
Setelah beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah Pak Fajar kebetulan rumah Pak Fajar tidak terlalu jauh dari bandara sekitar setengah jam perjalanan. Mobil Pak Hendra lebih dulu sampai dan Keyla menyusul di belakangnya.
Di kejauhan sudah terlihat bangunan mewah itu ternyata itu adalah rumah Pak Fajar.
"Wah, hebat banget Pak fajar bisa miliki rumah semewah itu mudah-mudahan kita bisa miliki rumah seperti itu juga ya Sayang," ucap Aldi pada Keyla.
"Amin." Keyla tersenyum mengiyakan sebenarnya Keyla tidak terlalu tertarik pada rumah yang besar dan terlalu luas karena rumah seperti itu pasti nya akan menyusahkan penghuni nya juga. "Pasti capek bersihkan nya dan butuh art yang banyak. Jika tidak rumah akan tampak jorok," menurut keyla.
"Tidak dong Sayang, kalau di bersihkan gak akan jorok. Kecuali kamu nya yang malas bersihkan," Aldi mencubit dagu Keyla bercanda.
"Aku gak mau punya rumah besar begitu takut nyasar tujuan mau ke dapur malah pergi ke toilet," kelakar Keyla sambil tertawa.
"Kita siapkan denah dong di setiap ruangan biar gak nyasar," tambah Aldi. Keduanya tertawa
Pak Hendra dan Bu May sudah turun menyusul Pak Fajar yang sudah di depan pintu memencet bel di rumah itu.
"Wah ini rumah atau istana?" ucap Pak Hendra memandangi sekeliling nya rumah tersebut yang sangat luas dan mewah.
"Lihat di luar sudah semegah ini apalagi di dalam nya," sambung Bu May ikut terpukau.
"Om... ini benaran rumah atau istana si?" seru Kayla.
Pak fajar hanya tersenyum mendengar semua kagum dengan rumah nya bagi nya itu biasa saja gak ada apa-apanya justru ia kagum pada semua teman nya punya rumah kecil tapi di penuhi dengan anak istri pasti lah akan berarti. Tapi bagi nya itu sebuah mimpi yang akan jadi angan-angan saja.
"Untuk apa sebuah rumah, jika tidak ada keluarga di dalamnya itu akan terasa hampa dan tidak berarti apa-apa," Lirih Pak Fajar berkata kepada semua orang yang ada di situ.
"Aku berniat tahun ini akan segera pindah dari sini aku akan tinggal di sebuah rumah yang sederhana tidak luas begini. Rumah ini akan aku jadi kan panti asuhan dan anak-anak yang kurang mampu." ucap nya.
"Sungguh mulia hati mu Fajar, jarang ada orang yang seperti mu," puji Bu May.
Mereka sudah di bukakan seorang art yang di perkejaan di rumah itu.
"Tuan...! silakan masuk Tuan sudah pulang ya? Kok tidak bilang-bilang mau pulang."
"Iya Bik, barusan aku menelepon ingin mengabari tadi."
__ADS_1
"Oh maaf Tuan, ponsel bibik di kamar."
"Gak apa-apa Bik..."
"Mari semua masuk!" tawar Pak Fajar pada semua.
Semua nya masuk dengan kagum melihat isi ruangan serba mewah menyerupai kastel dinding tampak lukisan besar seorang wanita.
Keyla memperhatikan lukisan itu dan membaca nama di bawah lukisan itu. "Nurmala."
"Siapa dia Om? apa istri Om?" tanya Keyla lancang.
"Hem, iya itu Istri Om. Ia sudah lama meninggal kan Om, sudah pergi ke langit." ucap nya sedih.
"Oh maaf ya sudah membuat sedih. Abis nya aku penasaran sih Om. Itu wajah nya mirif teman aku soal nya." terang Keyla bicara apa adanya.
"Kinan maksud nya?" Fajar menebak.
"Iya Om..."
