
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Latar belakang keluarga yang bagus, wanita yang berpendidikan dan juga wajah yang cantik. Itulah yang dilihat Kirana dari wanita yang dibawa Eyang, ditambah oleh Eyang Damayanti yang terus mengagung-agungkan wanita yang ada di sampingnya itu, mengatakan kalau dia bisa menjadi ibu rumah tangga yang sangat baik.
Ada sedikit rasa nyeri di hati Kira, menandakan dia belum benar benar rela melepaskan dua orang terkasih miliknya. Seolah… Ayu terlalu sempurna untuk mendapatkan semuanya. Kirana mengakui dia sedikit iri, yang mana membuatnya terus saja menggumamkan kalimat istigfar dalam hatinya.
“Ayu mau makan malam di sini ya, Ran. Dia mau nyiapin makan malam untuk kamu sama Arjuna,” ucap Eyang Damayanti.
Kirana sedikit kikuk, dia ingin menolak, tapi Eyang lebih dulu bertepuk tangan riang. “Jangan khawatir, dia pinter kok. Kamu bilang aja mau makan apa, pasti Ayu yang bikini itu buat kamu. Boleh kan?”
“Iya boleh, Eyang.”
“Nah, ayo, Ayy. Kita belanja yuk.”
“Tunggu, Eyang. Kita gak boleh ninggalin Kirana di sini sendirian,” ucap Ayu yang masih menggenggam tangan Kirana, dimana dia memberikan pijatan kecil di sana. “Masih mual? Mau ke rumah sakit?”
“Nggak, Mbak. Udah meningan kok.”
“Istirahat ya, kamu mau dimasakin apa. Eh, ada obat gak?” tanya Ayu pengertian.
Kirana mengangguk. “Ada, Cuma obatnya dimakan pas pagi sama malam. Gak papa, Kak, emang udah biasa kayak gini kok.”
Eyang Damayanti yang sedikit kesal pada Ayu itu menarik tangannya untuk berdiri. “Udah ayo, jangan ganggu Kirana, biarin dia istirahat. Ayo kita pergi,” ucap Eyang Damayanti dengan nada yang penuh tekanan. “Kasian dia mau istirahat. Eyang sama Ayu pergi dulu ya, kamu mau dimasakin apa?”
“Yang berkuah aja, Eyang.”
__ADS_1
“Sop ya? Mau? Ayu pinter loh?”
Kirana hanya mengangguk menyetujui, kemudian melihat dua orang itu pergi menjauh dari kamarnya. Kirana hanya menghela napasnya, sambil mengusap perutnya yang membuncit itu.
“Jangan nakal ya, suka nggak sama tante tadi? Yang dibawa Eyang?” Kirana tengah berdialog dengan jabang bayi di perutnya. “Dia adalah….. adalah….”
Ucapannya tersendat-sendat tatkala dirinya membayangkan siapa sosok itu, dia hanya menggeleng. Harapan itu masih ada, Kirana ingin menggendong anaknya saat lahir nanti.
“Nanti lahir dengan sehat ya, Sayang. Mama sama Papa nunggu kamu.”
🌹🌹🌹🌹
Purwanti mengendarai mobilnya memasuki pekarangan rumah saudaranya. Dia keluar dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Kirana. Bunda Eliza terus saja menerornya dengan pesan untuk setidaknya satu kali dalam sehari menengok Kirana.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” jawab si Bibi Pembantu. “Eh, Non.”
“Iya, tadi Eyang bawa seseorang.”
“Temennya?” tanya Purwanti yang kini melesak mengambil soda di dalam lemari es.
“Calon istrinya Pak Arjuna, Non.”
“What the!” Purwanti sontak menatap kaget sang pembantu. “Calon istri? Bi, jangan ngaco. Si Abang mau nikah lagi gituh?”
“Tadi saya gak sengaja denger percakapan mereka, Non. Katanya kalau Mbak Ayu; yang dibawa Eyang Damayanti itu adalah calon ibu bagi anak dalam kandungannya Bu Kirana. Jadi semacam mereka lagi siapin kepergian Bu Kirana.”
“Wah gilaaaa, kemana mereka sekarang?”
__ADS_1
“Sedang keluar membeli bahan makanan mau makan malam di sini katanya.”
“Dih Eyang tetep nyebelin,” gumam Purwanti. “Dimana Kirana?”
“Dikamarnya, Non.”
Yang mana membuat Purwanti bergegas menaiki tangga, mengetuk pintu kemudian masuk. Dan mendapati Kirana yang sedang membaca al-Quran di sana, dengan mata yang semmbab.
“Masuk aja sini, kenapa bengong di sana?” tanya Kirana yang menyadari keberadaan Purwanti.
Perempuan itu berdehem dan melakukannya. “Mbak, Eyang ngundang calon istrinya Bang Juna?”
Kirana terdiam.
“Gila ya kamu, Mbak,” ucap Purwanti duduk di sofa yang sama dengan Kirana. “Kamu masih hidup, udah nyari calon ibu buat anak kamu. Gak ada yang namanya calon ibu, kamu satu satunya ibu di dalam kehidupannya!”
Teriakan Purwanti sontak membuat Kirana menjatuhkan air matanya, dia merasa bersalah tentu saja.
“Mbak, percuma nangis. Mbak tega ya sama anak mbak sendiri.”
“Tapi… harapanku untuk hidup sedikit, Purwanti.”
“Bukan berarti gak ada kan?!” tanya Purwanti menyimpan kaleng soda di meja hingga menimbulkan suara. “Mbak gila ya?”
“Hiks…. Aku menyayanginya,” ucap Kirana memeluk perutnya yang membuncit.
“Maka dari itu jangan berfikiran pesimis, Mbak. Kamu bisa melewatinya.”
Kirana merutuki dirinya yang memang pernah berfikiran seperti itu, dimana dia berfikir kalau jodoh yang dekat dengannya adalah kematian.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
TBC