Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Bau bangkai


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Beberapa hari berada di rumah sakit, kondisi Kirana naik turun. Dia seringkali muntah, merasa pusing, rasa sakit di kepalanya. Dan selama dia merasakan hal itu, Arjuna selalu berada di sampingnya, bersama dengannya dan tidak seklipun meninggalkannya. Ah, mungkin hanya saat dia diharuskan untuk bekerja. Sisanya Kirana sering ditemani oleh Bunda Eliza dan juga Purwanti.


Seperti sekarang ini, dimana mereka sedang sholat isya berjamaah. Dirinya, suaminya dan Bunda Eliza. Karena adik iparnya itu kebetulan harus pergi dan tidak ada di sini.


“Sambil tidur aja,” saran Bunda Eliza saat memakaikan mukena untuk menantunya.


Kirana menggeleng. “Kuat kok, Bun,” ucapnya yang tetap ingin duduk.


“Kalau gak kuat tidur aja ya, gak papa.”


“Iya, Bunda.”


Dengan Arjuna sebagai imam, Kirana yang sholat itu meneteskan air matanya, dirinya merasakan lagi kehangatan sebuah keluarga. Dimana memiliki sosok Bunda yang menyayanginya, suami yang setia berada di sampingnya. Dan calon buah hati yang sedang mereka nantikan.


Begitu selesai sholat, Bunda Eliza mendapatkan sebuah pesan dari ponselnya.


“Bang, Bunda pulang dulu ya. Purwa katanya butuh bantuan, malem ini kamu nginep kan?”


“Iya, Bun.”


“Jaga Kirana ya, Bunda gak nginep dulu.”


“Asyik, bisa berduaan.”


“Heh!” teriak Bunda Eliza menatap tajam, membuat Kirana tersenyum melihat interaksi dua orang itu.


“Ran, kalau mau apa apa bilang aja suami kamu ya. Bunda ke apartemen Purwanti dulu,” ucapnya sambil melipat mukena dan memasukannya ke dalam rak. “Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam,” jawan keduanya.

__ADS_1


Kirana melambaikan tangan, sebelum dirinya kembali mengucek mata ketika melihat al-Quran di dalam pangkuannya itu.


“Sini, biar Kakak yang ngaji buat kamu.”


Kira tersenyum tatkala Arjuna mendekat; duduk di pinggir ranjang dan mengambil alih al-Quran di tangannya.


“Mau tidur?”


Kirana menggeleng. “Mau denger Kakak ngaji.”


“Kamunya baringan aja, biar enak ya,” ucap Arjuna. “Buka juga mukenanya biar gak pusing.”


“Gak papa, gini aja,” ucap Kirana yang memilih tetap duduk. 


“Yakin?”


Senyuman manisnya membuat jantung Arjuna berdetak kencang, ini kah yang dinamakan cinta sesungguhnya? Dimana ketika keadaan pasangan kita sedang buruk sekalipun, mereka tampak sangat cantik.


“Mau tidur di lahunan Kakak boleh?”


Yang Arjuna lakukan adalah memegang al-Quran dan membacanyaa, sementara tangannya yang lain mengusap rambut sang istri dengan penuh kasih sayang.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sementara itu, Bunda Eliza pergi ke apartemen yang kini ditempati Purwanti di Jakarta; bekas Arjuna dan Kirana. Dengan alasan, “Aku mau cari kerja di Jakarta, kuliah tinggal nyusun lah gampang, Bun.”


Jadi Bunda mengizinkan. Karena sudah mengetahui kode apartemen, Bunda Eliza masuk begit saja. “Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam. Bunda sini,” panggil sosok itu dari kamar.


Bunda Eliza mengerutkan kening tatkala masuk, mendapati sang putri yang tengkurap sambil membaca buku.


“Kamu udah sholat?”


“Hmm…., sini dulu, bantuin ini.”

__ADS_1


BUK! Bunda Eliza memukul pantat Purwanti dengan bantal. “Ya allah, kenapa dulu aku setuju sama cara mendidik keluarga Mas Wigan? Sholat kamu! Ayo sholat dulu! Mau ayah masuk neraka?!”


“Ih, bun denger dulu. Ini masalah Kirana,” ucap Purwanti menahan serangan sang Bunda. “Bun, denger dulu.”


“Ya allah. Kamu ini perawan, kamu harusnya bisa dong jaga sikap kamu. Udah ya, nanti tinggalnya sama Bunda dulu.”


“Ish, Bunda juga gak pake kerudung,” dumal anak itu.


“Bunda gak pake kerudung tapi tetep sholat, kamu mah laknat.”


Purwanti buru buru mendudukan dirinya, menarik sang Bunda agar melakukan hal serupa. Dengan tangannya yang menggenggam tangan sang Bunda.


Purwanti menarik napasnya. “Bukan gitu, Bunda. Iya maaf, nanti Purwanti mau kok berubah. Nanti tapi, hehehe.”


“Heh!”


“Ini masalah Kirana.”


“Kenapa sama Kirana?”


“Bunda tau gak kalau tiap Kirana tidur, ada perawat yang nyuntikin obat ke dalam infusan dia?”


Bunda Eliza mengggeleng, kemudian mengangguk lagi. “Pernah sih, dua kali.”


“Bun, bunda tau kan gimana Kirana sayang banget sama bayinya?”


“Ya iyalah, tiap hari dia ngaji buat anaknya.”


“Purwa curiga kalau Abang diem diem lakuin kemo, apalagi efek yang dirasakan Kirana begitu jelas.”


“Abang gak mungkin berani nyakitin anaknya.”


“Ya, tapi dia lebih sayang sama Kirana ‘kan?”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2