
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹Â
Arjuna menghentikan mobilnya di tempat parkir depan warung yang menjual molen.
“Iya, Bun. Bunda gak papa sama Eyang aja dulu, Abang di sini juga ambil cuti kok. Sekretaris Abang yang handle beberapa, kerja pokoknya dari rumah, kalau ada meeting juga di jam jam tertentu, gak usah harus ke kantor. Bunda juga jaga Ayah, bilang sama dia supaya gak kecapean, Yah.”
“Kamu juga jaga Kesehatan, Bang. Apalagi Kirana sekarang lagi bulannya. Kalau Eyang mendingan, Bunda pasti ke sana kok.”
“Santai aja, Bun. Ada bunda juga malah ganggu waktu aku berduaan sama Kirana.”
“Heh, anak durhaka.”
Arjuna malah tertawa mendengar penuturan ibunya. “Hahahaha, maaf sih. Udah ya, mau beli molen buat tuan putri. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” jawab Bunda Eliza menutup panggilan.
Arjuna segera turun dari mobil, matanya menyipit melihat sosok yang tidak asing. “Alex? Anjiing berapa lama lu gak ketemu gue? Udah punya kumis aja.”
“Bangssat, Arjuna,” ucapnya kemudian saling bersalaman ala pria. “Gue gak mau ganggu lu, jadi gak ngontak. Biar lu focus sama istri lu dulu.”
“Pengertian banget. Gue pikir lu ikut Merlinda.”
“Gak dapet cuy, dia gak mau sama gue.”
“Lha? Kenape?”
__ADS_1
“Gak tau, gua gak mau tau juga. Udah ajalah focus nyari duit daripada sakit ati.”
Arjuna malah tertawa. “Susul napa ke Amerika.”
“Boro boro nyusul, alamat barunya aja gak tau, gak ngasih tau.”
“Kasian banget lu anjiir.”
“Purwanti gimana?”
Seketika rahang Arjuna mengeras. “Ngapain lu nanya adik gue huh?”
“Dia masih pacarana sama Mario?””
“Maksud lu?”
🌹🌹🌹🌹🌹
“Purwanti, Allah selalu membuka pintu taubatnya, untuk hambanya yang bersungguh sungguh.”
Saat itulah air mata Purwanti jatuh, dia menangis tersedu sedu, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisannya begitu pilu. “Aku wanita yang berdosa, Mbak. Aku wanita berdosa, banyak sekali dosa yang aku lakukan. Masih mungkin Allah menerima taubatku?”
“Allah memaafkanmu, Purwa, Allah memaafkanmu, dia akan menerima taubatmu jika kamu bersungguh sungguh.”
“Tapi aku menjijikan, Mbak,” ucapnya mengusap kasar air matanya, mengingat perbuatan kejam apa saja yang telah dia lakukan. Tangisannya benar benar terdengar sangat pilu. “Aku makhluk yang pali menjijikan, Mbak.”
“Hei, tidak ada hamba Allah yang ingin bertobat yang menjijikan. Kamu enggak,” ucap Kirana mencoba menenangkan. “Kamu tau apa yang Allah katakan dalam al-Quran? Maka barangsiapa bertaubat setelah melakukan kedzaliman dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah yang mengatakannya sendiri, Purwanti.”
“Mbak….” Purwanti menarik napasnya dalam dan memandang Kirana dengan penuh rasa takut. “Aku hamil, anak Kak Mario.”
__ADS_1
Dan berbeda dengan apa yang Purwanti pikirkan, Kirana malah menggenggam tangan iparnya itu. “Mario tau?”
“Aku gak tau, Mbak. Aku udah kirim pesan berkali kali sama dia, tapi aku gak tau kalau pesan itu udah nyampe atau belum.”
“Tau dimana Mario?”
“Pindah ke Amerika, bersama keluarganya. Aku gak tau dimana alamatnya, jadi gak bisa susul”
“Lebih baik kamu bicara jujur dengan kedua orangtua kamu, Purwa. Biar kita bisa bantu cari.”
Purwanti menggeleng. “Aku takut ngerepotin, kan Eyang lagi sakit, Mbak lagi sakit, Bunda sama Ayah pasti bakalan stress karena sikap aku.” Dia menghela napasnya dalam. “Tapi aku mau berubah, Mbak.”Â
“Maka kalau kamu mau berubah, berubahlah sekarang. pintu maaf Allah terbuka lebar jika kamu bersungguh sungguh.”
“Apa Allah juga akan menerima anakku?”
“Hei, anak itu titipan, Purwanti. Bukankah akan lebih baik kalau kamu menyiapkan jalan yang baik untuk anakmu kelak?”
Purwanti mengangguk.Â
“Tapi kejujuran penting, kamu harus bilang.”
“Aku mau bilang, tapi Mbak…”
“Iya?”
“Bantu aku dulu ngomong sama Allah ya, aku malu, tolong bantu aku pake kerudung, bacaan shalat, dan semuanya.”
Kirana mengangguk. “Iya, Mbak bantu.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUEÂ