Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Helaian yang Jatuh


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Pembicaraan Bunda Eliza dan Purwanti membuat Bunda Eliza lebih banyak termenung. Bahkan saat dia sedang berjalan, langkahnya tidak focus.


BUK! Bunda tidak sengaja menyenggol bahu seorang perawat. “Maaf, Sus.”


“Tidak apa, Bu.”


Dua kali mendapatkan hal serupa, Bunda Eliza memilih untuk duduk sejenak dan merenung di sana. Ketika ada suara telpon masuk, dia mengangkatnya begitu saja. “Hallo? Kalau masalah butik, kamu urus saja. katanya ada parfume terbaru ya? Pilih saja mana yang paling asing aromanya,” ucap Bunda tanpa melihat siapa yang memanggil.


“Hallo?! Ini Ibu!”


“Ya allah! Ibu Damayanti?!” tanya Bunda Eliza kemudian melihat layar ponsel, dan benar saja ternyata itu adalah Eyang Damayanti. “Maaf, Bu.”


“Kamu ini, masih siang tapi gak focus. Gimana?”


“Apanya?”


“Kirana? Sakit apa? Parah gak? Eyang rencana mau ke kiyai yang ada di sini, minta doa buat Kirana.”


Bunda Eliza mengangguk. “Silahkan, Bu. Kalau itu buat kebaikan Kirana.”


“Tapi Ibu mesti tau penyakit Kirana apa.”


Dan Bunda Eliza pernah berjanji untuk merahasiakan ini dari semua orang. Namun, melanggar janji demi kebaikan yang lebih tidak apa bukan? jadi Bunda mengatakan, “Ibu janji gak bilang siapa siapa ya, atau anak sulung Ibu bakalan ngamuk. Dia sakit kanker otak.”


“Apa?!” 


Jelas saja, selama 30 menit terakhir ini, Bunda Eliza mendapatkan banyak tekanan dari Eyang Damayanti yang menghakiminya secara sepihak. Sampai akhirnya sambungan terputus dengan posisi Eyang yang marah, Bunda Eliza hanya bisa menarik napasnya dalam dalam.


“Kamu mau kemana?” tanya Bunda Eliza melihat Purwanti.


“Ih, Bunda aku kira kemana. Tuh jagain dulu Kirana, aku mau keluar ketemu pacar.”

__ADS_1


“Manggilnya yang sopan.”


“Iya, Mbak Kirana.”


Bunda Eliza berdecak, dia melangkah meninggalkan Purwanti. Moodnya sedang turun untuk memberikan berbagai petuah pada anaknya itu. Bunda melangkah menuju ke dalam ruangan Kirana. Dan kebetulan, di sana dia melihat Kirana yang tengah mengaji dengan memegang perutnya, terlihat jelas kalau dia sangat menyayangi sosok itu.


“Assalamualaikum, bunda ganggu gak?”


“Waalaikum salam. Sini, Bun. Masuk,” ucapnya dengan senyuman manis. “Hari ini adek gak nakal loh, Bun, dia gak muntahin makanannya lagi,” ucapnya sambil mengelus perutnya yang buncit.


“Ran…”


“Iya, Bun?”


“Kalau boleh tau, apa yang paling kamu inginkan saat ini?”


“Yang aku inginkan?” Kirana menutup al-Quran dan memandang sang Bunda. “Aku hanya ingin anak ini sehat, lahir dengan sempurna.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Sepulang dari kantor, Arjuna terbiasa untuk pulang berganti baju, sebelum akhirnya pergi ke rumah sakit. Seperti biasa, berdiskusi dengan dokter adalah yang dia lakukan. Merencanakan perkembangan Kirana.


“Lalu bagaimana dengan bayinya?”


“Seperti yang pernah saya katakan, kemungkinan terkecil dia bisa premature. Mungkin kita harus menunggu sampai 7 bulanan lagi supaya tidak merusak organ-organ si bayi.”


Arjuna terdiam, dia sedang dilema. “Saya akan menemui anda lagi besok.”


“Baik,” ucap sang dokter membiarkan pria tinggi itu melangkah keluar.


Diia berjalan dengan lelah menuju ke ruangan sang istri. Menarik napas dalam dan mengusap wajah, Arjuna mencoba untuk terlihat baik baik saja.


“Assalamualaikum cantik.”


“Waalaikum salam,” jawab Kirana dengan sumringah, dia mematikan televisinya seketika dan merentangkan tangannya.


Arjuna terkekeh. “Kakak bawa jelly kesukan kamu.”

__ADS_1


“Makasih,” ucap Kirana menyamankan diri dalam pelukan sang suami.


Arjuna memberikan ciuman di puncak kepalanya. “Cepat sehat ya, bidadariku.”


“Aamiin. Kakak belum nyapa dedek bayi loh dari pagi.”


Arjuna menelan ludahnya kasar, dia meregangkan pelukan dan melihat pada perut buncit Kirana. Ada rasa bersalah di sana, mengorbankan bayinya.


“Mau dielus terus di cium katanya.”


Tidak bisa menolak, Arjuna terpaksa melakukannya. Dia terlalu takut menghapai kesalahannya, terlalu malu karena telah mencurangi anaknya sendiri.


“Hai, anak papah,” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Gimana di sana?”


Kirana tersenyum, dia selalu mencoba membuat ikatan antara Arjuna dan anaknya kuat. Supaya suaminya mencintai anaknya, melebihi mencintai Kirana sendiri.


“Baik, dia gak rewel. Apalagi kalau si cium loh, Kak.”


Dan Arjuna melakukannya. “Jangan nakal ya, Sayangnya Papah.”


“Loh kok cuma sebentar?” tanya Kirana saat Arjuna menegakan badannya kembali.


“Mau peluk kamu lagi,” jawab sang suami. 


Tangannya terulur mengusap rambut sang istri. Sampai gerakannya terhenti karena merasakan rambut Kirana yang rontok begitu banyak.


Rasanya sakit itu menghantam dadanya kuat, Arjuna merasa sangat bersalah.


“Kak.”


“Hmmm..”


“Aku mau potong rambut aku ya,” ucap Kirana mati-matian menahan tangisannya tatkala melihat semburat kesedihan di mata suaminya. “Aku bosen loh rambut panjang mulu, gayanya itu-itu aja. Aku mau pendek, biar keren biar jadi new style ya? Kayaknya keren kan kalau rambut aku pendek. Aku suka, tadi abis liat liat di internet.”


Arjuna menatap sang istri, yang memaksakan senyumannya. Kemudian dia memeluknya kembali. “Kakak yang akan potong, dan kakak gak akan pernah biarkan kamu pergi kemana pun. Kakak janji.”


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2