Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Syurga itu untuk siapa?


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW  DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹 


Kirana yang kini kamarnya berada di lantai pertama itu terbangun, dan tidak mendapati siapapun di sekitarnya. Sepertinya sang suami telah bangun lebih dulu, membuat Kirana mencuci wajahnya, menggosok gigi dan memakai kerudung supaya menghilangkan kesan aneh dengan rambutnya yang sudah benar benar menipis.


Kirana keluar dari kamar, dan benar saja. sosok yang dicarinya ternyata sedang memasak bersama bibi pembantu. Kirana berdehem sebagai tanda, membuat Arjuna menoleh. “Yank, kok udah bangun? Mas lagi masak belum beres, gak jadi kejutan dong,” ucapnya dengan kening berkerut, memperlihatkan kalau dirinya tidak suka dengan kedatangan sang istri, lebit tepatnya dirinya kecewa.


“Kamu masuk lagi ya, Yank. Atau ke mana gitu, mau Kakak anter dulu? Jangan liat ih, ini kejutan,” ucap Arjuna mendekati sang istri.


Yang mana membuat Bibi pelayan bahkan menahan senyumannya di sana. 


“Oke oke, aku ke kamar Purwanti. Gimana?”


“Kaka kantar,” ucap Arjuna yang kini sudah menggenggam tangan Kirana..


“Padahal deket.”


“Tapikan harus Kakak pastikan kalau si Purwanti gak lagi tidur, terus gak ngegas sama kamu. Dia biasanya kalau baru bangun suka ngamuk.”


“Kakak lucu banget, pake apron,” ucap Kirana yang lebih focus pada apa yang dikenakan oleh Arjuna.


Membuat pria itu berdehem. “Demi kamu, Kakak bikin sarapan yang bikin kamu lahap lagi.”


“Makasih.”


“Belum juga jadi, nanti makasihnya, sekalian kiss.”


Kirana tertawa, dia berdiri di samping sang suami, dimana Arjuna mengetuk pintu kamar Purwanti berulang-ulang, sampai akhirnya perempuan itu keluar sambal mengucek matanya. “Kenapa?”


“Mbak kamu mau ditemenin sama kamu, ajak dia masuk.”


“Huh, sini Mbak,” ucap Purwanti menarik pelan Kirana untuk masuk.

__ADS_1


“Nariknya biasa aja dong, jangan kasar sama ipar kamu.”


“Siapa yang kasar,” ucap Purwanti kesal.


BRAK! Adiknya itu menutup pintu kamar kemudian melempar dirinya sendiri ke atas ranjang setelah melepaskan pegangannya pada Kirana. “Mbak aku temenin sambal tidur ya, duduk aja. Mau ngomong ngomong aja, aku dengerin kok.”


Kirana tertawa, dia duduk di salah satu sofa dan memandang Purwanti yang Kembali terlelap. Ada sesuatu yang membuat Kirana curiga dengan sang ipar. Sebelumnya Kirana mendapati Purwanti muntah muntah, dan enggan memberitahukan keadaannya.


Jadi, saat Purwanti terlelap, Kirana berjalan perlahan ke arah kamar mandi. Mencari sesuatu yang mencurigakan. Sampai Kirana mendapatinya dari dalam tas kosmetik milik Purwanti. Sebuah testpack, dengan dua garis menandakan positive.


Kirana terkejut, dia menutup mulutnya sampai tidak sengaja menyenggol sabun ukuran besar.


BUK! Suara jatuh benda itu menarik perhatian seseorang.


“Mbak, lagi ngapain di dalem?” tanya Purwanti yang terbangun.


“Lagi pipis,” jawab Kirana. Beruntung dia menutup pintu sebelumnya.


🌹🌹🌹


“Sabar napa, Bang. Mbak Kiran belum makan juga, ribut banget.”


“Heh, kamu gak boleh makan kukus jamur ya.”


“Emang Purwa mau? Enggak wlee,” ucapnya sambal duduk di samping Kirana. “Buat Mbak aja itu.”


Dan itu membuat Arjuna heran. “Eh, Abang bercanda kok. Mbak kamu mana suka kukus jamur, itukan kesukaan kamu. Ayo makan.”


“Gak mau, gak mau makan jamur,” ucapnya memilih makan yang lain.


“Makan dulu cobain, ini buatan Abang,” ucap Arjuna memaksa, dia memasukan jamur itu ke dalam piring Purwanti.


Dan menyebabkan adiknya langsung menutup hidung. “Ih gak mau, aromanya nyenget gitu gak mau,” ucapnya memilih berpindah tempat, bahkan berganti piring.


“Aneh ih, kamu kayak Kirana aja yang lagi hamil. Segala bau.”

__ADS_1


Kirana berdehem untuk mengalihkan perhatian sang suami. “Buburnya enak, Kak. Makasih ya.”


“Hehehe, apapun buat kamu, Ran. Besok besok mau kakak buatin lagi?”


Kirana mengangguk. “Mau.”


“Mau apa lagi?”


“Mau molen deket kampus, hehehe.”


“Gampang, nanti minta Gojek aja yang anterin.”


“Tapi Rana mau Kakak yang beli,” ucapnya dengan suara yang kecil. Dan itu membuat Arjuna terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Boleh Kak?”


“Apapun buat kamu,” jawabnya lembut. Kemudian menatap adiknya dengan tatapan tajam. “Kamu temenin Mbak kamu, awas kalau kamu focus sama hp. Pacarana mulu, emang pacar kamu siapa sih?”


“Udah putus. Tenang aja napa,” ucap Purwanti dengan malas.


Dan sarapan itu dipenuhi oleh Arjuna yang memberikan seluruh perhatiannya pada sang istri, membuat Purwanti sedikit iri. Melihat bagaimana Arjuna mengusap perut Kirana, menciumnya dabn membisikan kata kata yang sangat menenangkan. Membuat lamunannya jauh melayang, membayangkan jika anaknya tidak akan mendapatkan semua itu.


Bahkan lamunan itu berjalan lama, mengabaikan Arjuna yang akan pergi membeli molen.


“Purwa, oy jangan ngelamun mulu. Jaga bini abang.”


“Udah sono pergi,” ucapnya malas.


Dan saat Arjuna pergi, Purwanti menghela napasnya dalam. Dia menatap Kirana yang memandang kepergian suaminya.


“Mbak?”


“Hmm?” Kirana mengalihkan perhatiannya pada sang ipar. “Kenapa?”


“Apa syurga masih menerima wanita seperti aku?”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2