
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
“Mbak, aku mau ke apartemen dulu gak papa? Ditinggal di sini sama bibi?”
“Gak papa, pergi aja,” ucap Kirana yang tidak ingin menjadi hambatan bagi sang adik ipar untuk melakukan aktivitasnya.
“Mbak gak papa ditinggal sendiri?”
“Nggak sendirian, kana da Bibi.”
“Bilangin Abang ya kalau aku ada perlu banget, gak bisa ditinggal.”
“Iya, hati hati di jalan.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” ucap Kirana kemudian kembali focus untuk mengaji. Setelah shalat ashar, Kirana memilih untuk menghabiskan waktunya untuk lebih dekat dengan sang pencipta.
Surah Maryam, yang Kirana inginkan saat ini hanyalah kelancaran drinya bersalin dan melahirkan bayi yang sehat. Memegang perutnya yang kini benar benar membuncit. Beberapa bulan lagi semuanya akan berubah, dirinya akan menjadi ibu.
Meskipun masih abu abu, entah dirinya hidup atau tidak, tapi Kirana merasa bahagia. Dimana anaknya akan lahir di lingkungan yang dipenuhi kasih sayang.Â
Sampai Kirana tiba tiba merasa mual, dia segera menutup al-Quran, membuka mukena dan berlari ke arah kamar mandi. Dia memuntahkan isi perutnya yang sebelumnya dia makan, rasanya sangat pahit dan menyakitkan, sampai Kirana meneteskan air matanya karena tidak tahan dengan rasa sakit yang tengah dia rasakan kali ini.
Tangannya berpegangan di kedua sisi westafel. Dan saat melihat ada cairan merah yang keluar, Kirana memilih memejamkan matanya; enggan melihat hal yang bisa membuatnya berfikiran negative.
“Kirana?!”Â
Suara seseorang yang sudah Kirana kenali, langkahnya terdengar terburu-buru. Sosok itu langsung mengurut tengkuk Kirana dengan penuh kakhawatiran.
“Gak papa, Sayang. adek bayi baik baik saja, jangan khawatir,” ucap Arjuna yang satu tangan lainnya ikut mengusap perut sang istri.Â
“Jauhan, Kak. Aku bau.”
“Gak, jangan gitu. Sini biar Kakak aja,” ucapnya membersihkan bekas muntahan sang istri, kemudian membantu Kirana membasuh wajahnya.
__ADS_1
Arjuna bahkan menggendong Kirana menuju ke atas ranjang dan menidurkannya di sana. “Masih mual?” tanya pria yang kini ikut bergabung tidur, memeluk sang istri dan mengusap anaknya yang ada di dalam sana.
Kirana menggeleng. “Udah mendingan.”
“Purwanti pergi ya?”
“Jangan marahin dia, Kak,” ucap Kirana dengan suara pelan. “Dia ada keperluan, jadi dia pergi. Dia bahkan min⸻”
“Iya, gak marahin. Udah tidur sini,” ucap Arjuna mencium kening istrinya.
Hatinya teriris melihat ada sedikit bekas darah di lengan baju sang istri. Mati-matian dia menahan air matanya, karena Arjuna berjanji, dia tidak akan membuat istrinya kembali menangis bahkan dengan air matanya Arjuna sendiri.
“Kita adalah keluarga yang kuat, sebab itu Allah memberikan kita ujian ini. kita bisa melewatinya, atas seizing Allah.”
Begitulahh Arjuna menanamkan kalimat dalam hatinya.
🌹🌹🌹🌹
Kedangan Eyang Damayanti bersama dengan supirnya itu disambut baik oleh Bunda Eliza. Bagaimana menantu dari anak kesayangannya itu sudah menyiapkan makanan kesukaan sang ibu mertua, yang bahkan sudah Eyang Damayanti rasakan dari kejauhan.
“Hmmmm…. Wanginya. Assalamualaikum,” ucap wanita paruh baya yang selalu memakai kebaya dan rambut yang digelung ke belakang itu.
“Beli dulu makanan buat Arjuna sama Kirana. Dimana mereka sekarang?”
Belum juga Bunda Eliz menjawab, perhatian mereka teralihkan oleh sebuah suara. “Eyang…”
Ternyata di sana Arjuna sedang menuruni tangga menuju ke arahnya untuk memberi salam. “Gimana di jalannya, Eyang?”
“Gak terlalu rame. Itu makanan buat kamu sama Kirana. Dimana istri kamu?”
“Di kamar Eyang, lagi istirahat.”
“Boleh Eyang lihat?”
“Boleh,” ucap Arjuna yang hendak membantu sang Eyang melangkah dengan menggenggam tangannya.
Namun wanita yang lebih tua itu menepisnya. “Gak usah, Eyang belum tua tua amat,” ucap Eyang Damayanti yang enggan tua. “Kamarnya yang pintunya gede itu kan?”
“Iya, tapi Kirana baru tidur.”
__ADS_1
“Eyang Cuma mau liat, gak niat ajak dia joget,” ucap sang Eyang yang tidak dibalas oleh Arjuna lagi.
Wanita tua itu melangkah menaiki tangga, membuka perlahan pintu yang dimaksud. Dimana dia melihat Kirana yang sedang terlelap di sana, dengan rambut sebahu dan perut yang buncit.
Eyang Damayanti terlihat sangat sedih, kasihan pada bayi yang ada dalam kandungan Kirana. Yang mana membuatnya mengusap pelan rambut Kirana sambil duduk di pinggir ranjang.
Dan merasakan usapan itu, Kirana perlahan membuka matanya.Â
“Eyang?”
“Gak papa, tidur aja lagi.”
“Maaf, Kirana gak tau Eyang udah datang,” ucap Kirana mendudukan dirinya.
Yang membuat Eyang menggenggam tangan Kirana seketika, sambil meneteskan air matanya.
“Gimana ini?”
“Kenapa, Eyang?”
“Eyang nyari nyari, tanya ke semua orang, katanya penyakit itu susah untuk disembuhkan. Apa yang bisa kita lakukan? Bayi itu?”
Kirana yang paham itu menunduk, menatap perutnya yang membuncit. “Dia akan lahir di keluarga yang menyayanginya, Eyang. Kirana gak khawatir sama sekali.”
“Tapi dia butuh sosok ibu, Ran. Kamu paham kan apa yang Eyang maksud?”
Yang mana membuat Kirana mengangguk perlahan, kemungkinan dia bertahan memanglah kecil. Ditambah dia harus melahirkan secara normal. Operasi hanya akan menyebabkan komplikasi.
“Temen Eyang punya cucu perempuan yang dari pesantren, kamu mau ketemu sama dia?”
“Se… secepat itu, Eyang?”
“Kamu pikir Arjuna bisa lupain kamu seketika? Kamu harus mulai mencari pengganti diri kamu mulai sekarang, kasihan anak kamu.”
Kirana hanya tersenyum sambil menundukan kepalanya. Meskipun kemungkinan hidupnya keci, tapi dia masih memiliki harapan.
“Mau ya, Ran?”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE