Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Maaf yang tidak pernah sampai


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Purwanti sampai di rumah Kirana, dia keluar dari mobil sambil menghela napas dalam. Takdir memang sekejam ini mempermainkan mereka semua.


“Non Purwa, bagaimana keadaan Ibu?” tanya Bibi pembantu ketika adik majikannya masuk rumah.


“Dirawat dulu deh, Bi. Tolong siapin bajunya ya.”


“Sama punya bapak, Bu?”


“Yang punya Abang Arjuna jangan banyak banyak, dia harus kerhja soalnya.”


“Baik, Non. Tapi untuk saat ini…..?”


Purwanti yang sedang mengambil soda itu bertatapan dengan pembantu itu. “Baikan kok, Bi. Jangan khawatir.”


“Kalau boleh tau penyakitnya apa ya, Non?”


“Kanker otak.”


“Inalillahi,” ucap bibi pembantu itu, air mata keluar dari matanya. “Ya allah, apakah bisa sembuh, Non?”


“Karena Kirana lagi mengandung, jadi dia harus melahirkannya dulu untuk mendapatkan obat obatan Kimia.”


“Ya allah, Non. Kok nasibnya begini amat ya…  kasihan sekali Bu Kirana.”


“Bajunya, Bi,” ucap Purwanti mengingatkan.


“Oh, maaf, Non.”


Meninggalkan Purwanti sendirian di dapur, dia melihat ponselnya. Ada banyak sekali panggilan dari orang orang di Bandung, menanyakan keadaan yang terjadi di sana. Namun, Purwanti tidak akan memberitahukannya dulu, sebagaimana yang dikatakan oleh Bunda nya. Apalagi Eyang, dia bisa kena serangan jantung.


Namun, ada satu panggilan yang Purwanti angkat. Dari sang kekasih.


“Hallo, Kak?”


“Hallo? Kamu jadi pindah ke Jakarta?”


“Jadi, Kak. Aku mau nempatin apartemen Abang Arjuna deh.”


“Nanti malem ada waktu?”


“Kayaknya enggak deh, takutnya Bunda butuh bantuan aku. Kirana kan lagi sakit.”


“Ah…, iya. Nanti kalau ada waktu kasih tau ya, Kakak mau ke tempat kamu. Di sini sepi sendirian.”


“Iya, Kak,” ucapnya tersipu malu dan mematikan sambungan. 

__ADS_1


Purwanti menatap ponselnya dengan bingung, berharap jika Mario benar benar menyukainya sebagaimana dirinya sangat memuja pria itu. Namun ada satu yang Purwanti tau, Mario menyukai Kirana, dia sering menanyakan Kirana lewat dirinya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Arjuna baru saja kembali dari ruangan dokter setelah mengungkapkan apa yang dia inginkan, dia melangkah menuju ruangan sang istri. Dan dimana Arjuna melihat sang Bunda berada di luar ruangan, tengah memainkan ponselnya. Sepertinya mengirim pesan, mengingat jemarinya bergerak begitu cepak.


“Kok Bunda diluar.”


“Ayah kamu mau ngomong sama Kirana katanya.”


Sontak mata Arjuna membulat, dia takut sang Ayah memberitahukan rencananya. Dia mengintip lewat kaca pintu, beruntungnya Arjuna melihat ekpresi keduanya menyiratkan tidak ada apa apa.


“Yang sopan kamu, masa ngintip sih. Bunda aja diluar. Duduk sini.”


Arjuna menghela napasnya. 


“Udah jangan galau. Insyallah kita bisa lewati ini kok, gimana keputusan kamu? Mau ngikut Kirana?”


Arjuna terdiam.


“Iya, Bunda paham kok kamu dilema, Bang. Bunda juga mau maksa Kirana buat kemo, tapi liat gimana dia nangis sambil ngusap perutnya. Mana tega kan?”


Bibir Arjuna bungkam, dia masih mencerna keadaannya sekarang. bayang bayang Kirana akan pergi membuatnya sesak, pusing dan ingin menangis saja. bagaimana bisa sosok itu pergi, sedangkan belum dia bahagiakan.


“Empat bulan lagi, Bang,” ucap Bunda Eliza menggenggam tangan sang putra. “Kirana melahirkan dan nanti akan mulai pengobatan. Bunda juga tadi ngobrol-ngobrol sama perawat, bayinya bisa keluar lebih cepat; tapi bukan premature. Dikasih rangsangan-rangsangan dan obat-obatan herbal, jadi gak terlalu lama nunggu.”


“Abang gak fikir Kirana bakalan kuat ngelahirin.”


Yang Arjuna lakukan saat ini adalah memijat keningnya sambil menunduk, merasakan usapan di punggungnya. 


Bagaimana melihat sang putra begitu rapuh, bunda Eliza jelas sedih, sesak melihat Arjuna yang baru saja berubah kini mendapatkan kenyataan pahit. “Sabar ya, Bang. Insyaallah kita temukan jalan keluarnya. Abang jangan khawatir, Bunda bakalan rawat Kirana kok.”


“Bun…. Gak papa pulang aja, biar Abang yang jagain Kirana. Kasian Ayah di rumah.”


Bunda Eliza seketika memukul punggung putranya.


BUK! “Gila kamu mau rawat sendiri, ya kamu harus kerjha dong, Bang. Cetak uang banyak banyak biar nanti Kirana bisa berobat.”


“Abang takut, Bun….”


“Gak papa, itu wajar.”


“Abang takut kalau Abang jauh sama Kirana, nanti Kirana pergi tanpa pamit.”


Sekita dua orang itu sedang bicara, Ayah Wigan keluar dari ruangan sang menantu. “Istri kamu nyariin.”


🌹🌹🌹🌹🌹


“Udah makan?” tanya Kirana pada sang suami yang tengah duduk di bibir ranjang, menghadap padanya dengan tangan yang saling bertautan.


“Kak?”

__ADS_1


“Hmm?”


“Udah makan?”


“Udah.”


“Kapan? Tadi siang?” tanya Kirana dengan kening berkerut. “Makan dulu, jangan gitu. Nanti kamu sakit siapa yang rawat aku?”


Arjuna terkekeh, dia mencium tangan sang istri. “Gak, aku gak akan sakit, Sayang. aku kuat buat kalian berdua.”


Tangan Kirana terulur menyentuh pipi sang suami, tatapan mereka bertemu. “Makan ya, Kirana nanti minta Kak Purwanti buat bawain makanan di rumah. Mau makan masakan aku?”


Arjuna menggeleng. “Udah, gini aja dulu.”


Sampai akhirnya keheningan melanda, mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Meratapi takdir yang begitu kejam. Bagaimana bisa mereka di dalam keadaan seperti ini. 


Arjuna yang paling menyesal, emosinya menumpuk di dadanya seolah ingin dikeluarkan dan menyalahkan semua orang. Tapi tidak bisa, ketika tangannya menyentuh perut Kirana, hatinya menghangat. Ada kehidupan di sana. Dia tidak boleh egois bukan?


“Nanti aku mau USG ya, biar tau bayinya cowok atau cewek,” ucap Arjuna.


Kirana mengangguk. “Iya, Kak.”


Ada kebahagiaan di hati Kirana, karena sebelumnya dia melihat Arjuna menatap perutnya dengan tatapan yang sangat kejam, seolah menyalahkan bayi di dalam sana.


“Adek pasti bahagia di sini, punya Papah yang sayang sama adek,” ucap Kirana mencoba menyatukan kembali hati sang suami dan buah hatinya. “Dia gak rewel kalau dielus Papahnya kayak gini.”


Arjuna tertawa, dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. “Maaf, Ran…”


“Kak…”


“Maaf,” ucapnya menunduk dengan air mata yang berjatuhan. “Maaf pernah mengatakan kalau kamu wanita murahan.”


Seketika Kirana menyibakan selimut, bergeser mendekat dan memeluk suaminya. “Nggak, Kak. Yang aku ingat kakak bilang kalau kakak sayang sama aku.”


“Maaf untuk pukulan yang aku berikan padamu.”


“Tidak, tidak, aku hanya mengingat pelukan yang kakak berikan.” Kirana ikut meneteskan air matanya merasakan bahu sang suami bergetar, menangis kencang dalam pelukannya.


“Maaf, telah membiarkan mata ini melihat dirimu yang menderita.”


“Tidak, Kak. Kakak melihatku dengan cinta, hanya itu yang aku tau.”


“Maaf, aku salah, aku menyesal membuatmu seperti ini.”


Kirana tidak dapat menahan isakannya, hatinya berdenyut sakit melihat sang suami yang menyalahkan dirinya sendiri. “Tidak, Kakak menjanjikanku syurga, Kakak adalah suami untuk Kirana dari Allah, suami yang membahagiakan Kirana, dan anak yang ada di kandungan Kirana.”


“Aku pecundang.”


“Tidak… hiks…. Berhenti mengatakan itu,…. Hiks… Kakak adalahh suami terbaik, kakak mencintaiku, kakak memperlakukanku dengan baik, kakak memelukku, menciumku, melindungiku. Tolong ingat… hiks,,, kalau dirimu adalah suami yang sangat baik. Jangan kembali pada masa lalu, jangan melihatnya, Kak.”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2