Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Gadis Impian Eyang


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


"Sayang, mau kemana?" tanya Arjuna begitu melihat sang istri hendak melangkah mendekati Eyang Damayanti dan Tante Ningsih.


Membalikan badannya, di sana ada Arjuna yang menenteng tas kresek di tangannya, dengan Ayah Wigan di sampingnya.


"Mau kemana, Ran?" tanya Ayah mertuanya kini.


"Dipanggil Eyang."


"Udah kamu ke kamar yuk, bibir masih pucat gitu. Sini," ucap Arjuna mengulurkan tangannya. Sebelumnya dia menatap Eyang dan bertanya, "Gak ada hal penting kan, Eyang?"


Eyang Damayanti dan Tante Ningsih merasa terintimidasi dengan tatapan Wigan dan juga Arjuna. Jadi Eyang menggeleng. "Cuma mau nyuruh dia gak di kamar mulu, kasian nanti bayinya mumet."


"Bener itu, Jun. Kasihan kandungannya. Dulu aja Tante pas hamil itu maunya outdoor terus. Apalagi kalau lagi gak enak badan, harus nyari udara segar."


Mendengar itu, Wigan menatap sang putra. "Bawa ke luar, Bang. Jangan di kamar mulu."


"Tapi Kirana masih pucet."


"Kirana mau ketemu Bunda, Kak. Udah mendingan kok," ucap Kirana membalas genggaman sang suami. 


"Sana antar," ucap Wigan yang kini malah ikut duduk bersama dengan Eyang Damayanti dan Tante Ningsih. Tentu saja itu membuat dua wanita yang berkuasa di rumah ini terlihat tidak nyaman.


Sementara itu, beberapa orang yang ada di lantai utama terlihat terkejut melihat bagaimana lembutnya Arjuna menuntun sang istri menuruni tangga. Salah satunya Bunda Eliza, dia tersenyum melihat bagaimana sang putra kini memperlakukan Kirana dengan sangat baik.


"Sini, Bang," panggil Bunda Eliza.


Yang dibalas gelengan oleh Arjuna. "Mau dimakan di gazebo," ucapnya tidak mempedulikan bagaimana tatapan yang lain.


Arjuna malah memanggil pelayan.


"Iya, Tuan."


"Hidangkan ini dan bawa ke gazebo."


"Baik, Tuan."


Dan saat Kirana hendak ditarik lagi oleh Arjuna, perempuan tersebut menghentikan langkah kemudian menggeleng. "Kenapa, Ran?"


"Mau kasih salam dulu."

__ADS_1


"Nanti aja."


"Nggak, sebentar doang kok," ucap Kirana melepaskan genggaman tangan Arjuna dan mendekati kerabat kerabat dari mertuanya.


Kirana memberi salah satu per satu. "Hallo, apa kabar, Tante? Subhanallah, dedeknya makin gemes aja."


Begitulah Kirana mendekati orang satu per satu dengan wajahnya yang ramah. Sementara Arjuna mengawasi dari sana dengan mata yang menatap tajam.


"Baik, Ran. Kamu jangan kecapean, kasihan bayinya."


"Berapa bulan? Udah lama banget kamu gak ke sini."


"Makin cantik aja ya, Kirana. Pasti senang."


"Kalau butuh apa apa, panggil tante ya."


"Nanti malam Tante buatin sup buat kamu, yang baik buat kandungan kamu."


Begitulah sikap mereka yang begitu manis pada Kirana. Terlalu takut mengusik Kirana, apalagi Wigan; anak pertama Eyang Damayanti, tengah menatap lewat pagar lantai dua. Bagaimana mereka memperlakukan menantunya.


🌹🌹🌹


Kirana merasakan perubahan yang sangat besar dari beberapa orang, meskipun mata mereka tidak memperlihatkan ketulusan yang sesungguhnya.


Seperti Purwati; adik perempuan Arjuna yang masih menatap heran Kirana yang sedang duduk di gazebo.


"Kakak pesen makanan mulu dari tadi."


"Kan buat kamu. Mau gak?"


"Enggak ah."


"Tapi kakak udah order. Katanya udah di depan tukang ojeknya."


Kirana menatap dengan manik yang terkejut. Yang dibalas senyuman tanpa dosa dari Arjuna. "Maaf, hehehe. Kayaknya enak, Ran. Nanti kita makan bareng ya."


"Yaudah sana ambil dulu."


"Mau kiss di sini," ucap Arjuna menunjuk pipinya.


Kirana malu malu melakukannya. "Udah sana."


"Makasih, Sayang."


Kirana melemparkan tatapannya malu, sementara Arjuna yang gemas itu mencium pipi istrinya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Kirana yang duduk di gazebo seorang diri.

__ADS_1


"Kirana ya?" tanya seseorang mendekat.


Dan Kirana mengangguk, dia adalah adiknya Arjuna yang tidak pernah ditemui oleh Kirana, mengingat saat pernikahan tidak datang.


"Kenal sama gue kan?"


"Kak Purwanti," ucap Kirana mengingat dia lebih tua satu tahun.


Purwanti mengangguk dan duduk. "Gue tau cerita lu dari Bunda. Lu kok mau balik lagi sama abang gue?"


"Karena anak ini juga milik Kak Arjuna."


Seketika tatapan Purwanti turun, melihat perut buncit Kirana dan mengusapnya. "Hallo keponakan."


Yang mana membuat Kirana tersenyum, dan Purwanti menyadarinya. "Gak usah ge'er. Gue sayang sama ponakan gue. Cewek apa cowok?"


"Masih ngumpet."


"Gue penasaran, lu gimana bisa gantiin posisi Merlinda di hati si Abang?"


Kirana diam, kemudian menggeleng. "Kak Arjuna datang sendiri."


"Kalau begitu lu pasti udah tahan banting ya?"


"Huh?"


"Citra lu udah buruk di keluarga, sebagai menantu yang gak diinginkan. Tapi sekarang abang gue kan udah bucin sama lu, jadi lumayan mending."


"Kamu mau ngomong apa sebenarnya?" tanya Kirana bingung.


"Tuh liat."


Mata Kirana menatap arah tatapan Purwanti, dimana di sana Eyang Damayanti sedang berjalan dengan seorang gadis manis di sampingnya. Rambutnya halus dengan pipinya yang merah di kulitnya yang putih.


"Dia siapa?"


"Baru pulang dari Amerika, orang yang mau Eyang jodohin sama Bang Arjuna. Dia emang ngeyel, lu harus tahan sama Eyang."


"Aku gak papa selama Kak Arjuna sama aku."


"Bukan, lu kudu tahan Bang Arjuna biar gak ngamuk terus bikin Eyang sakit jantung."


Dan saat Eyang sudah dekat menuju gazebo, dia bertanya, "Mana Arjuna? Dia dimana? Purwanti, panggil dia, bilang ada Annisa mau ketemu."


🌹🌹🌹

__ADS_1


To be continue


__ADS_2