
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
“Mbak… aku juga takut sih,” ucap Purwanti yang kini sedang duduk di atas karpet, sambil menatap camilan yang begitu banyak di meja. Bibi Pembantu membawakannya ke kamar Kirana, supaya sang majikan nyaman di sana.
“Takut apa?” tanya Kirana yang kini sedang memutar tasbih, sambil sesekali makan kue yang ada di sana.
“Takut tentang masa depan aku, yang masih abu abu. Aku takut, Mbak, kalau semua kebahagiaan yang aku bahayangin ini gak akan pernah terjadi sama sekali. Aku takut, kalau di masa depan suami aku itu gak sebaik Ayah, takut kalau di masa mendatang sudah tidak ada lagi orangtua, takut di masa mendatang aku tidak punya siapa siapa dann berjalan sendirian. Aku takut, Mbak.”
Kirana menatap Purwanti yang focus memainkan bulatan gelas, kegelisahan Nampak jelas di matanya.
“Gimana kalau di masa mendatang lebih menyedihkan dari sekarang? atau aku hanya akan jadi kesepian di masa depan? Bagaimana jika orang orang disekitarku akan meremehkanku di masa mendatang? Dengan siapa aku menikah? Apa aku bahagia bersama dengan jodohku nantinya?”
“Kamu begitu percaya diri mengkhawatirkan masa depan, dan lupa mungkin besok kamu akan mati,” ucap Kirana yang membuat Purwanti menegang, matanya bahkan membalas tatapan sang kakak ipar. “Tanpa kita tau, kalau jodoh yang pasti menemui kita adalah kematian, bahwa gaun yang akan kita kenakan adalah kain kafan. Mungkin saja kamu menikah dengan kematian, kenapa berfikir sejauh itu?”
Purwanti kembali terdiam.
“Yang harus kamu khawatirkan itu, apakah amalku sudah diterima? Apakah sholatku sudah benar? Apakah aku punya cukup bekal untuk menikah dengan kematian?”
“Mbak…., jangan bikin aku takut.”
“Aku gak bikin kamu takut, Purwanti, aku Cuma kamu kamu berhenti memikirkan hal yang tidak pasti. Sedangkan kematian ada di pelupuk mata.”
__ADS_1
“Itu yang Mbak fikirkan setiap saat?”
“Untuk menambah amalan? Ya, aku takut belum memiliki cukup bekal. dan aku masih berharap diberi waktu lebih lama.”
“Untuk hidup?”
Kirana menggeleng. “Untuk menjadi istri Kak Arjuna, sebelum menjadi pengantin Allah. Tapi siapa yang tau ‘kan? Mungkin Allah lebih mencintaiku daripada Kak Arjuna.”
“Mbak….” Purwanti meremat tangan iparnya. “Kamu pasti bisa bertahan.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Pulang saat sore, kemudian bergelut di dapur. Itu yang dilakukan Eyang Damayanti dan juga Ayu. Awalnya Ayu menolak, dia merasa tidak enak, tapi Eyang Damayanti terus saja memaksa hingga kini berakhir dengan dirinya menguasai dapur..
“Eyang, adiknya Kak Arjuna kayaknya gak suka ya sama aku?”
“Apa ini tidak terlalu cepat, Eyang? Aku merasa tidak nyaman,” ungkap Ayu mengatakan kegelisahannya.
“Jangan merasa seperti itu, lambat laun dia akan menjadi suamimu.”
Sampai seseorang tiba tiba menyahut. “Tidak sebelum Mbak Kirana meninggal, Eyang itu ya, orang masih idup udah ribut,” ucap Purwanti yang sedang menuruni tangga.
“Kamu bicara yang sopan sama Eyang ya.”
“Eyang ngerti dong, hargai perasaan Mbak Kirana. Nanti aja kenapa.”
__ADS_1
“Sekarang atau nanti juga sama sama meninggal ‘kan? Eyang Cuma mau mempersiapkan aja.”
“Ih, Eyang mah segitunya.”
“Yang sopan kamu, Purwanti!” teriak Eyang Damayanti yang membuat sosok di sampingnya menahan agar Eyang tidak jatuh.
Sementara Purwanti melangkah keluar dari rumah, dia diam untuk duduk di halaman dan menunggu Arjuna pulang.
Sampai mobil itu akhirnya tiba dalam beberapa menit, Purwanti tersenyum melihatnya. Bagaimana sang kakak mengerutkan keningnya dan berjalan ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa lu di sini?”
“Nungguin Kirana, tau gak Eyang bawa siapa?”
“Siapa?”
“Calon istri lu, Bang. Pengganti Kirana.”
“What?” gumam Arjuna bingung.
“Serius, gak percaya? Liat aja di dalem. Tapi jangan khawatir, istri kamu juga setuju kok kalau dia mau dateng sama Eyang ke sini.”
Sontak Arjuna melangkah ke dalam rumah, membuat Purwanti tersenyum di sana. Karena satu yang ingin dia buktikan, kalau cinta sejati itu ada, kalau saudaranya hanya mencintai Kirana, satu untuk selamanya.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE