
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
“Tergantung.”
“Tergantung apanya, Mbak?”
“Tindakan selanjutnya. Kalau dia udah tau itu salah, maka harus segera memperbaikinya, karena bayi itu tidak bersalah. Yang salah itu dua manusia yang mengundangnya datang.”
Purwanti terdiam, dia menelan ludahnya kasar sebelum menghembuskan napasnya. Dia menatap ke arah langit. “Nasib gak ada yang tau ya, Mbak. Padahal satu ibu, satu ayah. Tapi nasib aku sama Bang Juna berbeda.”
“Emang siapa yang hamil itu?” tanya Kirana yang sedikit curiga.
Yang mana membuat Purwanti segera menggeleng, dia berdehem, “Temen, kasian banget ya? Nanti dia bakalan di cap jadi cewek murahan, kasian anaknya. Pasti gak ada yang mau sama dia, apalagi masa lalunya udah buruk kayak gitu.”
“Eh jangan salah loh, Umar bin Khattab aja masa lalunya gak semulus itu,” ucap Kirana. “Nilai seseorang itu jangan dari masa lalunya, tapi dari sebesar apa dia berjuang untuk menjadi lebih baik.”
“Tapi masa lalu itu akan tetap ada kan, Mbak?”
“Iya, semua orang punya masa lalu, tapi gak semua orang mau memperbaikinya. Dari sanalah kita melihat.”
“Pantesan mbak mau balik lagi sama si Abang yang kelakuannya udah kayak setan,” ucap Purwanti yang dibalas pukulan kecil dari Kirana, diiringi candaan karena telah mengungkit tingkah Arjuna di masa lalu.
Sampai mata Purwanti jatuh pada perut Kirana, dia mengusapnya. “Sehat sehat ya, bentar lagi lahiran ya, Mbak?”
“Perkiraan tiga mingguan lagi, doain aja ya.”
“Iya dong, gak sabar ketemu keponakan,” ucap Purwanti dengan senyuman yang mulai memudar. Sampai notifikasi pesan masuk, dia bergegas membukanya. “Mbak, bentar ya.”
__ADS_1
“Oke.”
Purwanti bergegas untuk mencari tempat untuk dirinya sendiri. bahkan saking dia khawatirnya, dia hampir saja menabrak Bibi pembantu di sana. “Ups, maaf, Bi,” ucapnya kemudian kembali berlari.
Memasuki kamar mandi dan membaca pesan dari sosok yang sangat dia nantikan keberadaannya, ada sesuatu yang ingin Purwanti katakan pada Mario.
Namun, isi surat tersebut adalah;
“Purwa, Kakak gak pernah cinta sama kamu, kamu hanya sebagai pelampiasan kesalku karena Arjuna yang berbuat seenaknya. Aku sudah pindah ke Amerika, dan juga akan segera bertunangan di sini. Aku harap dengan ini, semua ammarahku pada keluarga kalian sudah tuntas. Sekarang, siapa yang mau bersama dengan wanita bekas sepertimu? Akankah Arjuna sadar kalau sakit hati adiknya adalah sakit hatinya juga? Berharap kamu sadar, kalau aku tidak akan pernah mau dengan wanita gampangan sepertimu.”
Begitulah isi pesannya, yang mana membuat Purwanti mengusap perut datarnya. Wanita bekas katanya…..
🌹🌹🌹🌹
Seharian ini, Purwanti berada di rumah Kirana. Dia bahkan membuat pudding bersama dengan bibi pelayan untuk Kirana. Untuk pertama kalinya, Purwanti melihat keseharian kakak iparnya. Dimana dia lebih banyak memutar tasbih dan membaca al-Quran yang selalu ada di sekitarnya.
Karena kini kamar Kirana berada di lantai pertama, jadi dia dengan mudah melangkah kemana saja. seperti sekarang, Kirana sedang sibuk di taman depan mengurus bunga.
“Kalau sore, biasanya Ibu suka merasa pegal atas apa yang dia lakukan seharian. Jadi sering memakai kursi roda.”
“Lah, kenapa gak dilarang aja? Suruh jangan banyak aktivitas,” ucap Purwanti.
“Coba Non yang bilang, Bibimah udah takluk ah.”
Purwanti hanya tertawa, memang tidak dipungkiri kalau Kirana sedikit keras kepala. Sampai akhirnya seperti sekarang, Kirana kembali ke dalam rumah dengan wajah yang lesu.
“Nah, kan… capek kan?” sindir Purwanti.
“Hehehe, masih ada yang belum keurus di belakang bunganya,” ucap Kirana.
Sore hari adalah waktu yang sangat cocok untuk mengurus bunga.
__ADS_1
“Mau pake kursi roda, Mbak?”
“Nggak, ngurusnya sambil duduk kok di belakang sana,” ucap Kirana kemudian melangkah melewati dua orang itu.
Dia duduk di bangku panjang dekat kolam renang, sambil memotong-motong daun yang sudah layu. Dia memperhatikan setiap pot, sampai tiba tiba cairan merah itu menetes membasahi tangannya.
Seolah sudah terbiasa, Kirana mengambil sapu tangan dan mengusapnya. Meski dia merasakan sakit hati, ketakutan yang mendalam akan dirinya yang akan meninggalkan bidadari kecilnya.
Dan sosok di belakang sana melihatnya, dimana Arjuna yang sudah pulang itu memperhatikan sang istri yang membersihkan hidungnya sendiri.
Rasanya sudah lelah membujuk sang istri meminta berobat, sehingga yang dilakukan Arjuna saat ini hanyalah menahan air mata, kemudian melangkah mendekat.
“Sayang?”
“Kak, udah pulang? Aku gak tau ih.”
“Gak papa, santai aja. Sakit kepala lagi?”
“Nggak kok, gak papa, Kak,” ucap Kirana yang mencoba meyakinkan suaminya. Dia takut akan dibawa ke rumah sakit.
“Kenapa di luar? Cuacanya dingin, kamu juga gak pek baju hangat.”
“Di sini aja, seger,” ucap Kirana yang masih mengusap hidungnya yang berdarah. Untuk yang kesekian kalinya dia berkata, “Ini gak papa kok, Kak. Kirana gak ngerasa pusing.”
Yang mana Arjuna hanya tersenyum, kemudian berjongkok di depan Kirana. “Aku mungkin tidak dapat menjamin kesembuhanmu, Sayang. tapi setidaknya aku tidak akan membiarkan syurga anak kita hangat,” ucap Arjuna sambil memakaikan kaos kaki pada sang istri.
Padahal, pelupuk matanya menahann buliran bening yang ingin terjun, apalagi melihat kondisi sang istri yang semakin jauh dari harapannya.
🌹🌹🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1