Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Melukis kenangan baru


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Setelah kepulangan kembali ke Jakarta, Kirana semakin merasa tidak enak dengan tubuhnya. Lelah, letih dan hanya ingin memejamkan mata dalam waktu yang lama.


Namun, dia tidak ingin mengundang kecurigaan yang mendalam. Jadi Kirana memutuskan untuk belajar memakai make up, dimana bibirnya dipoled oleh liptint merah, pipinya diberi perona dan kemerahan di sekitar matanya ditutupi oleh concealer. 


Tidak sulit untuk Kirana melakukan ini, dia adalah orang yang cepat tanggap.


"Cie…. Dandan buat siapa nih?" tanya Arjuna yang baru saja keluar dari walk in closet, memperlihatkan Arjuna yang memakai kaos santai.


"Kakak kok pake baju santai? Gak ngantor?"


"Ngantor, nanti abis jam makan siang. Mau rapat doang di sana," jawab Arjuna kemudian duduk di belakang Kirana; mereka berada di atas karpet, kakinya melingkar di sekitar tubuh sang istri. Dia mengambil kesempatan untuk menciumi tengkuk sang istri. "Dandan buat siapa?"


"Buat Kakak, emang buat siapa lagi? Cantik gak?" Kirana menoleh, dimana pucuk hidungnya langsung bersentuhan dengan milik Arjuna. 


"Cantik banget."


"Bunda beliin make up waktu itu, sayang kalau gak dipake."


"Oh iya, Bunda gak enak badan sejak pergi dari sini katanya. Dia inget kamu terus, mau ngurus kamu, jaga kamu, kamu mau?"


"Hmmm?" Kirana terlihat sangat kebingungan. Dia tidak ingin sang mertua berada di sekitarnya dan malah membuat beliau semakin khawatir. "Bilangin jangan khawatir, kan Kirana dijaga sama Kakak."


"Cie… kode ya? Iya, Kakak juga gak mau ada yang ganggu. Biar kita berduaan aja," ucap Arjuna mencium tengkuk sang istri dengan tangan merayap di perutnya.


Kirana terkekeh, dia membuka ponselnya untuk melihat sebuah pesan masuk. Dari nomor baru.


"Kak?"


"Hmmm?"


"Kakak daftarin nomor aku ke kampus ya?"


"Iya, biar kamu dapet info terkini tentang apapun. Biarpun cuti, harus tetap aktif info."


"Mereka chat aku, katanya aku ada buku yang belum dikembaliin. Bukunya dulu di kamar yang di rumah itu."


"Kakak gak beres beres tiap inci sih. Nanti Kakak cariin."


"Kakak mana tau, biar Kirana aja."


"Sekarang?" tanya Arjuna menaikan alisnya, pria tampan itu tengah menjatuhkan dagunya di bahu sang istri.


"Iya ih, itu buku biasanya dijadiin referensi orang yang mau buat skripsi."


"Yaudah ayo, sekalian kita makan di luar yuk."


Kirana mengangguk. "Mau makan di sekitaran kampus, Kak. Ada rumah makan enak di sana."

__ADS_1


"Apapun buat kamu, Sayang."


🌹🌹🌹🌹


Rumah yang sudah lama ditinggalkan oleh Kirana. Kini dia merasakan perasaan lain ketika keluar dari mobil dan menatap pintu di depan. Bukan lagi ketakutan, melainkan perasaan bahagia tatkala sosok di sampingnya itu menggenggam tangannya dan melangkah bersama dengannya.


"Bibi yang rawat rumah ini, Kak?"


"Iya, rencananya kakak mau suruh bibi pindah ke apartemen biar bisa kerja di sana, jadi kamu gak perlu nyiapin apa apa lagi kayak kemaren."


Sebelum Kirana menjawab, Arjuna lebih dulu mengeluarkan kata saat membuka pintu. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," ucap seseorang di sana. "Allahu akbar, Ibu! Ibu gimana kabar? Ibu sehat? Ibu hamil? Gimana keadaannya? Ya allah ibu, Bibi khawatir."


