
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Kirana dibawa ke kamar Eyang, yang mana membuat pemilik manik bulat itu didera kebingungan. Bagaimana tangan keriput yang bahkan enggan menyentuhnya itu, kini menggenggam tangannya erat. Ditambah dengan bibirnya yang terus berucap mengajaknya bicara. Ini tidak biasa.
"Duduk dulu," ucap Eyang yang membuat Kirana segera duduk di karpet.
"Jangan di sana, duduk di kursi, Kiranti!"
"Kirana, Eyang."
"Nah, iya Kirana. Duduk di kursi."
Kirana tersenyum, dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Eyang Damayanti. Dirinya duduk sementara Eyang tengah mencari sesuatu di lemarinya. "Eyang nyari apa? Butuh bantuan?"
"Udah kamu lebih baik diem aja, jangan ngomong mulu," ucap Eyang yang membuat Kirana menggigit bibir bagian bawahnya. Otaknya masih berputar, mencari alasan yang membuat Eyang melakukan hal ini padanya.
Sampai sosok itu menemukan apa yang dia cari, Eyang segera mendekati Kirana; duduk di sampingnya dengan sebuah kotak yang dibawanya
"Ini apa, Eyang?"
"Ini dulu punya Eyang pas lagi hamil. Udah turun temurun, Eyang punya gelang ini."
Kirana menerima sebuah gelang yang bandul bandulnya terbuat dari kayu.
"Itu dari Neneknya Eyang, mereka juga pakai itu dari leluhur mereka. Entah berapa generasi yang udah pakai gelang itu."
"Buat Kirana?" Tanya perempuan yang tengah memandang berbinar gelang di tangannya.
Ada aksara sunda di sana, membuat Kirana merasa bahwa dirinya sangat berharga. Apalagi mengetahui sejarah gelang ini yang dipakai secara turun temurun oleh perempuan dari keluarga sang suami.
"Eyang serius ini buat Kirana?" Tanya Kirana lagi.
Tidak mendapat jawaban membuat Kirana mengalihkan pandang menatap Eyang yang ternyata sedang meneteskan air matanya. Jelas Kirana panik kembali.
"Eyang kenapa?"
"Maafin, Eyang. Hiks…. Maaf ya, Nak."
"Buat apa? Eyang gak salah, jangan nangis, Eyang."
Eyang Damayanti menggeleng, dia memegang tangan Kirana erat. "Terima kasih, terima kasih," ucapnya sambil mencium tangan Kirana berulang kali.
__ADS_1
Awalnya Kirana memberontak, sampai dia memilih untuk menelisik apa maksud dari Eyang.
"Untuk Kak Arjuna?" Tanya Kirana.
Pertanyaan yang jelas membuat Eyang Damayanti kaget. "Kamu tau?"
Kirana kembali mengangguk, sontak membuat tangisan Eyang semakin pecah.
"Eyang…." Kirana semakin panik, melihat sosok yang sebelumnya bahkan tidak sudi menatapnya.
Namun kini Eyang Damayanti memeluknya erat, mengucapkan maaf dan terima kasih. Dia menyesali setiap tindakan dan pemikiran yang dilakukannya pada perempuan yang dianggap cacat di keluarganya. Karena pada kenyataannya, Kirana lah yang mengorbankan rasa sakit demi kebahagiaan keluarga orang lain.
Usapan halus diberikan Kirana pada Eyang, berharap tenang dengan diikuti oleh kalimat, "Gak papa, Eyang. Kirana bersyukur Kak Arjuna bisa lihat lagi, ini bukan hal yang harus dimintai maaf. Papahnya Kirana ikhlas, dia ingin memberikan matanya di akhir hidupnya."
Bukannya tangisan Eyang Damayanti reda, beliau malah bertambah kencang karenanya.
"Maaf, maaf," ucapnya berulang kali. Karena dirinya lebih banyak melakukan kejahatan pada Kirana.
"Eyang capek udah."
"Eyang pikir, kamu yang gak tau malu masuk keluarga Eyang tanpa…. Tanpa punya apa apa. Kenyataannya…. Eyang dan keluarga yang gak tau diri."
🌹🌹🌹🌹
"Kirana tau?" Tanya Purwanti untuk yang kesekian kalinya.
"Kirana tau kalau mata Papahnya dipake Abang Arjuna, Bun?" Purwanti kembali bertanya lagi.
"Iya, dia udah tau," jawab Bunda.
Sontak beberapa pasang mata itu langsung melihat ke arah Arjuna yang sedari tadi diam.
"Bunda kasih tau atau gimana?" Tanya Ayah Wigan.
"Nggak, Kirana udah tau sebelum Bunda kasih tau juga."
"Gimana reaksi dia, Bun?" Tanya Purwanti terlihat antusias.
Dan itu membuat Bunda Eliza merasa terganggu. "Kamu ngapain sih di sini? Sana maen sama Bisma. Adek kamu kemana?"
"Ya mana Purwa tau."
"Cari sana."
"Ck, nyebelin ah," ucapnya beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
Meninggalkan tiga orang yang lebih dewasa, yang sama sama berkecamuk dengan pemikiran sendiri.
"Dia tau ya? Sejak Abang perlakukan dia dengan jahat?" Tanya Arjuna dengan matanya yang menatap kosong.
Bunda mengangguk. "Dia bilang bersama Abang, dia bisa melihat sosok cinta pertamanya."
"Abang jahat banget ya, Bun?" Tanya Arjuna.
"Baru nyadar?" Tanya Ayah Wigan. "Kamu udah jahat sama dia?"
"Ayah gak usah manas manasin kenapa," ucap Bunda Eliza. "Lagian Kirana nya juga udah maafin, sekarang tinggal Abang yang bikin Kirana bahagia. Ya, Bang?"
Tanpa berkata apa apa lagi, Arjuna melangkah pergi dari ruangan itu.
Suara dari lantai bawah terdengar sedikit ribut, mungkin mengatakan kalau mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka ketahui.
Arjuna melangkah lebar menuju ke kamar Eyang Damayanti. Dia mengetuknya dua kali sebelum akhirnya membukanya. Keningnya berkerut tidak mendapati siapapun di sana.
Membuat Arjuna melangkah menuju kamarnya. Dan di sana dia mendapati sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kak, tau gak Eyang ngasih aku apa? Gelang, ini punya Eyang dulu, turun temurun buat perempuan hamil katanya."
Arjuna tersenyum, dia mendekat dan memeluk sang istri. "Maaf…."
"Kak?"
"Hmmm?"
"Aku mau liburan."
"Liburan?"
"Ke luar pulau yuk, mau ambil foto yang banyak buat kenangan."
Kening Arjuna berkerut, dia mengusap puncak kepala sang istri dan menunduk menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Kirana.
"Kamu masih sakit."
"Inikan normal buat orang hamil. Dedeknya ngidam, mau jalan jalan katanya mau punya banyak foto sama papahnya."
Arjuna tersenyum, dia mengecup kening sang istri. "Oke, kita pergi. Ambil foto banyak banyak."
🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE