
Saat itu Pak Hendra sudah pergi dan melaporkan Pak Edi ke polisi atas tuduhan tabrak lari yang dilakukan nya kurang lebih 15 tahun silam yang menimpa istri tercinta nya.
Pak polisi menanggapi laporan Pak Hendra dengan ragu karena tidak ada bukti dan saksi mata saat kejadian itu.
Tiba-tiba Pak Edi hadir di hadapan polisi saat itu. "Saya mengakui kesalahan saya Pak, karena memang saya pelakunya. Hari ini saya akan menyerahkan diri saya. Tapi maaf Pak bukan nya saya hendak membela diri, sebenarnya saat itu saya dalam keadaan panik karena ada masalah dalam pekerjaan saya mengakibatkan saya tidak pokus. Saat itu ada saksi mata saya bisa menghadirkan nya disini tapi...," Pak
"Tapi apa? tolong berkata jujur saja! karena tidak ada gunanya lagi kamu sembunyikan kebohongan mu itu Edi," sambung Pak Hendra.
"Saya tidak akan menutup-nutupinya lagi Hendra orang itu adalah Elisa istri keduaku." ucap nya.
Pak Hendra terbelalak mendengar ucapan Pak Edi. Ia pun menanyakan keberadaan Elisa.
"Apa yang di maksud bapak Ibu Elissa," sambung Pak polisi.
"Benar Pak mungkin ia berada di sini. Tapi...," Pak Edi menghentikan pembicaraan nya karna bingung harus berkata apa.
"Cepat katakan jangan berbelit-belit dan tolong jangan lagi ada yang kau sembunyikan dari polisi!" ucap Pak Hendra menekankan.
"Saat ini dia sedang menjalani hukuman dan mungkin ada disini. ujar Pak Edi langsung.
Semua terbelalak mendengar ucapan Pak Edi. Termasuk Pak polisi. "Sebentar saya akan cari data nya dulu," ucap Pak polisi. Pak polisi pun mencari data tahanan yang bernama Elissa itu. Kebetulan memang ada namanya tertulis di daftar nama tahanan tahun lalu dengan kasus yang berbeda.
__ADS_1
Setelah satu tahun lamanya Elissa masih menjalani hukumannya dikarenakan ia sering melakukan hal-hal yang tidak wajar maka ia sering bolak-balik ke rumah sakit jiwa. Sepertinya ia mengalami gangguan jiwa. Tapi kadang di saat tertentu ia bisa waras juga. Mungkin ia masih bisa disembuhkan maka pihak kepolisian mengambil tindakan untuk memindahkan Elisa di tahanan khusus.
Polisi menghadirkan Elisa di hadapan Pak Hendra dan Pak Edi. Elisa sudah tidak mengenali suaminya lagi ia asyik cikikikan sendiri ketika di tanyai.
Pak polisi jadi bingung.
"Maaf Pak, saksi tidak dapat mencerna semua pembicaraan kita bagaimana kita akan mendapatkan keterangan dari dia?" ucap Pak polisi.
Pak Hendra jadi pusing tapi ia tetap berisi keras untuk melaporkan Pak Edi sebagai tersangka dan harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
Pak polisi menanggapi hal itu namun tidak langsung menahan Pak Edi dengan alasan tidak ada bukti kuat. Pak Hendra pun menyuruh Pak Faisal untuk hadir saat itu juga.
Tidak lama kemudian Pak Faisal pun datang ia memberikan keterangan dengan nya. Bahwa kejadian itu murni kecelakaan tidak nada unsur kesengajaan.
-
-
-
Setelah beberapa hari tiba lah saat persidangan.
__ADS_1
Persidangan sudah dilakukan dan Pak Edi terkena hukuman 5 tahun penjara. Pak Edi menerima nya dengan ikhlas. Ibu May menangisi suami nya.
Pak Hendra jadi iba melihat suasana haru di ruang persidangan itu Aldi juga menangisi ayah nya.
Tapi Pak Edi sedikitpun tidak menyesali semuanya. Kini beban ku selama ini telah hilang. Aku akan menjalani hukuman atas perbuatan ku batin nya merasa lega.
Walau harus menjalani hukuman tapi Pak Edi tampak tenang dari situlah Aldi semakin kagum pada sang ayah karna ia adalah contoh yang baik buat dirinya "Ayah maafkan Aldi tidak bisa membantu meringankan beban Ayah," ucap Aldi kesal.
"Tidak apa-apa Aldi... ini sudah ketentuan ayah harus menjalani hukuman ini," ucap nya tenang.
"Jaga dirimu, adik-adikmu dan ibumu baik-baik ya jadilah orang yang jujur dan bertanggung jawab!" pesan Ayahnya. Pak Edi juga berpesan hal yang sama pada Rini. Suasana haru terjadi saat itu.
Pak Hendra yang melihat dari kejauhan rasanya tidak tega melihat keluarga itu yang sudah jadi besan nya beberapa hari yang lalu. Mereka saling mengucap salam perpisahan. Karena hari itu juga Pak Edi akan segera di tahan. Isak tangis ibu May dan Rini mengiringi langkah Pak Edi yang sudah di bawa petugas untuk segera memasuki ruangan khusus tahanan.
Keyla yang saat itu masih berada di rumah sakit merasa sedih tidak bisa menghadiri persidangan itu. Karena fisik nya masih sangat lemah dan ia mengalami kesedihan yang mendalam. Beberapa kali ia memohon kepada papa nya untuk mencabut laporan tersebut namun sedikit pun Pak Hendra tidak mengindahkan ucapan Keyla.
Saat itu Keyla benar-benar terpuruk karna papa juga melarang nya untuk bertemu Aldi, pria yang baru saja jadi suami nya itu.
Keyla menangisi nasib malangnya "Andaikan kamu ada di sini pasti aku tidak akan sesakit ini," ucapnya melirih seorang diri.
Sedangkan Aldi saat itu masih sibuk menenangkan ibu nya ia tidak tega harus meninggalkan ibu nya seorang diri.
__ADS_1
Dalam hatinya selalu merindukan Keyla agar ia dapat merasa tenang ia mengutus Rini untuk mengawasi Keyla di rumah sakit. Beruntung Rini selalu ada buat Aldi ia pergi menjumpai Keyla saat itu di temani Galuh.