
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Kirana benar benar ditinggalkan seoraang diri, dimana Bunda Eliza sudah pergi, dan suaminya kembali bekerja. Kini yang tersisa di rumah hanyalah dirinya, Eyang Damayanti dan juga Bibi pembantu. Mengingat Purwanti sedang disibukan oleh perkuliahannya.
“Sebentar lagi cucu temennya Eyang datang, dia kerja di Jakarta. Jadi deket kok ke sini, nanti dia ke sini pake Grab,” ucap Eyang yang ikut duduk di samping Kirana, dimana wanita paruh baya itu tersenyum dengan penuh rasa bahagia. “Eyang udah bilangin satpam, nanti dia langsung ke sini kok. Kamu gak mau ganti baju dulu?”
“Gak papa pake ini aja, Eyang,” ucap Kirana yang memang sedang memakai gamis polos. Dia jarang memakai kerudung jika berada di rumah, sehingga rambut pendeknya membuat Eyang Damayanti meringis.
“Sakit, Ran?”
“Hmmm?”
“Kamu udah kurus begini, dikasih penyakit. Ya allah, apa yang harus Eyang lakukan?”
“Kirana gak papa, Eyang,” ucap Kirana yang sedang menikmati sup jamur buatan Bibi Pembantu di sini.
Sampai beberapa saat kemudian, Eyang Damayanti mendengar suara mobil memasuki pekarangan, yang mana membuatnya berlari seketika menyambut seseorang di sana.
Sementara Kirana terbatuk karena kaget.
“Bu, pelan pelan,” ucap sang Bibi Pembantu.
“Bi, tolong ambilin kerudung saya.”
“Ini, Bu.”
Kirana memakai kerudung pashmina tanpa peniti, guna menutupi rambutnya saja. kirana berusaha tampil yang baik, saat matanya melihat Eyang masuk dengan membawa seorang perempuan cantik berkerudung biru.
“Assalamualaiku,” ucapnya dengan suara yang begitu lembut.
__ADS_1
Bahkan Kirana sendiri yang notabenya adalah seorang wanita merasa nyaman melihat tampilan yang rapi dan juga suara yang halus. “Waalaikum salam.”
“Nah, ini cucu menantunya Eyang yang Namanya Kirana. Panggil aja Mbak Ayu ya, Ran, dia satu taun lebih tua dari kamu.”
“Hallo, Mbak. Saya Kirana,” ucap Kirana dengan senyuman manisnya, dia menjabat tangan perempuan di hadapannya.
“Hai, Ran. Mbak bawain kamu buah buahan, kata Eyang kamu suka buah persik ya?”
“Suka, Mbak. Makasih ya, repot repot amat.”
“Ih nggak, kebetulan tempat kerja Mbak itu deket sama toko buah. Ada banyak variant, kalau kamu mau nanti bilang aja sama Mbak.”
Dan Eyang Damayanti tersenyum melihat keduanya tampak begitu akur.
🌹🌹🌹🌹
Sayangnya, Kirana tidak bisa melanjutkan perbincangan karena Arjuna menelponnya. Membuatnya menjauh untuk mendapatkan ruang sendiri di kamarnya, sementara Ayu dan Eyang Damayanti sedang berbicara di bawah sambil mengemil.
“Jangan kecapean.”
“Eyang gak ganggu kamu ‘kan?”
“Ya allah dari tadi mikirnya gitu mulu,” ucap Kirana yang malah dibalas suara tawa oleh Arjuna di sana. “Jangan gitu, dia Eyang kamu tau, Kak.”
“Abis kamu tau kalau Eyang itu gak bisa diem. Apalagi di sana gak ada Bunda, kamu berdua sama Eyang.”
“Enggak, ada Bibi Pembantu juga,” ucap Kirana dengan nada ketus.
“Lah kok marah?”
“Kangen Kakak.”
“Cieee yang kangen. Kakak pulangnya nanti sorean ya, Ran. Kamu mau apa? Titip apa gitu? Ngidam apa?”
__ADS_1
“Ngidam Bapaknya anak, udah pulang aja gak usah mampir kemana mana.”
Arjuna tertawa di sana. “Iya, langsung pulang kok.”
“Udah sana, katanya ada rapat.”
“Kiss dulu dong, Ran.”
“Nanti langsung aja, Kak. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam, tap⸻”
TUT. Kirana menutup telponnya sambil tertawa, rasanya ada kebahagiaan karena bisa mengerjai sang suami di sana.
Sampai tiba tiba perutnya terasa sakit, dimana bayinya bergerak dengan kuat sehingga dirinya merasa mual. Sontak Kirana berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan di mulutnya hingga mengeluarkan warna kemerahan.
Darah mengalir dari dalam mulutnya, terasa pahit dan anyir.
“Ya allah, Kirana!” teriak seseorang yang datang mendekat dan membantu mengurut tengkuk Kirana. “Gak papa keluarin aja, Mbak bantu kamu ayo.”
Dengan telaten, Ayu membantu Kirana membersihkan beeberapa cairan darah di wajahnya. Niatnya membawakan buah buahan itu langsung sirna, nampan yang dibwanya disimpan di meja demi mendekati Kirana yang sedang muntah.
“Maaf, Mbak.”
“Kok minta maaf sih? Udah ayo duduk, sini Mbak bantu.”
Kirana mengangguk dan melangkah dibantu oleh Ayu, dia duduk di sofa, menerima minum untuk melegakan tenggorokannya..
“Maaf ya, Mbak,” ucap Kirana lagi.
Yang membuat Ayu menggenggam tangan Kirana kemudian berkata, “Mbak udah denger semuanya dari Eyang. Kamu jangan khawatirkan apapun, Mbak bisa jaga anak kamu kok.”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE