Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Orang dari Masa Lalu


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


BRAK!


Sebuah suara yang mana membuat Bunda Eliza kaget, dia menoleh dan mendapati sang putra tengah menaiki tangga menuju kamarnya. Suara pintu tertutup itu kembali terdengar, membuatnya semakin khawatir.


"Bi, tolong kemasi ini ya."


"Baik, Bu," jawab Bibi Pembantu itu.


Membiarkan sang majikan menaiki lantai dua. Bunda Eliza mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar milik putranya.


"Bang?" Panggilnya yang tidak kunjung mendapatkan jawaban. "Bang?"


"Di balkon, Bun."


Bunda Eliza segera melangkah ke sana. "Kok udah pulang? Mau makan malam di rumah? Kirana sama siapa di sana?"


"Sama Purwanti, jangan khawatir."


"Gak biasanya kamu tinggal," ucap Bunda Eliza ikut duduk di sofa yang ada di balkon itu.


Matanya tidak lepas dari Arjuna yang sedang lelah, menatap semesta yang benar benar sedang menghancurkannya. 


"Kenapa, Bang?"


"Gak papa, Bun. Capek aja."


"Sabar dulu, insya allah semuanya bisa jika Allah yang mengizinkan."


Arjuna menatap manik sang bunda, kemudian tanpa seizinnya, air matanya turun begitu saja. Yang mana membuat tangan Bunda Eliza terlentang, menerima hamburan tangisan dari putra yang sangat dia sayangi.


Tidak ada suara, tapi Bunda Eliza dapat merasakan air mata itu membasahi bajunya. Putranya tengah berduka dengan takdir yang dituliskan Allah, dan tidak ada tempat ternyaman selain pelukan seorang ibu untuk penenang.


"Kenapa Kirana gak mau berobat, Bun? Apa dia emang mau ninggalin Abang? Dia benci sama Abang?" Tanya Arjuna yang masih berada di pelukan sang Bunda.

__ADS_1


Wanita berusia setengah abad itu menggeleng, dia mencium puncak kepala sang anak. "Inilah seorang Ibu, Nak. Dia ingin yang terbaik bagi anaknya."


"Tapi gak adil, Bun. Kirana seolah mau pergi, ninggalin Abang."


"Jangan berpikir yang belum pasti, jangan berpikiran negatif. Kirana melakukan ini demi anak kalian, bayangkan janin itu belum tau apa apa, dia mungkin tidak berharap lahir ke dunia jika kita memperlakukannya buruk. Obat obatan itu membuat janinnya memburuk, Bang. Bayi yang belum terbentuk sempurna itu akan mengalami kesulitan. Abang tega?"


Arjuna memejamkan matanya kuat, inilah yang harus dia hadapi. Kenyataan kalau dirinya mengorbankan sosok ayah yang penyayang demi menjadi suami yang baik.


"Abang jahat, Bun. Abang lakuin itu."


"Apa maksud, Abang? Kirana udah maafin abang. Jangan mengungkit masa lalu."


"Bukan Kirana, tapi bayinya." Arjuna tersendat karena air matanya menetes membayangkan anaknya menangis merasakan efek dari pengobatan kimia yang menyakitkan. "Abang nyakitin bayinya, Bun."


🌹🌹🌹🌹


Purwanti tengah menunggu di parkiran rumah sakit. Sesekali dia menatap jam, khawatir jika Bunda atau Abangnya kembali lebih cepat.


Sampai akhirnya dia melihat ada mobil yang dia sangat kenali. Purwanti tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.


"Kenapa kakak lama banget?" Tanya dia dengan mengerucutkan bibirnya.


"Nggak, ayo masuk. Tadi Kirana lagi makan kok."


"Kamu tanya dulu ya, dia mau atau enggak ketemu sama Kakak."


Purwanti mengangguk, dia melangkah bersama dengan Mario menuju kamar Kirana


Sebelum Mario masuk, Purwanti yang masuk lebih dulu. Dan mendapati sang Kakak Ipar dengan membaca al-Quran di sana.


"Lah, Mbak, udah beres makannya?"


"Udah, tadi dibawa sama perawatnya."


"Hmm… mbak, ada yang mau ketemu sama kamu."


"Siapa?" Tanya kirana menurunkan al-Quran dan menatap Purwanti dengan kening yang berkerut.


"Kak Mario."

__ADS_1


"Kak Mario?" Guman Kirana terlihat terkejut. "Dia di sini?"


"Iya, dia mau ngomong sama mbak. Gak papa?"


"Gak papa. Tapi pintunya dibuka ya, kamu juga harus ada di luar sana."


"Iya, Mbak. Tenang aja," ucap Purwanti yang keluar sejenak, sebelum akhirnya sosok pria tampan itu masuk dengan ragu.


"Assalamualaikum," ucapnya pelan.


"Waalaikumsalam, Kak."


Mario memaksa tersenyum melihat Kirana yang begitu kurus, perut yang buncit dan juga wajah yang pucat.


"Ran… aku mau minta maaf," ucapnya dengan serius. "Apa yang terjadi sama Merlinda bukan salah kamu, tapi salah bajingan itu."


"Kak Arjuna?"


"Iya, di awal dia lari dari tanggung jawabnya. Merlinda pindah kok ke Amerika, dia mula hidup lagi di sana. Tapi lihat kamu, Ran, kamu terjebak bersama pria itu. Dia membuatmu menderita?"


Sontak Kirana menggeleng dengan mata bertanya tanya. "Tidak, Kak Arjuna adalah suami yang baik, Kak."


"Kamu hebat, masih bisa membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu."


"Kakak ke sini untuk minta maaf bukan? Kirana maafkan, Kak."


"Kamu gak nyaman ya kalau denger suami kamu bajiingan? Tapi itu fakta, Ran," ucap Mario dengan wajah marahnya di sana, dia masih membenci Arjuna.


"Tentu aku gak nyaman, Kak. Dia suami aku."


"Dia udah nyakitin kamu. Kenapa kamu bisa maafin dia?"


"Hidup di masa lalu hanya akan membuat terpuruk. Tidak ada orang yang tidak pernah membuat kesalahan. Jika dia memperbaikinya, kenapa aku tidak memaafkan?"


"Ran, aku cuma mau kamu lepas dari dia. Aku bisa bantu."


Kirana menatap Mario kecewa dan penuh tanda tanya. "Aku akan pergi ke mana, Kak? Sementara syurgaku ada padanya?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2