Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Rasa sakit untuk jiwa lain


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Kepergian Mario membuat Kirana lebih banyak diam, terlebih Purwanti meminta Kirana untuk tidak mengatakan apapun tentang hubungannya dengan Mario. Purwanti tidak ingin membuat Arjuna khawatir dan membuat hubungan mereka terputus.


Jelas Kirana bukan orang yang seperti itu, selama hal tersebut membahagiakan Purwanti dan tidak memberikan dampak negative padanya, Kirana tidak akan ikut campur.


“Assalamualaikum bidadariku,” ucap Arjuna diselingi oleh candaan.


Kirana yang baru sadar dengan keberadaan suaminya itu tersenyum, merentangkan tangannya menyambut kedatangan Arjuna. “Waalaikum salam. Sini, Kak.”


“Tumben manja gitu, kenapa?”


“Kangen,” ucap Kirana yang dibalas kekehan oleh Arjuna.


Pria itu menyimpan tas bawaannya; berisi pakaian dan makanan, sebelum naik ke atas ranjang kemudian memeluk istrinya. 


“Adek gak nakal pas Kakak pulang, dia gak bikin aku mual pas makan.”


Ada senyuman pedih di sana, Arjuna tau jelas jika dirinya meracuni anaknya dengan obat-obatan Kimia. “Wahh… adek hebat.”


“Mau dielus.”


Semakin merasakan perasaan bersalah, apalagi ketika tangannya mengelus perut buncit sang istri, kemudian Arjuna memberikan sebuah kecupan di sana. Memejamkan matanya untuk meminta maaf kepada bayinya yang merasakan akibat dari apa yang dilakukan.


“Kakak udah makan?”


“Udah tadi sama Bunda.”


“Bunda gak ke sini?”


“Nanti malam katanya, sama Ayah juga mau ke sini.”


Arjuna membaringkan tubuhnya di samping sang istri, dimana mereka bisa berhadapan dan menatap satu sama lain.


Tangan Arjuna terangkat, menyentuh wajah Kirana yang memucat. Kemana perginya wajah bulat yang selalu membuatnya gemas? Kini tergantikan dengan pipi tirus.


“Kak, kapan aku bisa pulang?”

__ADS_1


“Nanti, kalau udah mendingan.”


“Aku udah mendingan kok, udah gak butuh diinfus lagi. Kan aku juga makan, terus minum vitamin, minum susu, kenapa masih diinfus?”


Arjuna menarik sang istri ke dalam pelukannya. “Nanti ya, sebentar lagi. Kalau kamu udah lebih baik lagi.”


“Aku gak suka, Kak,” cicit Kirana dengan suara pelan. “Bau obat,” ucapnya diikuti dengan tangan yang mendorong pelan dada sang suami.


Berguna memberi jarak diantara mereka, sehingga bisa menatap satu sama lainnya. “Mau pulang, Kak.”


Jujur saja, berada di rumah sakit membuat Kirana tidak betah, dia merasakan energy negative yang selalu membuatnya ketakutan untuk kehilangan anaknya, atau membuat anaknya cacat.


“Iya, nanti kita pulang. Sekarang mau jalan jalan gak?”


Kirana menggeleng. “Nanti malem aja, abis sholat ya.”


“Iya, sekarang mau tidur aja? Dipeluk gini?”


Kirana mengangguk dan membalas pelukan sang suami.


🌹🌹🌹🌹🌹


Kirana masih kuat berjalan, tapi Arjuna memaksanya untuk memakai kursi roda. Padahal Kirana sendiri butuh jalan jalan kaki, untuk meregangkan otot-ototnya.


Kirana hanya menurut, tidak bisa menolak suaminya apalagi Arjuna sudah menatapnya dengan tajam; meskipun bukan karena marah.


“Purwanti pulang?”


“Iya, dia ada kerjaan kampus katanya.”


“Dia nempatin apartemen kamu ya, Kak?”


“Apartemen kita, Sayang,” ucap Arjuna yang tidak pernah ingin menghilangkan kata ‘Kita.’ Antara dirinya dan Kirana.


“Iya, kita. Nanti kita ke saya ya kalau udah pulang.”


“Apapun buat kamu,” janji Arjuna.


Bahkan bintang bintang yang bertebaran menjadi saksinya.


Meraka sampai di taman rumah sakit, Arjuna duduk di bangku sementara Kirana tetap di kursi rodanya.

__ADS_1


Baru juga Arjuna mendesah lelah, sang istri berucap, “Kak, wangi ubi bakar.”


“Kamu mau?” 


Dengan wajah lucunya, Kirana mengangguk, yang mana membuat Arjuna gemas dan memberikan kecupan di pipinya. “Tunggu sebentar ya.”


“Iya. Jangan lama lama.”


“Siap, Sayang.”


Tukang ubi keliling yang memakai mobil itu berada di luar gerbang rumah sakit, Kirana bahkan masih bisa melihatnya.


Dari sana, dia terdiam menatap sang suami yang sedang membeli makanan yang dia inginkan, sebelum beralih menatap bintang bintang. Kirana tersenyum, seolah di atas sana ada obyek yang mengajaknya berkomunikasi.


‘Papah, jangan khawatir, bidadarimu menemukan pangerannya,’ begitu hatinya membatin.


Kirana menikmati kesendirian itu dengan angin yang membelai wajahnya, merasakan udara segar yang sudah lama tidak dia dapatkan.


Sampai akhirnya Kirana sadar akan sesuatu…. “Dimana Kak Arjuna?” gumamnya melihat ke segala arah. Dan ternyata, dia mendapati sang suami yang ada belokan koridor bersama sang ayah mertua sedang berbincang.


Mengambil kesempatan, Kirana meraih tongkat insfusnya, kemudian melangkahkan kaki di menuju koridor.


Dia ingin mengejutkan sang suami, dengan melangkah dari arah yang tidak bisa dilihat.


“Ayah masih bisa memaklumi saat itu, dan sekarang? kamu mau menambah dosis kemoterapinya? Bang, Kirana akan kecewa sama kamu.”


“Gak ada pilihan yang bisa Abang pilih, Pah. Abang gak mau kehilangan Kirana.”


“Dan mengorbankan bayi kalian?”


“Hanya sedikit.”


“Gila, dosis ini membuat organ si bayi menjadi bermasalah.”


Percakapan dua orang yang membuat Kirana mendengar jelas dan memahami apa yang terjadi, membuatnya melepas infus itu seketika, mengabaikan darah yang keluar dari sana.


Setelahnya Kirana melangkah pergi, dengan bibir bungkam dan air mata menetes, dia pergi menjauhi Arjuna.


“Ran, kamu kenapa? kenapa nangis? Ya allah, tangan kamu berdarah, Kirana.”


“Hiks… jangan, Bun….,” ucap Kirana menggeleng histeris. “Jangan apa-apain bayi Kirana, hiks…. Mau pergi dari sini, Bun… bawa Kirana pergi… hiks…. Mereka tega, Kak Arjuna tega….”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2