Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Tidak tepat waktu


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Eyang benar benar pulang, setelah perdebatan panjang dengan Arjuna. Yang mana diakhiri oleh Arjuna yang marah, dan Eyang yang merasa bersalah. Sementara Kirana hanya menggenggam tangan sang suami, berharap tidak ada lagi kalimat kegelisahan yang dia katakan sehingga membuat Eyang semakin bersalah.


Malam yang tenang, dimana Arjuna sedang memeluk istrinya dari belakang. Mereka berbaring di atas ranjang, menghadap jendela yang terbuka. Menampilkan langit malam yang benar benar kelam dipenuhi bintang bintang.


“Jangan pernah berfikiran hal konyol seperti itu lagi, kaakak tidak suka. Hanya kamu, hanya kamu dan anak kita.”


“Maaf, Kak.”


“Berjanjilah, Ran. Kamu tidak akan menuntutku untuk menemui perempuan lain sebagai pasangan.”


Kirana terdiam, dia benar benar merasakan cinta dari sosok Arjuna yang pernah menyakitinya. Bagaimana pria itu mengelus perutnya, sungguh terasa menghangatkan hati. 


“Iya, aku janji,” ucap Kirana pada akhirnya. 


Arjuna mengecup tengkuk sang istri. “Tidur, Ran, udah malam. Kasian dedek bayi.”


“Aku laper, Kak.”


“Laper?” tanya Arjuna terlihat kaget, dia menaikan alisnya yang dibalas anggukan oleh sang istri.


Kirana membalikan badannya, kemudian menatap Arjuna dengan gelisah. Permintaannya ini sedikit menyebalkan, tapi Kirana tidak tahan jika tidak mengatakannya. “Mau makan sayur sop, buatan kakak tapi,” ucapnya dengan pelan.


“Ngidam ya, Ran?”


“Tapi besok juga gak papa, mintaa aja Bibi yang bikin buat malam ini.”


“Ngapain nyuruh Bibi, kan kamu maunya buatan aku,” ucap Arjuna yang mengangkat tubuhnya dari ranjang. Dia mendudukan dirinya dan mengusap perut sang iistri. “Tunggu sebentar ya anak kesayangan Papa.” Kemudian mengecupnya.


“Maaf ya repotin.”

__ADS_1


“Repotin apanya. Orang Kakak seneng kalau kamu ngidam kayak gini sama Kakak.”


Kirana tersenyum, dia mengusap pipi sang suami sebelum membiarkannya pergi. “Aku nunggu di sini gak papa?”


“Iyalah nunggu aja.”


Arjuna dengan semangat segera bergegas ke dapur, dia mengambil bahan bahan dari dalam kulkas dan membuat keributan dengan tontonan di ponsel yang menampilkan cara membuat sup yang enak. Arjuna suka moment seperti ini, dimana sang istri meminta sesuatu dan hanya bisa dikabulkan olehnya saja.


“Pak Arjuna, sedang apa?”


“Eh, kenapa bangun, Bi? Berisik ya? Lagi bikin sop buat istri.”


“Duh, kenapa Bapak gak bangunin saya? Biar saya saja yang membuatnya, Pak.”


“Tidak usah, Bi. Orang ngidam maunya buatan suaminya, bibi tidur aja, gak usah bantu, nanti Kirana curiga.”


Karena paksaan, Bibi pembantu itu melangkah meninggalkan Arjuna yang berkutat di dapur. Sampai sup yang dia buat gagal satu kali sebelum menghasilkan sup yang enak untuk kedua kalinya.


“Besok aja deh diberesinnya,” gumam Arjuna menatap sekitarnya yang sudah seperti kapal pecah. Dia membawa sup itu dengan nampab menuju ke kamarnya. Dengan senyuman yang lebar, Arjuna berkata, “Ran, supnya udah ja⸻ yahh tidur.”


Kirana tersenyum menatap suaminya yang sudah siap hendak pergi ke kantor. Bagaimana kemeja dan kacamata itu bertengger di hidungnya membuat Arjuna terlihat lebih tampan.


“Kalau bosen di rumah, minta Purwanti datang aja ya. Pesen aja kalau mau apa apa sama Kakak, pesen online juga gak papa, asal gak yang aneh aneh. Bunda kayaknya gak pulang sekarang-sekarang deh, Ayah masih butuh dia.”


Kirana hanya tersenyum mengangguk. “Eyang Damayanti? Gimana dia sekarang?”


“Udah biasa lagi, mana bisa tahan lama sih ngambek sama kakak. Orang dikasih jajan langsung.”


“Hahaha, bisaan banget.”


Arjuna berbalik menatap sang istri yang duduk di atas ranjang. “Sarapan dulu yuk, bareng ke bawah. Digendong sama Kakak mau?”


“Gak usah, sendiri juga bisa. Apa apaan digendong segala.”


“Mau kiss.”

__ADS_1


“Kiss aja.”


CUP. Arjuna mendatakan ciuman di pipi sang kekasih dengan gemas. “Makasih, Sayang.” tidak lupa dia juga membubuhkan kecupan di perut buncit sang istri.


Sebelum akhinya sarapan di ruang makan, dengan berbagi cerita sebelum akhirnya Arjuna berpamitan dengan mengecup kening istrinya.


“Kamu baik baik aja kan, Ran? Kok tambah pucet sih.”


“Efek mandi doang, nanti juga nggak.”


“Ke rumah sakit mau?”


“Kak,” rengek Kirana. “Aku gak papa. Udah sana berangkat.”


“Yaudah, Kakak berangkat ya,” ucap Arjuna mengusak kepala sang istri. “Bi! Kalau ada apa apa telpon saya ya.”


“Baik, Pak.”


Jujur, Arjuna sangat khawatir. Dia ingin menempatkan perawat di sini, tapi Kirana tidak mau, karena dia merasa tidak nyaman dengan keberadaannya.


Dia memilih diam sendirian di sini, terlebih tidak merasakan gejala apa apa.


“Bu, mau nyeduh susu?” tanya bibi pembantu saat Arjuna sudah berangkat.


“Nggak usah, Bi. Mau dhuha dulu ya.”


“Nanti saya anterin abis dhuha, Bu?”


“Gak usah,  nnanti Kirana turun lagi kok, Bi. Jam setengah Sembilan juga beres.”


“Baik, Bu,” ucap sang Bibi pembantu memilih membereskan sisa sarapan.


Jam demi jam berlalu, dan Kirana belum kunjung turun juga. Bibi pembantu itu tau kalau majikannya tidak suka diganggu jika sedang beribadah. Namun, jika lebih dari setengah jam. Bukankah ini aneh?


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2