Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Keputusan sang Kepala Keluarga


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Ayah Wigan menyimpan dua gelas kopi yang baru saja dia pesan di meja, menepuk pundak sang putra sebelum dirinya duduk, keduanya tengah berada di caffe, ayah Wigan mengajak Arjuna keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Karena dapat dilihat, Arjuna yang menahan tangisannya itu. Saking sakitnya dia tidak bisa menangis.



“Minumlah dulu,” ucap Ayah Wigan. “Tenangin pikiran kamu.”


“Gimana Juna bisa tenang, Yah?”


“Maka dari itu kita diskusikan apa yang akan dilakukan untuk istri kamu.”


Arjuna menatap kopi hitam di depannya, dia menghela napas dan meminumnya. Merasakan pahit yang amat dalam, entah berapa slop yang dipesankan sang ayah.


“Pahit? Biar mata kamu terbuka.”


“Americano macam apa ini,” gumam Arjuna ditambah rasa kesal.


“Kirana bilangnya gimana? Dia mau gimana?” tanya Ayah Wigan.


Dan hanya ada tatapan keputusasaan di sana, putranya tertawa hambar. “Kankernya bukan lagi di tahap awal, bahkan mulai menyebar. Gila bukan? satu satunya penanganan adalah dengan kemoterapi, tapi itu akan membuat janinnya lahir premature. Itu kemungkinan kecilnya, bagaimana dengan kemungkinan yang lain?”


“Opsi apa yang dokter kasih?”


“Mereka kasih obat-obatan yang aman untuk ibu hamil. Tapi itu gak berpengaruh sama sel kanker yang mulai menyebar, obat itu hanya membantu mengurangi efek yang timbul karena penyakit.”


“Lalu kamu maunya gimana? Mengorbankan anak?”


“Yah,,” ucap Arjuna frustasi. “Nyawa Kirana yang dipertaruhkan.”


“Begitupun dengan anak kalian, Kirana sayang sama anak kalian, dia mau anak itu lahir dengan sempurna.”


“Premature tidak apa bukan? kandungannya akan memasuki bulan kelima, sebentar lagi dia lahir. Abang yakin kalau dia pasti bertahan di dalam sana.”


“Bagaimana dengan operasi Caesar?”


Arjuna kembali menggeleng, tersenyum dengan pedih. “Itu akan menyebabkan komplikasi, tidak bisa. Tubuh Kirana terlalu lemah.”

__ADS_1


“Yang kamu inginkan adalah melakukan kemoterapi?”


Arjuna mengangguk yakin. “Abang gak bisa kehilangan Kirana, Yah. Gak bisa, Arjuna harus bahagiain Kirana.”


“Fikirkan dengan baik, Bang. Kamu tau Kirana menyembunyikan ini bukan semata mata dia gak sayang sama dirinya sendiri.”


Arjuna menggeleng. “Abang tetap akan melakukannya, Yah. Kirana harus melihat anak kami tumbuh, dia harus sembuh dan membawanya jalan jalan, mengajarinya sendiri. dia harus menjadi ibu.”


🌹🌹🌹🌹


Purwanti tidak langsung pulang, dia berada di taman rumah sakit dulu menunggu sang kekasih yang akan berangkat bekerja setelah dari kampus.



Ngomong-ngomong, sosok itu adalah sosok yang tidak asing untuknya. Purwanti menyukai Mario sejak dia bertemu dengannya. Dan satu bulan terakhir ini mereka baru menjalani hubungan.


“Nunggu lama?”


“Ya allah, Kak. Bikin kaget,” ucap Purwanti memegang dadanya, dia memberi isyarat agar kekasihnya duduk di sampingnya. “Duduk dulu sini.”


“Nih.”


“Apaan?”


“Asekkk, makasih.”


“Gimana di dalem?” tanya Mario, dia memang selalu mendengar kabar mengenai Kirana melalui sosok di sampingnya. Tidak lama, baru 1 bulan lamanya, Mario juga tau Kirana ditemukan dari Purwanti dan Alex. Dua sumber terpercaya untuknya.


“Kirana tadi lagi tidur.”


“Parah ya penyakitnya? Gak nyangka, kasian,” gumam Mario yang memang benar-benar merasakan hal itu.


“Kakak gak kesel sama Kirana gitu? Benci?”


“Nggak, kenapa Kakak harus benci sama Kirana?”


“Um…. Dia ‘kan….?”


“Kirana itu korban, yang Kakak benci itu Abang kamu. Dia gak ada nyesel-nyeselnya.”


“Dia nyesel kok, dia minta ampun sama Kirana, dia juga nyari Kirana sampe lupa segala.”

__ADS_1


“Sama Merlinda?”


“Lah, kan Kakak yang gak izinin dia datang.”


“Gak ada usaha banget kan? Buat minta maaf? Buat menebus dosa? Anjingg emang tuh orang.”


Purwanti berdehem, dia tau kalau orang di sampingnya itu membenci saudaranya. “Ya… jadi Kakak maunya gimana sekarang? biar gak benci lagi sama Abangnya aku?”


“Gak ada, aku bakalan tetep benci sama dia.”


“Merlinda di Amerika ‘kan? Sama orangtua Kakak?”


Mario mengangguk. “Dia masih dalam tahap terapi.”


“Sama Kak Alex?”


“Alex masih ada urusan di sini, kayaknya dia nyusul nanti,” ucap Mario mengingat pria itu mencoba mengisi hati Merlinda kembali.


Disaat Mario hendak mengatakan kalimat lainnya, dia melihat sosok yang tidak asing, itu adalah Arjuna dan Ayahnya. Mario berdiri.


“Kakak mau kemana?”


“Kerja dulu, sana kamu makan.”


Purwanti menoleh ke belakang, dimana dia melihat Abangnya sedang bicara sambil melangkah. Saat menoleh lagi ke depan, Mario ternyata sudah pergi menjauh. “Hati hati, Kak,” teriak Purwanti sebelum dirinya juga melangkah ke berlainan arah.


“Ayah, Purwa mau ngambil dulu baju buat Kirana ya.”


“Hati hati.”


“Tadi kamu teriak sama siapa?” tanya Arjuna.


“Bukan siapa siapa,” ucap Purwati kemudian bergegas pergi.


Sementara itu Arjuna kembali melanjutkan langkah bersama sang Ayah. “Tolong rahasiakan dulu ya, Yah. Kalau berjalan buruk, Arjuna juga akan menghentikannya.”


Ayah Wigan hanya mengangguk, membiarkan sang putra melangkah menuju ke ruangan dokter. Keputusan Arjuna tidak bisa digeser sedikit saja, benar benar mutlak yang mana membuat Ayah Wigan hanya bisa diam. Putranya telah besar, dia harus memegang tanggung jawab dan prinsipnya sendiri.


Sementara itu, Arjuna kini sudah berada di ruangan dokter, berhadapan dengan sosok wanita paruh baya yang menangani istrinya.


“Saya akan mengambil kemo, tapi tolong jangan biarkan istri saya tau. Biarkan obat itu mengalir di selang infusnya,” ucap Arjuna penuh keyakinan.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2