
Suatu pagi, Rini dan Sera bersiap-siap akan membawa Rikky ke rumah sakit. Sera dengan kepo nya bertanya keberadaan orang tua mereka. Tiba-tiba saja Rini jadi kesal dan menitiskan air matanya karena memikirkan nasib nya tidak seperti kebanyakan orang yang masih bisa merasakan bahagia bersama keluarga nya.
"Rin... koq kamu menangis ada apa? maaf mungkin aku salah bicara sehingga membuat mu sedih," Sera jadi tidak enak hati membuat Rini teringat mama nya.
"Aku tidak apa-apa Ser... Ayo kita pergi!" ajak Rini mengalihkan. Ia berusaha menguasai pikiran nya dengan sibuk mengemasi perlengkapan yang akan di bawa di rumah sakit, namun air mata nya terus mengalir tidak bisa di bendung nya terlihat membasasahi pipinya. Rikky yang baru saja keluar dari kamar nya memperhatikan adik nya dengan bingung.
"Rin... kamu kenapa?" tanya nya.
"Tidak Bang...aku tidak apa-apa." Rini menyembunyikan wajah nya. "Ayo kita pergi! nanti terlambat," ujar nya mengabaikan ucapan Rikky.
"Rini jawab abang! kamu kenapa?" Rikky menarik tangan Rini dan menatap nya. Melihat wajah Rikky sontak Rini memeluk nya tangisan nya pecah di dalam pelukan abangnya.
"Rini ada apa sebenarnya kenapa kamu menangis seperti ini?" Rikky melirik Sera. Sera mengangkat bahu tidak tau.
Rikky membelai rambut adik nya dengan lembut Rini pun membuka suara kalau ia kangen sama mama nya.
"Oh kirain kenapa kamu jangan menangis kalau kangen Mama, Kamu kan bisa mendatangi nya Rin..." hibur Rikky.
"Tetap aja aku sedih Bang... di rumah ini terasa sepi apalagi setelah kepergian Abang. Walau ada karyawan yang menemani di kafe tapi rini masih perlukan keluarga yang sebenarnya." lirih Rini mengeluarkan unek-unek batinnya.
"Sudah lah Rin... Itu sudah takdir kita kita hanya bisa menjalani dan berdoa saja semoga Mama secepatnya bebas. Sekarang Ayo kita pergi! ajak Rikky tidak tahan melihat Rini sedih.
Sera menyaksikan kedua adik kakak itu dengan iba.
__ADS_1
"Maaf Rin, pertanyaan ku tadi membuat mu sedih," Sera menenangkan Rini. Rini masih sugukan melepaskan dirinya dari pelukan Rikky.
"Kalian adalah anak-anak hebat aku salut pada kalian walaupun tanpa orang tua mendampingi. Kalian bisa menata hidup kalian dengan baik Rini sudah sukses dengan usaha nya sedangkan Rikky juga udah sembuh dari amnesianya. Untuk selanjutnya sebaiknya Rikky jangan tinggalkan Rini sendiri kasihan Rini, Rik...," Sera menggurui.
"Abang janji Rin, akan selalu bersama mu sampai kamu menemukan jodoh mu suatu saat nanti," ujar Rikky.
Iya makasih Bang.... Tapi... Rini ingin Abang lebih dulu dapat jodoh nya.
Hem... jangan mengada-ngada Rini ayo kita pergi! Rikky menarik tangan Rini mengalihkan ucapan Rini.
Abang... Rini pengen keponakan Bang... biar rumah ini rame dengan tangisan bayi.
Hem Rikky geleng kepala mendengar ucapan Rini.
"Jangan banyak alasan Bang, buka lah hati Abang untuk wanita lain." goda Rini.
"Rini... cepetan!" teriak Rikky tidak sabar ia tidak mau mendengar ocehan Rini.
Sedangkan Sera dari tadi cuma bisa diam terpaku di tempatnya sibuk dengan pikirannya. Rini sudah menyusul Rikky masuk di mobil.
"Sera Ayo pergi apa kamu mau jaga rumah?" teriak Rikky.
"Gak... aku mau ikut!" seru Sera berlari ke arah mobil. Mereka pun naik mobil menuju rumah sakit.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian mereka telah sampai Sera membantu Rini mengandeng Rikky Rikky di tengah-tengah. Rikky menoleh kiri, kanan melihat Sera dan Rini ia merasa bangga dapat di gandeng dengan dua perempuan cantik. "Aku merasa heran deh dengan Sera, saudara bukan sahabat juga buka tapi koq dia peduli pada ku," batin Rikky penuh tanya.
Sera melirik Rikky begitu pun Rikky sepertinya hati mereka saling berbicara isyarat.
Petugas menyambut kedatangan mereka tidak lama pun Rikky di periksa dokter.
Dokter menjelaskan bahwa Rikky tidak dapat berjalan normal lagi karna sudah terlambat membawa nya. Luka nya cukup dalam sudah infeksi mengenai tulang harus segera di operasi untuk menindaklanjuti nya kalau tidak luka nya akan menyebar.
Rini menghela napas panjang tidak menyangka luka yang di derita Rikky cukup parah.
Mereka keluar ruangan sebentar untuk menunggu dokter spesialis bedah.
"Ini lah akibat yang harus Abang terima. Andai saja Abang tidak lalai dan tidak keras kepala pasti luka nya bisa segera di obati. Kenapa disaat terluka Abang tidak langsung pulang ini malah sembunyi gak jelas," omel Rini merasa kesal melihat sikap Abang nya tidak dewasa sama sekali. Rikky hanya menundukkan kepalanya menyadari kalau perbuatan nya salah.
"Abang minta maaf Rin, karena selalu nyusahin kamu.
"Lain kali kalau mau bertindak pikirkan resiko nya dulu Bang, jangan asal bertindak. Rini gak abis pikir bagaimana Abang bisa segitu jahat nya pada Kak Aldi dan Kak Keyla hentikan amarah yang ingin selalu balas dendam itu. Rini gak mau Abang celaka dan kalau sudah begini Abang juga yang yang rugi kan?" Rini tidak habis-habisnya mengomel dari tadi.
Sera pun menghentikan Omelan nya karna kasihan pada Rikky yang tertekan. "Sudah lah Rin, sesuatu sudah terjadi mau gimana lagi kasian Rikky di omelin dari tadi."
Rini terdiam ia pun sebenarnya sangat kasihan pada Abang nya itu tapi hati ya sangat dongkol pada Rikky. Rikky menyesali perbuatannya tidak lama pun Dokter memanggil nya untuk mengisi data.
Sera dan Rini menunggu di koridor Rini merasa takut ia pun menghubungi Galuh, kalau hari ini Rikky operasi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Galuh pun tiba di rumah sakit tersebut. Sera melihat Galuh langsung mencalarkan mata tidak suka.