
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Hari ini adalah acara kumpul keluarga besar. Karena Eyang Damayanti adalah anak pertama, jadi saudara saudaranya yang datang ke rumahnya membawa anak cucunya. Yang mana membuat Kirana kaget. Keluarga besar Arjuna benar benar besar.
Beruntungnya, Eyang juga memiliki rumah yang banyak yang masih dalam lingkungan yang sama. Maklum, Eyang adalah keturunan bangsa Belanda yang menikah dengan pribumi Bandung sehingga bisa mendapatkan kekayaan ini.
Untuk sekarang, Kirana selalu disamping Eyang. Mengingat beliau tidak mengizinkan Kirana melakukan hal yang berat berat.
"Mau kemana?" Tanya Eyang saat Kirana hendak beranjak.
"Ambilin semangka, katanya abis, Eyang."
Bukan acara biasa, bahkan mereka memanggil sebuah grup gamelan sebagai penghibur. Keluarga Arjuna memang masih lekat dengan kebudayaan mereka.
"Gak usah, diem di sini temani Eyang. Kasian kandungan kamu."
"Gak papa kok, Eyang."
"Jangan udah diem."
Pertunjukan gamelan itu diadakan di halaman belakang yang sangat luas. Privacy tertutupi, dan kesenangan didapatkan oleh mereka semua.
"Arjuna kemana, Ran?"
"Tadi maen basket deh di depan sama sepupunya."
Saking luasnya halaman rumah Eyang Damayanti, bahkan ada lapangan olahraga.
"Kamu capek gak? Atau mau istirahat?"
"Nggak, suka kok. Sindennya cantik cantik."
"Hilih buat apa muka cantik kalau hatinya enggak. Cantikan kamu lah."
Kirana tertawa mendengar ucapan sang Eyang. Hingga ada seorang pria paruh baya yang memakai batik mendekat.
"Teh, ini istrinya Arjuna?"
"Nah, kemana aja kamu baru nongol?"
"Liat anak anak tadi di depan."
"Ran, kenalin ini adeknya Eyang yang ketiga. Namanya Kakek Gustian, kamu kalau mau buah buahan bilang sama dia. Semua jenis dia punya."
"Hallo, Kakek." Kirana menyapa.
"Duh, cantik bener. Pinter Arjuna, tapi kenapa gak bilang bilang kalau dia nikah, Teh? Kecelakaan kah?"
"Heh!" Teriak Eyang Damayanti tidak suka, dia jelas tahu maksud dari pria tua itu. "Mereka nikah buru buru karena Kakeknya Kirana gak sehat. Nanti kalau bayinya udah lahir, bakalan ada pesta meriah. Awas kamu ngomong gitu lagi."
__ADS_1
"Maaf, Teh. Ampun," ucap pria tua itu.
Melihat dari gelagat Kake Gustian, sepertinya mereka butuh ruang berdua. Jadi Kirana beranjak berdiri.
"Mau kemana?"
"Ke kamar mandi, Eyang."
"Nanti ke sini lagi?"
"Mau ke depan deh, ketemu suami."
"Minta anter sama pelayan sana."
"Iya, nanti minta," ucap Kirana melangkah menjauh, sedikit tidak baik jika mendebat Eyang Damayanti mengingat beliau selalu memiliki argument dan teriakan menyakitkan.
Ketika Kirana masuk ke dalam rumah, telinganya yang tajam mendengar beberapa kalimat,
"Iya, kok dia mau bertahan sama Arjuna ya? Padahal kan dulu Juna gak suka sama dia."
"Dia baik orangnya."
"Baik atau emang suka duit."
Kalimat itu yang membuat Kirana tersenyum. Tidak akan ada yang pernah bisa mengatur pikiran orang lain, tidak ada yang bisa menata dunia. Yang bisa Kirana lakukan hanyalah memutar tasbih di salah satu tangan yang ada di saku gamisnya.
