Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Pukulan Telak


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Bunda Eliza tengah memeriksa beberapa laporan penjualan dari butiknya. Dia mencoba menyibukan diri sambil mencari solusi tentang kesehatan Kirana. Namun, sampai saat ini Bunda Eliza belum juga mendapatkan titik terang. Bagaimana bisa dirinya tidak khawatir sementara sang menantu sedang berada di ujung kematian, perasaan bersalah itu semakin menyeruak ke dalam dadanya.


Satu per satu keluarga Kirana pergi, dan dia akan menyusulnya sekarang ini?


“Bun?”


“Astagfirullah, Ayah! Kenapa ngagetin?” tanya Bunda Eliza yang melihat sang suami sudah masuk ke ruangan kerjanya. “Ngapain ke sini tumben? Bukannya Ayah ada meeting ya sama mitra baru itu?”


“Gak jadi, Bun. Diliat dari riwayatnya dia jelek, jadi gak mau.”


“Liat orang itu jangan dari masa lalunya kenapa,” gumam Bunda Eliza.


Yang mana malah membuat Wigan menyimpan sebuah berkas di hadapan istrinya, kemudian dia duduk di sofa dengan kaki yang terangkat ke meja.


“Ini apa?” tanya Bunda Eliza bingung.


“Liat aja,” jawabnya.


Bunda Eliza membuka isinya, dia mengerutkan keningnya mencoba memahami semuanya. Sampai akhirnya dia paham, Bunda Eliza melangkah mendekati sang suami. “Kamu yakin, Yah?” Bunda gabung duduk di dofa yang ada di ruangan kerjanya.


“Iya, semua asset untuk Arjuna akan digantikan atas nama bayi yang dalam kandungan Kirana.”


“Bayinya aja belum lahir.”


“Seenggaknya….,” ucap Wigan. “Ayah merasa dosa ayah telah ditebus, ayah juga mau ngambil bagian dari proyek China Town. Jadi investor, biar sahamnya buat Kirana.”


Bunda Eliza menarik napasnya dalam. “Ayah tau gak apa yang lebih membahagiakan daripada harta? Kasih sayang. Bunda pikir Ayah harus lebih deket sama Kirana, bicara dari hati ke hati misalnya.”


“Bunda kan tau kalau Ayah orangnya bukan yang type kayak gitu.”


Bunda Eliza berdecak, dia ingin suaminya ini menunjukan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda, bukan dengan uang dan kekuasaan. Apalagi menyangkut Kirana yang bahkan pengorbanan ayahnya tidak bisa diukur dengan apapun itu.


Baru juga hendak bicara, Bunda Eliza mendapatkan telpon dari Purwanti.


“Dah ini anak baru juga dikirim ke Jakarta udah nelpon aja,” gumam Bunda Eliza kemudian mengangkat panggilannya. “Hallo, Asssalamualaikum? Gimana?”

__ADS_1


“Bun, Kirana masuk rumah sakit. Purwa sama Abang Juna lagi di sini, masih dicek sama dokter. Bunda ke sini ya, semua orang di sini panic.”


Saat itu pula Bunda Eliza merasa sangat lega, karena Tuhan memberi Arjuna jalan untuk melihatnya sendiri tanpa harus dia beritahu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Arjuna terlihat sangat khawatir, dia menunggu di luar ruangan dimana sang istri telah ditangani oleh dokter. Dia hanya bisa duduk, tertunduk menatap lantai dan memanjatkan doa.


Purwanti yang melihat sang abang seperti itu merasa sangat khawatir, tidak bisanya Arjuna panic. Bahkan ketika hampir diputuskan oleh Merlinda, Arjuna tetap menangani masalahnya dengan tenang. “Abang tenang, Kirana insyallah gak papa, pasti efek kehamilan.”


“Gak ada yang hamil kayak gitu,” gumam Arjuna masih menunduk dengan kedua tangannya menyentuh kening.


“Abang nyadar?” tanya Purwanti.


“Ada yang gak beres, Abang cari tau, kalau yang hamil gak kayak gitu.”


“Berdoa saja supaya semuanya baik baik saja,” ucap Purwanti.


Dan ketika pintu ruangan terbuka, Arjuna berdiri seketika, matanya menatap tajam sang perawat yang keluar dari sana.


“Pasien sudah boleh dijenguk, kondisinya mulai stabil, tapi masih belum sadarkan diri.”


Tanpa mengatakan apapun lagi, Arjuna masuk ke dalam, mengabaikan panggilan Purwanti. Yang ingin dia lihat saat ini adalah sang istri, memastikan dia baik baik saja dan senantiasa masih berada bersama dengannya.


