
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
“Mbak kamu mana?” tanya Arjuna begitu sampai di rumah, mendapati Purwanti yang sedang memainkan ponsel. “Heh, jawab kalau Abang ngomong.”
“Ada di kamarnya, Bang. Ih ganggu mulu.”
“Jangan maen hp mulu kamu,” ucap Arjuna merebut ponselnya.
“Abang ih! Balikin gak!”
“Uwwuuuu, cara sholat yang bener ya?” gumam Arjuna melihat isi pencarian di ponsel sang adik.
“Abang!” teriak Purwanti merebutnya Kembali, dia menghentakan kakinya dan melangkah ke dalam kamar.
Membuat Arjuna berdecak. “Gitu aja marah,” gumamnya ikut kesal.
Arjuna mengetuk pintu kamarnya sebelum masuk, mendapati sang istri yang sedang melipat pakaiannya. “Ngapain, Ran? Biar suruh Bibi aja lipet bajunya.”
“Bukan lagi lipet baju.”
“Lha itu ngapain?”
Kirana tidak menjawab, membuat Arjuna penasaran dan duduk di sofa; tepat di sebelah Kirana yang duduk di atas karpet. “Itu kenapa kerudungnya dipisah pisah gitu?”
“Buat Purwanti.”
“Huh? Ntu orang mau pake hijab?”
“Eh, jangan gitu, Kak.” Kirana memperingati, dia sedikit tidak suka dengan nada bicara sang suami. dimana Arjuna berdehem dan langsung duduk di atas karpet.
__ADS_1
“Gimana? Kok dia mau sih pake kerudung?”
“Tuh kan mulai lagi.”
“Bukan gitu, Sayang. ya Kakak heran aja, tadi juga liat pencarian di hape dia itu isinya tatacara sholat loh.”
“Ya bagus dong, emang kamu gak mau adik kamu berubah?”
Arjuna menggeleng. “Mau kok. Aku bersyukur banget, pasti ini karena kamu ya? Makasih ya, Sayang,” ucap Arjuna memeluk sang istri dari arah belakang. “Emang kamu itu yang terbaik.”
“Bukan kok, bukan karena aku. Purwanti minta sendiri, Kak.”
“Heran, biasanya dia berubah kalau ada sesuatu yang besar.”
Kirana diam, dia masih menyembunyikan fakta kalau Purwanti sedang mengandung, Purwanti sendiri yang menginginkan sendiri untuk memberitahu yang lain. “Mana molennya?”
“Tuh di meja, mau dimakan sekarang?”
Kirana mengangguk. “Kakak tau gak?”
“Ih, dengerin.”
Arjuna yang sedang membuka bungkusan molen itu tertawa. “Kakak tau gak dimana merlinda tinggal?”
Seketika Arjuna terdiam. “Mau apa emangnya?”
“Hmm, nanya aja. Aku belum minta maaf sama dia.” Kirana dengan penasaran dimana Mario berada, dan menjadikan Merlinda alasan.
“Kamu gak perlu minta maaf, yang salah di sini itu Kakak, Ran. Kamu gak salah sama sekali. Jadi jangan pernah kamu minta maaf sama dia.”
“Tapi Kakak tau dia tinggal dimana?”
“Gak tau dan gak mau cari tau, Alex bilang kalau Merlinda pindah ke Amerika. Selamanya di sana, sama Mario. Gak tau dimana mananya, Amerika ‘kan negara serikat? Luas juga.”
__ADS_1
🌹🌹🌹
Dan saat ini, Kirana dengan telaten mengajarkan bacaan bacaan sholat pada Purwanti, dimana adik iparnya itu mengikuti dengan semangat.
“Coba kamu sendiri.”
Purwanti melakukannya, dia mengatakan apa yang Kirana ajarkan sebelumnya. “Gitu bukan, Mbak?”
“Nah, kamu hebat. Udah bisa, nanti kita belajar lagi ya. Ini bayinya laper.”
“Hahahaha, makasih loh. Nanti bantu Purwa make kerudung ya.”
Kirana mengangguk, bangga dengan perubahan Purwanti. “Kamu harus nyari guru ngaji nanti, yang lebih paham dari Mbak.”
“Iya nanti nyari kok, yang cewek aja ada?”
“Adalah, Bunda Eliza pasti banyak kenalannya.”
“Nanti aja deh, Mbak. Kalau aku udah kasih tau mereka sebenarnya, tentang bayi ini,” ucap Purwanti mengelus perutnya.
Membuat Kirana ikut mengelus perut sang ipar. “Allah mempercayakan dia sama kamu. Jaga dia dengan baik.”
Purwanti mengangguk, sedikit air mata di sudut matanya. “Mbak tau gak?”
Kirana menggeleng.
“Kak Mario waktu itu kasih aku alcohol banyak, jadi kami tidur bareng. Terus, karena udah pernah, dia sering maksa aku buat tidur bareng bareng dengan alasan aku emang udah gak perawan, udah gak ada yang harus di jaga.”
Penuturan yang membuat Kirana kaget, ternyata Mario sejahat itu. Dendam membutakan matanya. “Kenapa kamu gak bilang?”
“Gak tau, Mbak, saat itu aku pikir Kak Mario bener bener gak akan ninggalin aku, tapi kenyataanya dia lakuin itu. Miris ya?”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE