Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Dua pilihan


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Arjuna melangkah menuju tempat dia meninggalkan istrinya. Namun, ketika melangkah ke sana, Arjuna tidak mendapati sang istri sama sekali. Dimana dia?


“Sayang? Kirana?” 


Apalagi kursi roda itu ada di sana, membuat Arjuna yakin jika sang istri kini tengah melangkah berjalan-jalan. “Kirana? Kamu dimana?!”


“Bang!” teriak seseorang yang membuat Arjuna menoleh.


Di sana ada Bundanya yang melangkah lebar ke arahnya. Arjuna tidak membuang kesempatan untuk bertanya, “Bunda liat Kirana gak?”


“Kirana di kamarnya, dokter sedang menangainya.”


“What? Dia kambuh lagi?” gumamnya dan hendak berlari menuju tempat itu.


Namun, Bundanya mencekal tangan Arjuna. Memberikan reaksi kebingungan dari putranya saat itu juga.


“Kirana tau.”


“Tau apa?”


“Kirana tau kalau Abang mau nambahin dosis kemo, Kirana tau infus itu berisi cairan kemo.”


Sontak jantung Arjuna berdetak kencang, matanya membulat dengan tubuh menegang. Dia takut? Ya, Arjuna telah membuat Kirana kecewa untuk yang kesekian kalinya.


“Bagaimana bisa, Bun?”


“Bunda gak tau, dia tiba tiba nangis di koridor. Bilang kalau kamu tega. Bang, biarkan Kirana mendapatkan apa yang dia inginkan ya,” ucap Bunda Eliza dengan tatapan sayunya. Jelas Bunda Eliza ingat bagaimana Kirana menatapnya dengan sendu, meminta untuk tidak menyentuh bayinya yang ada dalam kandungannya itu.


Arjuna tidak mengatakan apa apa lagi, dia melepaskan genggaman tangan sang Bunda kemudian berlari menuju ke kamar inap sang istri. Dimana di sana Arjuna berpapasan dengan seorang suster yang baru saja keluar, dan mendapati Kirana yang duduk di atas ranjang dengan wajah yang kacau.


“Ran….”


“Hiks…. Hiks….” Kirana tidak dapat lagi membendung tangisannya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia tidak tahu harus mengungkapkan kekecewaannya bagaimana.


Dan tangisan itu, membuat Arjuna semakin teriris, hatinya mengatakan kalau dirinya telah menyakiti sang istri kembali.


“Maaf,” ucap Arjuna untuk yang kesekian kalinya, dia duduk di hadapan Kirana dan memeluk sang istri. “Maaf, Ran. Maaf.”

__ADS_1


“Jangan…, hiks…. Jangan anak kita, Kak… hiks… dia gak tau apa-apa… jangan, Kak…”


“Maaf.” hanya itu yang menggambarkan penyesalan Arjuna pada Kirana. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi.dia tidak ingin kehilangan istrinya, Arjuna masih punya banyak kebahagiaan yang siap diberikan untuk istrinya. Namun, dia melupakan sosok mungil yang seharusnya dia lindungi. “Maaf, Ran…. Kakak gak mau kehilangan kamu.”


“Mau pulang, Kak… hiks… mau pulang….”


Arjuna memejamkan matanya, dia tidak bisa memaksakan kehendak lagi. Mungkin dia harus mulai menerima, kalau Tuhan sudah memilihkan jalan ini untuknya. ‘Iya, kita pulang.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah kepulangan dari rumah sakit, ada yang berbeda dari hubungan Arjuna dan juga Kirana. Keduanya cenderung memiliki jarak. Dan seberusaha apapun Arjuna untuk kembali mendekat, Kirana selalu punya cara untuk memberi jarak.


Arjuna paham apa alasannya, dia terlalu menyakiti perempuan itu, dan bayi mereka. Ah, mengingat bayi membuat Arjuna menatap perut Kirana yang membuncit. Dimana sekarang ibu hamil itu tengah makan disuapi oleh sang Bunda.


Membuat Arjuna masuk ke dalam kamar. “Katanya Bunda mau belanja, Purwa udah nungguin di bawah. Biar Abang aja yang nyuapin Kirana,” ucapnya menawarkan diri.


Yang dibalas gelengan oleh Kirana. “Udah kenyang kok, Bun. Bunda kalau mau berangkat gak papa.”


“Udah kenyang yakin?” tanya Bunda Eliza.


Yang dibalas anggukan oleh Kirana. “Kenyang.”


“Minum vitaminnya ya,” ucap Bunda mengambilkan tempat obat Kirana.


“Ini vitamin, Sayang. makan ya,” ucap sang Bunda meyakinkan.


Bahkan saking takutnya Kirana, dia meminta seorang perawat yang bekerja di sana memastikan bahwa itu benar benar vitamin. Saat tau itu benar, baru Kirana mau meminumnya.


“Bunda tinggal dulu gak papa?”


Kirana mengangguk, matanya bahkan tidak menatap sosok lain di ruangan itu. Membuat Arjuna merasa semakin bersalah karenanya.


“Mau pesen apa?”


“Mau silky pudding, Bun.”


“Rasa apa?”


“Cokelat ya?”


“Iya, nanti Bunda beli mentahnya ya biar dibikin di sini.”


“Makasih Bunda.”

__ADS_1


Bunda Eliza bahkan mencubit pelan pipi Kirana. “Jaga Kirana, Bang,” pesannya sebelum keluar dari ruangan itu.


Meninggalkan Arjuna yang masih diam berdiri. Dan Kirana sadar, suaminya itu diliputi rasa bersalah. Setelah beberapa kali menghindar, Kirana mencoba memahami apa yang dirasakan sang suami. Dia ingin melihat dari sudut pandang sang suami.


Dan Kirana rasa dia mendapatkannya sekarang.


“Kemarilah, Kak. Tidak ingin memeluk aku dan adek bayi?”


Sontak pertanyaan itu menumbuk hati Arjuna dengan ribuan jarum. Pria itu datang ke dalam rentangan tangan sang istri sebelum akhirnya mensejajarkan wajahnya dengan perut buncit itu.


“Maafin Papa, ya Nak. Maaf,” ucapnya berulang kali.


Kirana ikut merasa sesak, dia mengusap rambut Arjuna, menggenggam tangannya kemudian memaksanya untuk duduk tegak dan melihatnya lagi.


“Kenapa Kakak gak balas tatapan aku?”


“Maaf, Ran.”


“Coba lihat aku,” ucap Kirana dengan lembut.


Arjuna melakukannya, menatap wajah cantik istrinya yang pucat.


“Apa aku baik?”


Arjuna mengangguk.


“Aku istri yang sholeh bukan?”


Arjuna kembali mengangguk.


“Aku ibu yang baik bukan?” tanya Kirana kini dengan suara tercekat menahan tangis.


“Iya…”


“Iya, Kakak setuju dengan semuanya. Kenapa Kakak takut? Bukannya orang baik itu ditempatkan di sisi Allah?” tanya sang istri sambil meremat tangan suaminya.


“Aku takut, Ran…  aku takut.”


Kirana mendekap tubuh sang suami, memberi usapan di rambutnya. “Kenapa takut? Semuanya berjalan atas seizin Allah. Karena jika aku tidak bisa menjadi sosok ibu di sini, aku mungkin akan menjadi sosok bidadari di sana. Bukankah kakak bilang aku baik? Aku istri yang sholeh?”


Arjuna mengangguk, dia tenggelam dalam tangisannya sendiri.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2