Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Bidadari lainnya


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Kirana tidak bisa melupakan kalimat yang dilontarkan oleh Merlinda, yang mana membuatnya menunduk, mengusap perutnya yang membuncit. Sementara Arjuna sangat ingin mengejar Merlinda, menyelesaikan semuanya, tapi dia tidak bisa meninggalkan sang istri. Apalagi keadaannya kini tidak sedang baik baik saja, hatinya pasti hancur.


Dan melihat Kirana murung, membuat Arjuna menghentikan langkahnya, dia berjongkok menghadap sang istri yang berada di kursi roda.


“Jangan pikirkan hal lain, Kirana. Kamu tidak melakukan yang salah, di sini kakak yang salah. Jangan pernah meenyalahkan diri.” Arjuna bahkan menggenggam tangan sang istri kemudian menciumnya penuh dengan kasih sayang. “Ini salah aku, maaf. semuanya karena aku.”


“Nggak, Kak. Aku gak papa kok,” ucap Kirana dipaksakan senyumannya. “Kita USG bayi kita ya, mau?”


Arjuna mengangguk, kemudian membubuhkan kecupan di kening sang istri sebelum kembali mendorongnya menuju dokter kandungan di rumah sakit itu.


Setelah mengatakan kalimat menyakitkan, Merlinda bahkan pergi begitu saja. meninggalkan mereka yang masih bertanya-tanya tentang keberadaannya, apalagi Arjuna yang mengetahui Merlinda ada di luar negara. Dia ingin menyelesaikan semuanya, tapi tidak bisa meninggalkan Kirana.


Namun, Kirana mengetahui keinginan suaminya. Dia ingin menyelesaikan masalahnya. Maka dari itu, ketika menunggu antrian, Kirana mengelus perutnya kemudian berkata, “Kak, aku mau kue soes yang di depan itu. Kakak mau beliin gak? Sekalian beli pudding ya? Purwanti lama banget soalnya.”


“Terus kamu ditinggal sendiri gitu?”


“Ya kan antriannya masih lama juga, lagian ada banyak orang di sini.”


“Nanti aja ya, Sayang.”

__ADS_1


“Dedek bayinya mau sekarang,” ucap Kirana mengerucutkan bibir.


Yang seketika membuat Arjuna tersenyum, dia mengusap kepala sang istri. “Oke, tunggu ya, Papah beliin dulu.”


Setelahnya Arjuna melangkah pergi, matanya juga siaga melihat ke beberapa arah untuk mencari Merlinda. Dia ingin menyelesaikan semuanya. Sampai mata Arjuna melihat sosok yang dicarinya juga ada di kantin rumah sakit, sedang meminta beberapa kue di sana.


Tanpa ragu, Arjuna mendekat. “Meri,” panggilnya.


Perempuan itu menoleh dengan alis terangkat. “Mau apa?”


“Bisa kita bicara? Aku gak mau menyelesaikan semuanya.”


“Dimana? Aku gak punya waktu?”


“Di taman rumah sakit?”


🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah bertemu dengan Mario, Purwanti yang sebelumnya sudah membeli pudding itu bergegas kembali ke tempat Kirana. Namun dalam perjalanannya, dia melihat Kirana ada di ruang tunggu dokter kandungan. Purwanti mendekat untuk memastikan.


“Mbak Rana?”


“Purwanti, kamu kemana aja? Kenapa lama?”


“Kok Mbak sendirian di sini? Abang kemana?”

__ADS_1


“Beli pudding, abis kamu lama,” ucap Kirana dengan nada kesal yang dijadikan candaan.


“Heheheh… Maaf, Mbak. Tadi ketemu sama Kak Mario,” ucapnya ikut duduk di samping Kirana; bangku yang panjang. “Merlinda juga ke sini dulu katanya, dia mau balik lagi ke Amerika. Semoga aja gak ketemu sama kamu Mbak, bisa berabe nanti.”


“Tadi ketemu kok.”


“Apa?” tanya Purwanti terkejut, dia ingin menjelasan.


Namun terpotong oleh panggilan perawat, “Nyonya Kirana?!”


“Saya,” ucap Kirana mengangkat tangannya, dia hendak mendorong kursi rodanya sendiri.


Sampai Purwanti menghentikan dan mengambil alihnya. “Biar aku bantu, Mbak,” ucapnya melangkah menuju ke dalam ruangan pemeriksaan. 


Dimana di dalam sana Purwanti lebih banyak melamun daripada Kirana yang berbincang dengan dokter, Purwanti menerka-nerka apa yang terjadi diantara mereka yang bertemu dengan Merlinda.


Apalagi Purwanti ingat kalimat yang diberikan Mario sebelumnya, “Kamu tau apa yang diinginkan Meri saat dia membayangkan bertemu dengan Arjuna lagi? Ciuman, dia ingin ciuman, kemudian selesai. Dia akan melupakannya, tapi dengan syarat mendapatkan ciuman. Maka dari itu aku berharap keduanya, bertemu dan juga tidak. Toh misalkan itu menyelesaikan semuanya. Kamu tidak akan tahu bagaimana perjuangan Meri keluar dari kegilaannya, dia hampir buhun diri berkali-kali.”


Dan lamunan Purwanti itu membuatnya jauh dari kesadaran, sampai tidak tau Kirana yang sedang diperiksa itu memekik senang.


“Subhanallah!”


“Kenapa, Mbak?” tanya Purwanti mendekat.


“Liat, anaknya cewek loh.”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2