Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Senyuman Bidadari


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Bunda Eliza bergegas pergi ke Jakarta setelah  saudara suaminya datang dan akan menjaga Eyang Damayanti. Namun, saat diperjalanan Bunda Eliza mendengar kalau Kirana dibawa ke rumah sakit. Dia mengalami pendarahan, dan juga pingsan.


“Mas cepetan kenapa,” ucap Bunda Eliza pada sang suami.


“Sebentar, Bun. Ini juga udah cepet, kamunya jangan panik.”


“Gimana gak panik, anak kamu sekarang lagi sekarat. Duh Mas, gimana ini.”


“Mending telpon Bibi buat bawa barang barang ke rumah sakit, tadi Mas denger kalau pendarahan ini berpotensi Kirana akan melahirkan sekarang,” ucap sang suami yang menyadarkan Bunda Eliza. Dimana dia bergegas menelpon Bibi pembantu untuk membawakan barang barang ke rumah sakit.


“Udah ih, udah mereka bawa,” ucap Bunda Eliza Kembali focus pada jalanan.


Sang suami malah panik karena tingkah istrinya. Dan begitu sampai di rumah sakit, Bunda Eliza bergegas lebih dulu untuk menuju ruangan persalinan VVIP di lantai atas. Yang mana Kirana berada di san. 


Begitu memasuki lorongnya, Bunda Eliza melihat Purwanti dan Bibi pembantu berada di luar. “Purwa, gimana keadaannya? Udah sadar?”


“Udah, Bun. Katanya melahirkan sekarang, tinggal nunggu ketubannya pecah,” jelas Purwanti.


Membuat Bunda Eliza bergegas masuk ke ruang persalinan, dimana Kirana sudah dipasangi berbagai macam alat bertahan hidup. Monitor jantung, dan benda benda yang tidak Bunda Eliza kenali.

__ADS_1


“Bunda…,” ucap Kirana lirih begitu melihat sang Bunda. 


“Ran, kamu pasti bisa.” Bunda Eliza berada di sisi berlawanan dengan Arjuna yang terus menunduk mencium tangan sang istri. “Sakit?”


“Dikit kok, Bun.”


“Bang, coba rangsang biar ketubannya pecah.”


Arjuna malah menggeleng, selama hidupnya dia mengulur hari ini tiba. Enggan melihat sang istri mengalami hari ini. 


“Bang. Kasian Kirananya kesakitan, kamu harus rangsang biar ketubannya pecah.”


“Kirana belum punya tenaga lebih, Bun.”


“Terus? Kamu mau liat Kirana gini terus?”


Yang mana membuat Bunda Eliza kesal, dia menatap sang putra yang malah menatap lirih pada istrinya. “Bang, kamu ulur juga hal ini akan terjadi.”


Dan saat itulah, Kirana merasakan sesuatu yang basah. “Bunda…”


“Hmmm? Ya allah! Sus, ketubannya pecah,” ucap Bunda Eliza pada sang suster yang berada di ruangan itu.


🌹🌹🌹🌹


Arjuna menggenggam sang istri selama proses persalinan, menatap bagaimana tubuh kurusnya mencoba mengeluarkan sang anak dari dalam sana. Bibirnya pucat, wajahnya terlihat Lelah, tapi tidak berhenti berusaha.

__ADS_1


“Sedikit lagi, Buk. Kepalanya sudah terlihat,” ucap sang wanita paruh baya; dokter yag menangani.


“Sayang ayo, kamu mau lihat anak kita lahir ‘kan? Sedikit lagi sayang, ayo.”


Hanya Arjuna yang menemani Kirana di sana, menggenggam tangan sang istri sembari menolong dengan memanjatkan doa, seperti mereka yang menunggu di luar sana.


Rintihan kesakitan, tetesan air mata memperlihatkan jelas bagaimana istrinya benar benar berjuang untuk sang anak. mempertaruhkan nyawa untuk anaknya sendiri, Kirana membuat Arjuna yang menunduk mencium tangannya itu menangis. hanya penyesalan, karena kesakitanlah yang banyak Arjuna berikan pada Kirana. “Sedikit lagi, Sayang. bertahan sedikit lagi, anak kita akan melihat dunia.”


Kirana menarik napasnya dalam, dia Kembali menggunakan sisa tenaga demi sang buah hati.


“Satu kali lagi, Bu, bahunya mulai keluar.”


Dan saat itulah Kirana merasakan sang suami mengsap keningnya, menciumnya berulang kali sambil membisikan ayat ayat al-Quran yang terdengar begitu merdu. Kirana memejamkan matanya sesaat, merasakan kekuatan dari sang suami. sebelum akhirnya dia Kembali mengejan untuk sang buah hati.


Hingga akhirnya… “Oeeekkk…. Oekkkk…..” suara tangisan bayi menggema memenuhi ruangan itu.


Semua orang bersuka cita, memanjatkan syukur dengan senyuman Bahagia. Bahkan Arjuna melihat jelas, bagaimana Kirana yang tersenyum sambil meneteskan air matanya tatkala sang anak sedang diperiksa dokter.


“Sayang, kamu berhasil. Kamu hebat, Ran,” begitu ucap Arjuna sambil menciumi kening sang istri. 


Sampai kebahagiaan itu tidak bertahan lama, tatkala sang bidadari yang kelelahan mulai memejamkan matanya, disusul oleh suara monitor jantung yang melengking.


Garis satu.


Jantung itu tidak lagi berdetak.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2