
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Ketika Arjuna kembali mendekati sang istri di gazebo, kening Arjuna berkerut bingung melihat ada pendatang baru di sana. Dimana Kirana terlihat duduk tidak nyaman disamping Eyang Damayanti, ditambah juga sosok perempuan yang tidak pernah membuat Eyang berhenti menjodohkannya dengan Arjuna.
Sampai Purwanti menyadari kedatangan Arjuna. "Tuh Abang, gak usah dicari. Udah ya gak usah nyari, Purwa mau jalan jalan dulu sama yang lain."Â
Sontak Eyang Damayanti menengok, mendapati sang cucu tampannya mendekat. "Eh, sini kamu. Ini ada Annisa yang mau ketemu sama kamu."
"Halo, Mas. Udah lama ya gak ketemu." gadis itu mengulurkan tangannya, yang dibalas secara singkat oleh Arjuna. "Gimana kabarnya, Mas? Katanya udah lulus ya sekarang?"
"Baik, iya udah lulus. Udah ketemu istri saya? Ini Kirana, sedang mengandung anak kami yang pertama," ucap Arjuna duduk di dekat istrinya dan merangkulnya. "Mau makan dimana, Sayang?"Â
"Arjuna, ini ada Annisa. Jangan mesra mesraan depan orang, gak sopan itu."
"Hehehe, maaf, Eyang. Abisnya Arjuna sayang banget sama Kirana. Mau makan dimana?" tanya Arjuna lagi yang memfokuskan pandangannya pada Kirana.
Bahkan pria itu tidak segan memberikan kecupan pada pipi sang istri. Eyang Damayanti terlihat geram, sementara Arjuna menyeringai merasakan dirinya menohok secara halus.
"Kak, sebentar. Itu mau ngomong dulu," ucap Kirana lembut, dia tidak pernah ingin meninggalkan kenangan negative pada sang suami.
Arjuna menghela nafasnya, menatap Annisa yang terlihat risih dengan pasangan mesra di depannya. "Kamu baru pulang? Rencana kerja di sini."
Bukan Annisa, tapi Eyang Damayanti yang menjawab. "Dia ditawari kerja di kementerian, tapi dia malah gak mau. Dia malah ngelamar ke kejaksaan. Hebat banget dia, mau jadi jaksa katanya. Menuntut orang yang bersalah. Hebat banget kan?"
"Subhanallah, hebat sekali kakaknya," ucap Kirana memuji dengan tulus.
"Terima kasih, kalau kakaknya itu kerja?"
"Nggak, saya di rumah."
"Iya, soalnya aku larang dia kerja," jawab Arjuna menimpali. "Takut gak kebagian jatah kalau dia kecapean."
"Arjuna," ucap Eyang damayanti dengan penuh penekanan.
Dan Arjuna tau tatapan itu. Dia mengelus punggung istrinya sebelum menatap Annisa. "Bisa tolong antarkan istri aku ke Bunda Liza?"
"Ngapain kamu nyuruh nyuruh Annisa."
"Bisa kok, gak papa, Eyang. Sekalian mau ngobrol, kita gak beda jauh kan umurnya? Ayok."
Kirana memandang sang suami dulu meminta izin kedua kalinya, dan Arjuna malah sengaja menaikan alisnya. "Kenapa? Mau di kiss dulu? Oh, yaudah sini," ucapnya memberikan kecupan di pipi.
"Arjuna, mesra mesraan ada tempatnya juga ya."
__ADS_1
"Udah sana," ucap Arjuna mengabaikan Eyang Damayanti.
Melihat Annisa yang memberikan respon positif terhadap istrinya, setidaknya membuat Arjuna yakin jika perempuan berilmu tinggi lebih tahu tata krama.
Dan di sana hanya meninggalkan Eyang Damayanti dan Arjuna.
"Kamu ini kenapa? Annisa itu suka sama kamu. Jangan bersikap dingin apalagi bermesraan dengan istri kamu di depannya."
"Eyang…," ucap Arjuna lembut, dia menggenggam tangan keriput itu.Â
"Kamu itu gak pantes sama dia. Pasti Ayah sama Bunda kamu yang nyuci otak kamu kan? Sampai kamu hamilin dia."
"Kirana memang wanita yang baik, Eyang."
"Baik dari mananya?"
"Dia baik. Akhlaknya, sikapnya, hatinya."