Wajah itu juga mengingatkan Keyla dengan Mila Sahabat nya saat di pulau. "Dia juga mirif Karmila sahabat aku Om."
"Benarkah teryata ada banyak wanita yang mirip Nurmala."
"Iya Om, kalau Om tidak percaya coba lihat foto ini.
Keyla menunjukan Poto Mila ke pada Pak Fajar.
"Wah ini bukan mirif lagi tapi bak pinang di belah dua. Kenapa wajah mereka begitu mirif." ucap Pak Fajar terbelalak keheranan. Pak Fajar tambah bingung bukan hanya Kinan saja yang mirif ternyata ada lagi yang serupa wajah almarhum istrinya itu.
Semua orang sibuk melihat dan membandingkan wajah ketiga perempuan itu seperti nya memang tampak sama.
"Fajar sebaiknya kamu harus menemui Kinan dan Karmila ini untuk meminta keterangan siapa orang tua mereka aku curiga meraka punya hubungan darah dengan Nurmala istrimu." ucap Pak Hendra ikutan heran.
"Entah lah Hen, aku tidak bisa melakukan nya. Aku ingin dekat dengan Kinan saja dia malah mencurigaiku, beranggapan kalau aku punya maksud jahat terhadap nya. Tapi jujur sebenarnya aku ingin lebih dekat lagi dengan nya ikatan batin ku dengan nya seolah berkata lain. Tapi aku tidak mengerti itu semua. Bagaimana caranya aku bisa dekat dengan Kinan sepertinya ia tidak suka dengan sikap ku." terang Pak Fajar.
__ADS_1
"Kamu tenang saja Fajar, kami akan membantu mu." Sambung Bu May.
"Iya benar Om kami akan membantu Om. Aku ada ide Om, bagaimana kalau kalian tes DNA saja, itu adalah bukti kuat untuk membantu memecahkan teka-teki ini." jelas Keyla.
"Oh iya benar juga kamu Key, kenapa om tidak kepikiran dengan hal itu dari semula. Kamu sangat cerdas Keyla makasih usul mu om setuju."
"Tapi...?"
"Tapi apalagi Om?
"Bagaimana cara nya om bilang nya pada Kinan. mendekati nya saja ia tidak suka dengan Om." ucap Fajar sedih.
"Om tidak usah kuatir soal itu, aku akan membantu Om. Om tenang saja serahin pada keyla saja." jelas Keyla.
"Makasih Keyla, kamu anak baik andai om punya anak sebaik kamu."
"Hem, tidak usah berlebihan seperti itu Om, aku cuma ingin membantu saja." Keyla merendah kan diri.
Mumpung semuanya sudah berkumpul di sini saya ingin mengajak semua nya makan siang di sini," tawar Pak Fajar. Semua nya pun setuju.
Bibik dan art lain nya sudah menyediakan makanan untuk semua nya, mereka pun makan siang di rumah Pak Fajar hari itu.
Pak Hendra juga mengundang Pak fajar dan keluarga Aldi untuk datang malam besok di rumah nya. Karna ia ingin menerapkan hari pernikahan Keyla dan Aldi.
Tidak lupa Aldi mengabari Rini kalau ia sudah tiba di Indonesia ia juga mengundang Rini makan malam di rumah Keyla. Rini pun menyetujui nya.
Saat itu Rini masih berasa di rumah sakit bersama Rikky dan Sera. Rini memberitahu Sera dan Rikky kalau Keyla mengundang nya makan malam di rumahnya Pak Hendra.
Sera dan Rikky menjadi tegang, mendengar kabar itu. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya.
Rini memperhatikan wajah keduanya membuat nya bertanya. "Ada apa dengan kalian kenapa wajah kalian tegang sekali."
"Tidak!" kedua nya menjawab bersamaan.
Rini geleng kepala melihat perilaku mereka. Rini pamit keluar sebentar karna mau menemui dokter.
__ADS_1