisi y memantaunya.
Rikky pergi dari rumah bibik penjual rujak itu. Di dalam pikirannya berkata, "Sera baik banget pada ku... tapi kenapa iya tomboi begitu?" Rikky tertawa. "dia lebih cocok kalau pakai gaun..." Rikky mulai mengingat wajah Sera saat di pesta itu. Saat itulah awal mereka berjumpa membuat dirinya penasaran.
Sera tidak pokus dengan tugas nya yang di suruh tante nya membeli sayuran lain yang disuruh lain yang di beli nya. Sesampainya di rumah Tante nya ia diomelin habis-habisan oleh Tante nya, karna lama.
Sera meminta maaf ia berkata jujur pada Tante nya kalau ia sedang menolong orang. Tante pun memaafkannya, tapi setelah ia membuka belanjaan Sera emosinya kembali memanas melihat sayur yang di beli Sera lain dengan yang disuruh nya dan ada beberapa jenis rempah juga tidak di belinya.
"Sera... apa-apaan ini! kenapa kamu membeli kol tante tidak menyuruh mu membeli kol," cetus Tante membongkar belanjaan Sera.
"Iya kah memang Tante tadi suruh beli sayur apa?" tanya Sera mulai takut pada tantenya.
"Malah nanyak lagi! kan tante sudah bilang tadi hari tu, tante mau bikin perkedel Sera? kentang nya tidak kau beli jadi Tante mau masak apa? perkedel kol...?" cetus Tante memanas.
"Aduh Tante maaf, sera lupa...," ucap nya ketakutan.
"Pergi...beli lagi dan balikin kol ini! Oya kertas belanjaan yang tante kasi mana?" cetus Tante.
"Kertas... ker-tas... kertas nya ketinggalan Tante," ujar Sera menggigit bibir nya.
"Ketinggalan dimana!" bentak Tante.
"Mungkin jatuh Tante...." mata Sera memerah sepertinya ia mau menangis.
"Dasar gadis b***h! mau jadi apa kamu. Kamu itu perempuan Sera, membeli sayur dan belanja itu tugas nya perempuan masa kamu sudah lama tinggal sama Tante gak bisa bantu apa-apa? Di suruh ini, itu serba gak bisa mau jadi apa kamu?" cetus Tante sebal.
"Maaf Tante Sera lupa...," ucap nya sambil menangis.
Tante memperhatikan Sera baru sadar kalau keponakan tomboinya itu sedang memakai kemeja panjang milik suaminya.
"Ini apa yang kamu pakai kamu pakai kemeja om lagi?" tanya Tante melototi Sera.
"Pinjam Tante. Baju Sera basah semua Sera gak punya baju lain lagi," ujar Sera sambil menagis.
"Gak punya baju kamu bilang!" Tante melotot tidak habis pikir melihat kelakuan keponakan nya yang rada aneh itu karna barusan mama nya menitip kan baju-baju baru buat Sera.
__ADS_1
"Jadi yang mama mu titip kan pakaian yang satu kotak besar waktu itu kemana?" tanya tante heran.
"Ada Tante, di lemari. Sera gak pakai baju begituan lagi," ujar Sera kesal habis di marahi ia berlalu di hadapan Tante nya mau balik ke pasar lagi membeli sayuran yang tantenya mau. Tante geleng kepala melihat kelakuan keponakan nya.