"Tapi dia gak pantes sama kamu."
"Berarti aku gak pantes untuk melihat?"
"Kamu ngomong apa?"
Arjuna tersenyum, dia membiarkan jemari tangan sang Eyang menyentuh matanya yang tertutup.
"Apa?" Eyang Damayanti terlihat terkejut.
"Eyang inget kan dulu Eyang nangis gara gara Arjuna gak bisa lihat lagi? Dan Papahnya Arjuna yang mengizinkan Arjuna melihat lagi, dimana beliau meninggalkan Kirana saat dia masih kecil. Jadi tolong, Eyang. Jika Eyang tidak bisa menyayanginya, maka jangan menambah luka di hatinya."
🌹🌹🌹🌹
"Bunda….," rengek Kirana karena terus diabaikan oleh sang mertua. "Denger kan Kirana bilang apa?"Â
Buda Eliza itu memalingkan wajahnya, enggan menatap Kirana. Mereka hanya berdua berada di meja makan di dapur, Annisa pergi bersama dengan Purwanti begitu selesai mengantarkannya.
"Bunda denger gak?"
"Kamu udah bilang?"
"Nanti di sana, insyaallah. Kalau udah deket mau lahiran."
"Ran!" Kali ini Bunda Eliza memandang Kirana tajam. "Arjuna harus tau, biar dia ikut cari obat buat kamu."
"Boleh gak? Kirana mau itu."
"Ya pergi aja, duit suami kamu kan banyak," ucap Bunda Eliza dengan suara ketusnya.
__ADS_1
Yang mana membuat Kirana mengerucutkan bibirnya, dia menghela nafasnya dalam. Argumen yang akan dikatakannya tertahan saat mendengar suara, "Rana? Kirana?!"
"Iya, Eyang. Kirana di sini."
"Diam kamu di sana!" teriak Eyang Damayanti yang membuat semua orang yang berada di sana terkejut.Â
Semua fokus mereka pada Eyang Damayanti yang berjalan bergegas mendekati Kirana dengan wajahnya yang terlihat marah.
"Kenapa, Bu?" tanya Bunda Eliza.
"Berani beraninya ya kamu, Kirana!"
"Kenapa, Eyang? Ada yang salah?" tanya Kirana lembut.
Saat dia hendak berdiri, Eyang Damayanti kembali membentak, "Diam di sana kamu!"
Suasana semakin tegang, mereka semua takut sesuatu terjadi pada Eyang Damayanti jika dia marah. Kesehatannya akan menurun.
"Ibu ada apa? Kita bisa bicarakan baik baik."
"Diam! Ibu ngomong sama Kirana. Berani sekali kamu ya!"
"Eyang tenang dulu, Kirana kenapa?" tanya Kirana.
Namun, begitu Kirana berdiri saat Eyang berada di depan matanya, bukan pukulan yang didapatkannya. Melainkan sebuah pelukan yang membuat semua orang langsung terheran heran. Apalagi ditambah dengan suara tangisan Eyang yang begitu keras.
"Eyang kenapa? Eyang sakit?"
"Maaf. Maaf. Maaf, Nak. Maafin Eyang. Ampun, Nak. Maaf," ucap Eyang Damayanti berulang ulang.
"Buat apa? Eyang gak punya salah sama Kirana. Udah jangan nangis, nanti Eyang capek," ucap Kirana khawatir.
Namun, Eyang Damayanti malah menangkup pipi Kirana. "Maafin, Eyang. Maaf ya, Nak."
Tatapan Eyang terlihat sendu.
"Iya, Kirana maafin. Udah Eyang tenang dulu, capek jangan nangis."
Eyang Damayanti menarik napasnya dalam, kemudian melihat ke sekeliling dimana anak cucunya tengah melihat ke arahnya. "Apa yang kalian lihat?! Lakukan sesuatu yang membuat Kirana senang!"
"Eyang…." Kirana merasa tidak nyaman.
"Udah ayo, Nak. Ke kamar Eyang, Eyang punya rahasia kecantikan biar Arjuna makin kesemsem sama kamu. Ayo ikut Eyang," ucap Eyang Damayanti menuntun Kirana berjalan bersamanya.
Sebelum menaiki tangga, Eyang kembali melihat sekelilingnya. "Awas kalau ada yang bikin gak nyaman Kirana! Eyang tebas kepala kalian!"
🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE