Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Terbuka


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Keduanya benar benar pindah ke rumah itu, sesuai keinginan Kirana. Dan Arjuna akan melakukan apapun untuk sang istri dan calon buah hati mereka. Arjuna mencoba untuk mengambil sisi baiknya, mungkin dengan dirinya diam di rumah ini, dirinya akan senantiasa mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan juga Kirana.


Kepindahan mereka ke sini mengundang sang adik perempuan yang diutus oleh Bunda Eliza. Purwanti bertugas untuk memastikan semuanya dalam keinginan sang Bunda, seperti memastikan pembantu akan diam di sana selama 24 jam.


Arjuna bahkan dikejutkan oleh adik perempuannya itu yang tiba tiba datang dan memberi perintah.


“Abang pikir yang datang bakalan bunda.”


“Abang mah gitu ih, kenapa gak bilang bilang dari sebelumnya kalau mau pindahan, jadikan Bunda yang ke sini.”


“Emang bunda kemana?”


“Gak tau, dia sibuk banget dari kemaren.”


“Sibuk gimana? Bukannya butik dia udah punya asisten yang cekatan?”


“Gak tau, dia kemaren ketemu sama tukang obat herbal.”


“Buat ngapain?” tanya Arjuna heran.. “Bunda sakit?”


“Ya man ague tau, Bang. Tanya sendiri sama lu lah, Bund amah liat muka gue bawaannya pengen bentak mulu deh kayaknya,” ucap Purwanti dengan kesal.


Dia menyalakan televise, mengabaikan tatapan sang kakak yang tajam. 


“Makannya berangkat lagi sana, lu kuliah belum kelar kan?”


“Tinggal nyusun elah, santuy aja kenapa.”


“Lu gak pernah betah tinggal di Jakarta, Dek.”


“Mau tau aja ih,” ucap Purwanti yang berdiri, enggan duduk di samping kakaknya yang terlihat menaruh kecurigaan padanya. “Mana Kirana? Gue mau ketemu sama dia.”


“Di kamernya, dia tadi lagi tidur.”

__ADS_1


“Gila, dia tidur selama itu? Pas kita ngatur barang?”


“Biarin aja,” ucap Arjuna yang duduk di sofa, dia hendak menarik tangan Purwanti untuk kembali menjatuhkan pantatnya di sofa dan tidak mengganggu sang istri. “Tadi dia bangun makan pangsit doang, terus katanya ngantuk lagi.”


“Bangunin ih.”


“Nanti aja.”


“Gue mau ketemu,” ucap Purwanti kemudian melepaskan paksa tangan Arjuna, dia melangkah cepat menaiki tangga.


“Perhatiin ucapan lu, dia masih muda tapi stratanya lebih tinggi daripada lu, dek.”


“Iya, paham. Nyuruh panggil dia Mbak kan?”


Arjuna diam sebagai jawaban iya, dia terdiam dan merenungkan kata kata Mario tentang kesehatan mental Merlinda. Bukan apa apa, Arjuna hanya ingin bertanggung jawab sebagai manusia. Dia tidak ingin hal buruk berbalik menimpa dirinya, Arjuna ingin meminta maaf secara tulus pada Merlinda.


Maka dari itu, sekarang dia menghubungi Alex, dia ingin menanyakan kebenarannya dan cerita lengkap tentang Merlinda.


“Hallo?” tanya seseorang di sana.


“Meri di Amerika?”


“Kenapa lu gak bilang?”


“Lu marah marah sama gue, anjiir. Nyuruh gue gak pernah bahas dia sepenting apapun.”


“Ceritain gimana keadaannya, sedetail mungkin.”


🌹🌹🌹🌹🌹


“Jangan tidur mulu lu, Ran. Kasian bayi lu.”


“Iya, Kak,” jawab Kirana yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dia ingat sebelumnya Purwanti membuka pintu kasar hingga dirinya terbangun, kemudian memaksanya mencuci wajah dan kembali pada kesadaran. Jujur saja, jika Kirana membuka matanya dan sadar, dia merasa penyakitnya ini semakin menusuk secara perlahan pada dirinya.


“Lu kayak ****** tau, kita dari tadi bawain barang, lu malah asyik tidur.”


“Hah? Barang? Udah pindahan?” tanya Kirana panic. Dia berdiri dan melihat keluar lewat ambang pintu, kemudian kembali berbalik menatap Purwanti dengan kening yang berkerut. “Secepat ini? hari ini?”

__ADS_1


“Lu pikir Bang Arjuna bakalan main main? Meski lu bilang mau monas juga pasti dia usahain hari itu juga. Beruntung deh lu.”


“Wahhh…,” gumam Kirana mendekat kembali dan duduk di sofa. Tangannya senantiasa mengelus perutnya. “Aku gak tau bakalan secepat ini.”


Sementara itu, Purwanti memicingkan matanya menatap manik Kirana yang tidak beradu dengannya. Memperhatikan bagaimana kecilnya tubuh Akila, kulit yang pucat dan sebelumnya dia muntah cukup lama. 


Purwanti tau, ada sesuatu yang tidak beres dari kakak iparnya itu. 


Dan Kirana menyadari tatapan Purwanti yang tajam padanya. “K⸻kenapa liatin aku kayak gitu, Kak?”


“Mbak…”


“Mbak?” tanya Kirana kaget.


“Gue disuruh manggil itu sama si Abang sama si Bunda,” ucapnya kemudian menggeleng; merasakan jika dia tidak focus pada pikirannya. “Lu sakit ya, Mbak?”


“Hah? Nggak, aku sehat. Emang kenapa?” tanya Kirana.


“Lu beda, jangan nipu gue lah, gue anak Ipa meskipun kuliah jurusan Kimia juga.”


“Aku gak sakit.”


“Jangan bohong, Mbak.”


“Enggak kok,” ucap Kirana yang panic, dia meremat bajunya dan berusaha melepaskan kontak mata dengan Purwanti. Namun ketika dia sedang ketakutan, sebuah cairan keluar dari hidungnya.


“Mbak! Lu berdarah!” teriak Purwanti panic.


Kirana menyentuhnya, dia melihat darah di sana, kemudian pandangannya memburam dan semuanya menjadi gelap.


“Abang! Abang! Bini lu pingsan! Abang Juna!” teriak Purwanti panic.


🌹🌹🌹🌹🌹


SAY THANK YOU TO PURWANTI



TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2