Kirana malah ikut tertawa dan memeluk pembantu itu. "Alhamdulillah, Kirana juga kangen sama Bibi."


"Aduh, Ibu…. Bibi gak ada temennya di sini, kangen sama Ibu gusti."


"Saya mau ambil buku di kamar, Bi. Bibi beresin gak?"


"Saya beresin kamarnya, Bu, tapi gak pindahin barangnya."


"Oh, berarti masih di sana. Tunggu ya, Kak," ucap Kirana yang melangkah pergi lebih dulu.


Membuat Arjuna tersenyum di sana. Dan Bibi pembantu itu melihatnya, bagaimana sang majikan terlihat begitu bahagia dengan tingkah istrinya.


"Saya pikir Hoax kalau ibu hamil. Selamat ya, Pak."


"Aamiin, Bapak sama Ibu mau dibuatkan apa? Saya bawakan."


"Yang asem asem aja, Bi. Bikinin rujak ya terus bawa ke atas."


"Baik, Pak."


Di kamar itu, Kirana memiliki banyak kenangan. Dimana air matanya menjadi sakis bisu bagaimana dirinya selalu meminta pertolongan kepada yang maha kuasa.


Menatap keluar jendela, bagaimana pendangannya tertuju mobil Arjuna yang selalu membuatnya khawatir jika sudah tiba.


Namun, kini berbeda. Dimana sekarang pria itu memeluknya dari belakang sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kirana. 


"Kenapa melamun?"


"Nggak tuh."


"Dua minggu lagi kita berangkat ya."


"Kemana kak?" tanya Kirana dengan kening yang berkerut.


"Katanya mau jalan jalan."


"Kakak serius?" tanya Kirana memutar badannya. "Emang kerjaan?"


"Buat adek bayi apa yang enggak, ya kita jalan?"

__ADS_1


Kirana hanya menganggukan kepalanya. Ditambah dengan senyuman sebelum akhirnya memeluk Arjuna erat. "Makasih, Kak."


"Kakak yang seharusnya bilang makasih."


Dalam pelukan itu, Arjuna tersenyum. Namun ketika pandangannya mengedar melihat kamat itu, ada sesuatu yang mengganjal di pikiriannya. Dia tidak ingin berlama lama berada di kamar ini. Kamar yang penuh dengan memori, yang menguatkan penyesalan Arjuna.


"Ran?"


"Hmmm?"


"Makan rujaknya di luar aja yuk, sekalian cari makan."


"Kenapa emangnya kalau di sini?" tanya Kirana.


Arjuna melepaskan pelukannya. "Gak papa sih, cuma agak gak nyaman. Kakak inget dulu pas sering jahatin kamu," ucapnya mengedarkan pandangan ke arah lain.


Yang mana membuat Kirana menghela napasnya, dia tidak bisa membuat Arjuna selamanya tidak nyaman dengan rumah ini. Apalagi dengan kenangan yang buruk.


"Kak?"


Kirana menggenggam tangan sang suami.


"Aku mau loh tinggal di sini lagi."


"Apa? Kenapa? Kamu gak sakit hati inget dulu gimana perlakuan aku sama kamu?"


"Justru itu," ucap Kirana. "Kita melukis kenangan baru yang akan menutupinya."


"Kamu gak betah di apartemen?"


"Betah, tapi betahan di sini. Enak punya halaman. Kalau di apartemen serasa jadi rapunzel. Yaaa?"


"Kenapa sih?"


"Kan biar kita memulai hal baru lagi di sini."


"Aku gak mau kalau itu berpengarug buruk sama anak kita."


"Justru anak kita yang mau kita di sini."


Arjuna terdiam, memandang manik Kirana yang memohon. Kirana hanya ingin, kepergiannya tidak menyisakan kenangan yang pahit, dia ingin Arjuna mengenang masa bahagia mereka. Dengan tanpa penyesalan apapun.


"Kamu mau?" tanya Arjuna lagi.


"Iya, Kak."


Arjuna menarik sang istri kedalam pelukannya lagi. "Yaudah."


🌹🌹🌹



To be continue

__ADS_1


__ADS_2