Tidak peduli berapa banyak kesakitan yang diberikan, selama Allah ada di hati, maka semua makhluk akan baik baik saja. Melewati semua ujian dengan ikhlas karena Allah.
Apalagi Kirana memiliki alasan untuk tersenyum. Yakni sosok yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Udah."
"Mau kemana?"
"Ke kamar mandi."
"Di kamer yuk," ucap Arjuna menggenggam tangan Kirana dan menciumnya. "Kangen kamu, sama Eyang terus dari tadi."
🌹🌹🌹🌹
Manik Kirana menatap satu per satu orang yang ada di sekitarnya, merekam dalam pikiran bagaimana mereka bahagia untuknya.
Syukuran kehamilannya itu diadakan sangat mewah, Eyang Damayanti selalu membanggakan Kirana. Menggandengnya dan mengatakan pada semua orang kalau Kirana adalah sosok yang menjadi istri Arjuna.
Bukan hanya itu, beberapa kerabat juga memberikan Kirana hadiah. Yang mana membuat Kirana kelimpungan seperti sekarang ini.
Baru juga dia duduk, seseorang sudah mengetuk pintu kembali. Sulit bagi Kirana membuka kerudungnya, padahal dia ingin berbaring.
"Iya?"
"Maaf ganggu, Mbak. Ini buat Mbak, semoga bermanfaat ya."
"Jazakallahu, terima kasih?"
__ADS_1
"Dini, Mbak."
"Dini."
"Istirahat lagi, Mbak."
Kirana mengangguk, dia kembali menutup pintu dan menyimpan hadiah itu di meja. Sudah ada beberapa di sana.
Sebenarnya acaranya belum sepenuhnya selesai, tapi Eyang Damayanti meminta Kirana untuk kembali ke kamar karena wajahnya pucat. Dan benar saja, sendirian di dalam kamar membuat Kirana mengambil kesempatan untuk memuntahkan cairan merah itu lagi.
TOK.
TOK.
TOK.
Suara itu lagi.
"Sebentar."
"Ini Bunda kok, boleh masuk?"
"Masuk aja, Bun."
Bunda Eliza pun masuk, dia tersenyum saat mendapati Kirana ada di sana sedang duduk.
"Buka aja kerudungnya, istirahat."
"Takut ada yang manggil lagi."
"Gak papa nanti Bunda yang bukain," ucap Bunda Eliza duduk berhadapan dengan Kirana di pinggir ranjang. "Arjuna bilang mau ngajak kamu ke luar negara, kamu kuat?"
"Luar negara? Astaga, padahal Kirana minta ke luar pulau aja."
"Ran….," Ucapan Bunda Eliza tersendat menahan tangis.
"Bunda…. Jangan nangis…."
"Kamu tau gak? Si Abang antusias banget mau ajak kamu jalan jalan, dia bilang mau bikin kenangan baru sama kamu, sama calon bayi kalian. Dia excited banget."
Bunda Eliza menyeka air matanya yang hampir turun. "Kamu bisa bayangin gak nanti gimana reaksi Arjuna kalau tau apa alasan kamu melakukan ini?"
"Bun, tolong…. Kirana akan baik baik aja dengan izin Allah."
"Tidak jika kamu tidak berusaha."
"Setidaknya sampai bayi ini memasuki usia 8 bulan, Kirana akan melakukan pengobatannya. Biarkan dulu dia terbentuk dengan sempurna, Bun. Kirana mohon, jangan bawa bawa bayi ini."
"Kamu egois, Ran. Pikirin bayi kamu, suami kamu kalau kamu gak segera berobat."
Kirana menggeleng, air matanya menetes. "Bunda gak ngerti, Bunda gak tau gimana takutnya Kirana dengan keadaan bayi ini. Kirana ingin dia baik baik saja, Bun… ibu mana yang tega melukai anaknya dengan sengaja? Obat obatan Kimia itu akan menyakitinya, Bunda… hiks…"
🌹🌹🌹
__ADS_1
To be continue