Tidak lama kemudian Purwanti masuk, dia menepuk bahu saudaranya. “Bang, dokter bilang mau ngomong secara Privacy, dia ada di ruangannya lagi nganalisis. Di belokan koriodor.”


“Bentar….,” ucap Arjuna yang semakin mengeratkan genggaman tangannya.


“Sana, Bang. Biar Kirana, gue yang jaga.”


Sebelum pergi meninggalkan sang istri, Arjuna mengecup kening sang istri lama kemudian berkata, “Semoga Allah mengangkat penyakitmu, bidadariku,” ucap pria itu sebelum melangkah menjauh dari sana.


Dia bergegas mencari ruangan dokter itu, mengetuknya sebelum akhirnya masuk ke dalam sana.


“Hallo, dok.”


“Silahkan duduk, Pak,” ucap dokter wanita yang menangani Kirana sebelumnya itu.


“Bagaimana kondisinya? Tidak serius bukan?” tanya Arjuna menyamankan dirinya di kursi yang berhadapan dengan sang dokter.


“Sebelumnya saya meminta rumah sakit mencari riwayat pemeriksaan, dan Ibu Kirana adalah pasien yang pernah ditangani oleh Kakak saya. Apakah bapak tahu jika Ibu mengalami kanker otak?”

__ADS_1


“Mengalami kanker otak?” tanya Arjuna kemudian tertawa. “Tidak mungkin,” gumamnya kemudian mengalihkan pandangannya. Berharap ini adalah halusinasi.


“Kanker ketika hamil memang tidak mempengaruhi kandungannya, namun itu tidak menghentikan sel kankernya menyebar.”


“Apa yang bisa kita lakukan? Dia akan sembuh kan?”


“Kemoterapi adalah yang sangat saya anjurkan, tapi untuk seseorang yang sedang mengandung bisa mempengaruhi perkembangan bayinya.”


“Bagaimana jika dosisnya rendah?” 


“Bisa dilakukan, tapi pengaruhnya akan sama meskipun tidak separah dengan memberi dosis tinggi. Saya menyarankan untuk melakukan kemoterapi, saya khawatir sel kanker semakin menyebar.”


Arjuna menatap kosong tidak percaya. “Tapi dia akan sembuh bukan?”


“Insyaallah jika kita berusaha, Pak. Mari kita mencoba menyelamatkan si Ibu, tanpa melukai anak yang ada dalam kandungannya.”


Selama beberapa menit, Arjuna berdiskusi dengan sang dokter, mencari jalan keluar. namun yang dapat dia simpulkan dalam percakapan itu, Arjuna harus mengorbankan salah satunya. Si ibu membaik, tapi bayinya yang terkena efek dari obat kimia. Bayinya sehat, tapi si ibu yang lebih menderita.


Ketika Arjuna meminta opsi melakukan kemoterapi setelah melahirkan, dokter dengan mudahnya menggelengkan kepala dan berkata kalau apa yang tengah dialami Kirana saat ini bukan waktunya untuk ditinggalkan, harus diberi penanganan. Dan semua itu ada di tangannya.


Kalimat kalimat kenyataan, dengan bukti rotgen Kirana yang didapatkan sang dokter dari kakaknya. Memperlihatkan bagaimana sel kejam itu menggerogoti istrinya.


Yang mana membuat Arjuna kini berjalan dengan tatapan tidak focus, dia tidak sengaja menabrak bahu seorang perawat saat melangkah. 


“Maaf,” ucap Arjuna kembali melangkah menuju ruangan sang istri.


Bertepatan dengan itu, Purwanti keluar dari dalam.


“Abang? Gimana kata dokter? Kirana udah bangun, Purwa mau beli makanan dulu.”


“Pergi dulu,” ucap Arjuna seolah mengusirnya, kemudian Arjuna masuk ke ruangan berukuran 5x5 meter tersebbut.


Matanya bertatapan dengan sang istri yang sedang duduk bersandar. Arjuna mendekat, dia menggenggam tangan Kirana dan menciumnya.


“Kak….”


“Tega ya kamu, Ran,” ucap Arjuna sambil terkekeh sinis. “Gini cara kamu hukum aku? Iya?”


“Kak, Maaf,” ucap Kirana dengan air mata yang mulai merembas. “Biarkan bayi ini lahir dulu ya? Biarkan dia terlahir sehat, tolong jangan buat dia cacat hanya karena dikandung oleh ibu yang tidak sempurna kayak aku, Kak.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2